Candi Belahan Di Pasuruan

 

 SatuSuro, aku mengunjungi Candi Belahan atau yang lebih dikenal dengan Candi Tetek. Candi ini terletak di sisi timur Gunung Penanggungan, tepatnya di Dusun Belahan Jowo, Wonosunyo, Kecamatan Gempol, Pasuruan. Untuk yang tertarik membacanya lebih jauh, anda dapat klik disini https://id.wikipedia.org/wiki/Candi_Belahan
Tempat ini masih dikeramatkan oleh warga. Ketika malam Suro tiba, tempat ini selalu ramai dikunjungi warga, ada yang melakukan ritual membersihkan diri ataupun membersihkan benda-benda pusaka milik mereka. Dalam tradisi Satu Suro di berbagai daerah di Indonesia masih mensakralkannya dengan cara yang berbeda-beda, tergantung daerah mana berasal serta pengertiannya.
Tepat ditanggal Satu Suro  aku berkunjung, masih ada beberapa orang sedang duduk tenang, lalu berdoa, lantas membakar dupa. Lalu setelah itu, dia melakukan ritual mandi di pemandian Candi Belahan. Bau aroma dupa menyengat dimana-mana, menyesak ke ruang semesta. Entah apa yang mereka doakan, jelas aku tidak tahu dan tidak mau tahu. Apa sih jelasnya pengertian dengan malam Satu Suro ? Dalam sumber  https://id.wikipedia.org/wiki/Satu_Suro
Mereka sangat khusyuk memanjatkan doa, tanpa peduli di tempat itu ramai dan banyak orang. Berbaur bersama banyak anak-anak kecil yang selalu asik bermain air.Menurut sejarah, selain sebagai tempat pertapaan Prabu Airlangga, petirtaan ini juga difungsikan sebagai pemandian selir-selir Prabu  Airlangga. Oleh karena itu, sebagai bentuk pengabdian dibangunlah 2 patung permaisuri Prabu Airlangga, yaitu Dewi Laksmi dan Dewi Sri. Pada dua patung tersebut, mengalir aliran air dari bentuk payudara patung, dan karenanya petirtaan ini terkadang di sebut sebagai Sumber Tetek.
Arca keduanya melambangkan kesuburan. Konon, kolam ini adalah tempat mandi para istri dan selir Prabu Airlangga. Bagian puting arca Dewi Laksmi sempat diperbaiki, karena awalnya air yang keluar hanya jatuh di kakinya. Dikhawatirkan hal ini bisa merusak kaki patung, maka pengelola candi berinisiatif untuk memasang pipa di bagian dada tersebut agar airnya langsung meluncur ke kolam.
Air keluar dari patung Dewi Laksmi. Selain itu, dari dinding-dindingnya juga mengeluarkan air yang menetes. Jumlah air yang ada di kolam pemandian, jumlahnya sama. Padahal waktu itu air sangat banyak diambil untuk kepentingan warga sekitar memperbaiki jalan. Air diambil bergalon-galon dan diusung menggunakan mobil bak terbuka. Dalam pikiran mulai bertanya, untuk apa mereka bawa air pemandian ?
Penulis : Anisfa/rid
0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *