ALEXANDER

[ 79 ]
Demosthenes melecehkannya: “anak ini menginginkan altar. ya, sebegitulah yang akan kita berikan kepadanya.”
anak itu adalah Alexander Agung. ia mengklaim keturunan Heracles and Achilles. ia menyebut dirinya “dewa tak terkalahkan.” ketika itu ia telah terluka delapan kali dan masih sedang lanjut menaklukkan dunia. 


Ia mulai dengan menobatkan dirinya raja Makedonia, setelah membunuh semua sanak keluarganya. begitu besar keinginannya menjadi maharaja, ia menghabiskan tahun2 dalam hidupnya yang pendek berperang tanpa henti.


Kuda hitamnya lebih cepat dari angin. ia selalu menyerang lebih dulu, dengan pedang terhunus di tangan, jambul bulu putih di kepala, seolah setiap pertempuran adalah urusan pribadi:


“Saya tidak akan mencuri kemenangan,” ujarnya.
alangkah selalu ia mengingat ajaran Aristoteles, gurunya:“umat manusia terbagi menjadi yang terlahir berkuasa dan yang terlahir dikuasai.” 


Dengan tangan besi, ia memadamkan pemberontakan dan menyalib atau merajam mereka yang melawan, tetapi ia juga penakluk yang tidak lazim yang bahkan senang mempelajari adat istiadat taklukannya. maharaja itu menyerbu daratan dan lautan dari Balkan sampai India lewat Persia dan Mesir dan wilayah di antara keduanya, dan di manapun berada ia selalu menebar perkawinan. idenya yang cerdas menikahkan serdadu2 Yunani dengan perempuan2 setempat menjadi berita tidak menyenangkan bagi Athena, yang sangat keras menolak, tetapi langkah itu mengokohkan wibawa Alexander dan kekuasaannya di seantero peta baru dunia yang diciptakannya.


Hephaestion selalu bersamanya dalam peperangan dan pengembaraannya. ia adalah tangan kanan di medan perang dan kekasih di malam2 kemenangannya. dengan ribuan kuda tak terkalahkan, tombak panjang, anak panah berapi, dan Hephaestian di sisinya, Alexander mendirikan tujuh kota, tujuh Alexandria, dan ia seakan tak terbendung.


Ketika Hephaestion meninggal, Alexander sendirian meminum anggur yang biasa ia minum berdua. saat fajar, sepenuhnya mabuk, ia memerintahkan pembuatan api unggun sangat besar, nyalanya membakar langit, dan ia melarang musik di seluruh wilyah imperiumnya.


Tidak lama kemudian, ia meninggal di usia tigapuluh tiga tahun, sebelum berhasil menyelesaikan penaklukan atas seluruh kerajaan di dunia. 

Sumber Buku: Mirrors

Pengarang: Eduardo Galeano

Penerjemah: wardah hafidz

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *