Apakah “Ibukota” Baru Hanya Cerita?

anekacerita/rakyatpunyacerita

Melihat, mendengar, menyimak, hal apa saja yang mereka bicarakan di depan layar kaca, membuat bibir ini tersenyum, otak berpikir sejenak, bersuara bertanya, optimis untuk sesuatu hal baru. Banyak orang ikut hadir, berbicara, menolak, bersependapat, berargumentasi dan juga bernyanyi lagu Jakarta sebagai Ibukota, tetapi saya yakin suatu saat pasti akan berubah Ibukotanya.

Dari pengamat, ahli tata kota, budayawan, milenial pun hadir untuk melakukan diskusi, juga para tokoh besar bangsa. Sangat menarik bagi saya mengikuti acara diskusi tersebut, walaupun saya melihat ada beberapa hal yang kurang menarik untuk di publikasikan ketika beberapa orang hanya bersikap mengeluh tanpa sebab ataupun mengeluarkan kritik tetapi tidak memperlihatkan aksi untuk perubahan. Apakah merasa nyaman dengan kondisi anda sekarang ini di Jakarta?

Apalagi yang anda tidak mengerti tentang perpindahan suatu Ibukota menuju tempat barunya, walaupun banyak sekali hal yang harus dilakukan, jawabannya adalah harus dilakukan agar tidak malas untuk menjadi bangsa. Jangan samakan Ibukota saat ini dengan negara Ibukota negara lainnya, jelas sangat berbeda dari sudut pandang, pikir, tingkahlaku serta juga warga negaranya. Bagaimana wujud karakter manusia di Jakarta dalam kebiasaan sehari-harinya dalam merajut Ibukota?

Sudah berapa lama Jakarta menjadi Ibukota, berapa banyak perubahan hebat, berapa banyak inovasi untuk mempengaruhi kemajuan bagi daerah lainnya, berapa banyak nilai pendapatan yang berhasil diserap untuk negeri, berapa banyak kemajuan teknologi, berapa banyak kehebatan dalam bermimpi untuk mewujudkan kota terbaik di dunia. Itu merupakan pertanyaan, pekerjaan rumah bagi para pengguasa agar segera bersikap, sudah waktunya bergerak dalam pekerjaan, berlari dalam investasi, bertempur dalam persaingan antar bangsa. Kalau saat ini, apa saja yang dilakukan penguasa untuk sebuah nilai kemajuan, kebijakan serta kemanusiaan?

Kalau memang negeri ini dipimpin oleh seorang Presiden terpilih rakyatnya, sebaiknya penguasa-penguasa lainnya siap-siap bergegas untuk mendorong semua ide, kebijakan, pilihan, peraturan, percepatan serta kerjasama. Boleh-boleh saja untuk tidak suka dengan semua program terencana, tetapi juga harus cerdas memberikan solusi bangsa, agar bisa dilakukan perbaikan agar menguntungkan generasi selanjutnya. Umur sudah tidak lagi muda, tidak perlu menguasai kepentingan yang nantinya tidak bermanfaat bagi seluruh bangsa.

Angkat tangan, gerakan kaki untuk melangkah, simpan baik-baik egoisme, buang jauh sifat munafik, tinggalkan gaya bully feodalisme, tahan hawa nafsu korupsi, berpikir adil untuk tidak nepotisme, bekerja keras, berlaku mengikuti aturan bersama. Masih banyak tugas untuk memperbaiki kemajuan bangsa, agar kelak dirasakan oleh pewaris-pewaris negeri. Sampai kapan kita hidup sebagai bangsa dengan gaya hidup palsu, karena tidak ada pemerataan pendidikan, ekonomi, cara melihat, cara bertindak serta ketimpangan infrastruktur?

Kalau perpindahan Ibukota hanya menjadi wacana lagi, cukuplah sudah berbicara tentang perubahan gaya kehidupan, biarlah semua mengambil pikirannya masing-masing untuk menjalani kesuksesan semu hari ini. Sudah banyak energi dan waktu terbuang membicarakan pepesan kosong. Harapan bangsa itu ada“rendah gunung tinggi harapan”, karena masih merasa menjadi warga negara, entah sampai kapan, mungkin esok hari. Hidup masih terus berlanjut selama hayat dikandung badan, jangan terlalu berharap kepada manusia. Ayo kita kembali bekerja, ayo kembali berkarya untuk kenangan cerita. Jangan sampai kita rugi menjadi seorang yang berbangsa dan bernegara,“harapan tak putus sampai jerat tersentak rantus” [fiq/rid]

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *