Desa Melawan Tambang

Sumber Foto: Pixabay.com

Kekuatan desa terletak kepada masyarakat, lingkungan, program, karakter perilaku dan ekonomi. Banyak desa khususnya di Pulau Jawa, sudah dapat mengembangkan keadaan desanya sendiri, tetapi kemudian hilang begitu saja dalam peta geografis karena adanya kegiatan perusakan lingkungan besar-besaran.

Apakah anda tahu kegiatan tersebut?.

Menggunakan alat-alat besar untuk menggali tanah?

Memakai alat ledak agar dapat mengelurkan mineral dalam tanah?.

Mungkinkah hal tersebut termasuk kegiatan pertambangan?.

Berpikir dengan segala macam permasalahan, dengan segenap solusi desa mandiri, sebenarnya sudah dapat dikatakan berhasil. Tetapi kenapa, ketika seluruh desa mulai bergerak mengikuti program, kesadaran, kemajuan, tetapi tetap saja ada masalah, yaitu bernama pertambangan, langkahnya begitu cepat berlari diantara lingkungan hidup dan cepat bersembunyi bagi para penghuni desa. Kesadaran baru saja beranjak, tadinya hanya bisa duduk dan sekarang harus mengangkat tangannya mengajukan protes karena terganggu dengan aktivitas tambang.

Bandingkan dengan permasalahan terkini, desas desus, hingga mulai diselidiki terkait desa abu-abu memenuhi segala macam issue media, anggaran, tertulis, terdata, terbukti mempunyai sistem mengakali yang sangat cerdas, terprogram, telah berhasil terungkap secara gamblang bahwa hal tersebut memang ada. Manakah hal lebih penting untuk dikenalkan kepada dunia, desa yang sudah berjalan sendiri menjaga lingkungannya atau mengembangkan desa abu-abu.

Pertanyaannya, manusia desa seperti apa yang paling penting dimata pemerintahan?. Ketika desa-desa bergerak melawan pertambangan karena ingin mellindungi lingkungannya agar kelak dapat memenuhi kebutuhan hidup serta membuka peluang baru bagi alam mereka tempat tinggal. Tetapi nyatanya mereka membuat titik-titik noda luka bagi para penduduk desa.

Tidak hanya unsur kebudayaan, simbol, serta kearifan lokal, akan kehilangan sihirnya di dalam desa, karena sektor pertambangan sudah semakin berani, menginjakan kakinya hingga ratusan kilometer kedalam tanah. Apa yang ada dalam benak para investor pertambangan, ketika uang mereka sudah banyak jumlahnya, hampir tidak terhitung, tetapi memberikan warisan kehancuran lingkungan bagi para mahluk hidup lainnya.

Bertahan hidup di desa sangatlah penting, berdampingan dengan semua elemen lingkungannya. Tanpa adanya racun, penggalian, abu, lubang-lubang merkuri. Untuk menghilangkan desa abu-abu menurut saya mudah saja, tampilkan desa-desa seluruh bangsa untuk memberikan, mempertunjukan, membagikan keistimewaannya, edukasi, tanggung jawabnya, kepada para pemirsa di rumah, agar merasa merasa ikut dihargai untuk bertanggung jawab merawat lingkungan desa. Agar nama desa, hutan , sungai, gunung tidak menjadi nama, kelak akan di museumkan, lalu kita hanya lihat secuil replika benda mati , nantinya pada suatu saat di rindukan oleh para generasi berikutnya, manusia 4.0.

[fiq/rid]

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *