Sebuah Kedai Di Tepi Jurang

rakyatpunyacerita

Kehidupan cantik karena arak dan puisi, diucapkan di depan pemandangan terindah.

Tak tahu mana lebih baik bagi kehidupan ini, penyair mabuk atau pendekar bermandi darah.

—Pendekar Tanpa Nama—

di antara bunga-bunga kau sendirian bersama guci anggurku minum sendirian, dan mengangkat cawan kuajak rembulan minum bersamaku,

bayangannya dan bayanganku berada di dalam cawan anggur, hanya kami bertiga, lantas aku mengeluh bagi rembulan yang tak bisa minum,

dan bayanganku yang mengosong bersamaku yang tak pernah ngomong: tanpa kawan lain, aku bisa ditemani yang dua ini;

dalam saat-saat membahagiakan, akupun mesti bahagia dengan segalanya disekitarku;aku duduk dan bernyanyi dan seperti rembulan menemaniku;

tetapi jika aku menari, adalah bayanganku menari bersamaku; sementara belum mabuk, aku senang membuat bulan dan bayanganku menjadi kawan, tetapi lantas ketika aku mabuk,

kami semua berpisah; betapapun merekalah kawan-kawan yang selalu bisa kuandalkan yang tak akan marah apapun yang terjadi;

kuharap suatu hari kami bertiga akan berjumpa lagi di kedalaman Bima Sakti.

Sumber Buku: Nagabumi II

Pengarang : seno gumira ajidarma

Foto:[fiq/rid]

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *