Ibu Gedong Bagoes Oka, Gusmiati Suid, Herawati Latip, Josephine Werratie Komara

 

Qoutes Tokoh Perempuan : Ibu Gedong Bagoes Oka

“Jangan berlebihan-lebihanlah, saya bukan tokoh, saya cuma seorang yang sepanjang hidup rasanya tak pernah berhenti dari usaha mencari jatidiri”.

“Saya tahu siapa saya. Kelemahan dan kekuatan saya. Yang saya kerjakan dalam hidup adalah sesuai dengan apa yang saya yakini. iNi menyebabkan saya mempunyai semangat untuk terus melangkah, hiburan dan deraan adalah bagian dari hidup”.

“Saya suka melihat langit dan laut, saya menyaksikan keagungan Tuhan dan alam, sekaligus kekerdilan diri. Hidup ini penuh dengan untaian pengalaman yang membuat kita menjadi manusia. Manusia yang mempunyai tujuan akhir dari perjalanan yang amat panjang, berputar dan menuju moksa”.

“Generations to come, it may be, will scarce believe that such a one as this ever in flesh and blood walked upon this earth”. Gandhi dan Einstein, mereka berdua telah menandai tugas kemanusiaan mereka masing-masing”.

 

 

Qoutes Tokoh Perempuan : Gusmiati Suid

“Kalaupun kita lapar di perut hendaknya jangan sampai lapar di rohani juga. Selain itu, saya seniman. Kepedulian saya terhadap kenyataan, saya ungkapkan lewat demonstrasi misalnya, tetapi melalui karya”.

“Karya saya memang tidak pernah benar-benar selesai”,karena ia memang selalu membuat peluang untuk mengubah dan menyempurnakan.

 

 

Qoutes Tokoh Perempuan: Herawati Latip

“Sejak semula saya memang sudah tertarik kepada masyarakat. Saya suka manusia”.

“Sebagai wartawan, kita bisa bergaul leluasa dengan segala lapisan masyarakat, mulai dari yang terbawah sampai yang teratas”.

“Oleh Tuhan, saya dikaruniai kesehatan mantap dan harta yang cukup. Saya akan merasa berdosa apabila saya dengan itu tidak berbuat sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat”.

“Saya lakukansemua kegiatan sudah cukup lama, tetapi tidak usah ngoyo. Saya usahakan melakukannya dengan santai;segala sesuatunya yang bermanfaat bagi masyarakat dan bagi agama”.

Qoutes Tokoh Perempuan : Josephine Werrattie Komara

“Dari masa lalu, pada masa kini, untuk melangkah ke depan, demi kebaikan sesama”.

“Saya paling mudah merasa dekat dengan kain, merasa kenal. Setiap lembar kain menggambarkan ritus proses penciptaannya”.

“Mengapa kain-kain tua bisa begitu indah, bisa langsung masuk ke hati”.

“Mengapa tidak ada kain-kain baru yang seindah kain-kain tua”.

“Cukup bagus saja tidak cukup, itu haruslah sangat bagus”.

“Refensi kami tidak selalu dari masa lalu, meskipun kain-kain tua itu yang selalu membangkitkan semangat belajar supaya setiap kali semakin baik dalam pendekatan maupun cara berpikir tentang kain yang kebanyakan aspeknya menyangkut manusia. Pekerjanya, pemakainya, cara hidup yang bukan Cuma gaya hidup”.

“Membuat kain adalah suatu impian buat saya. Siapa sangka akan menjadi seperti ini. Seorang teman pernah bertanya, bila saya tidak sukses apakah saya akan terus membuat kain?”, saya katakan sejak awal saya tidak pernah berpikir menjadi sukses”.

“Saya tidak pernah bercita-cita menjadi orang hebat, orang sukses. Hidup saya mengalir dan saya menjalaninya setiap hari. Setiap pagi bangun tidur, saya menyatukan apa yang dikerjakan kemarin, berpikir untuk mau ke depan”.

“Semua selangkah demi selangkah. Tidak bisa orang menjadi sesuatu dalam waktu satu malam”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Translate »