Obrol Pagi, Ketupat Sayur & Kebangsaan

 

 

Ketupat sayur makanan tradisional masyarakat Indonesia, biasanya menjadi sangat spesial apabila telah datangnya hari raya. Semua jenis lontong sayur (lonsay) dari beraneka  daerah akan memenuhi meja makan keluarga. Dari jenis lontongnya saja sudah berbeda, ada yang menggunakan daun pisang dan juga ada yang menggunakan plastik organik, bisa pesan lalu juga bisa beli di Supermarket. Tahukah anda, bahwa kata lontong itu berasal dari bahasa Jawa,”Olone dadi kothong”, dalam pengertian bahasa Indonesia yaitu, “Kejelekannya sudah tidak ada lagi atau hilang,”.

Lontong sayur dari adat daerah mana yang anda sukai ?

Apa saja yang anda bicarakan ketika makan lontong sayur di pasar ataupun di pinggir jalan ?

Obrol-obrol digerobak lontong sayur tepi jalan, saya pikir lebih menyenangkan daripada  pesan melalui pelayanan online ataupun makan di restoran mahal. Awal perjalanan mencari bubur ayam, tapi naluri pagi hari langsung saja duduk di bangku pedagang LonSay tepi jalan.

Lontong Sayur pak !,pintaku

Mau pakai telur atau tahu ?, tanyanya

Berapa harganya pak !, tanyaku

Dua belas ribu rupiah!, jawabnya

Mau Pak, lontong sayur lengkap ! pintaku,

Bapak setengah baya, penjual lonsay memegang koran harian, di bacanya dengan baik penuh ketelitian, semua wacana tak terlewati penuh komentar, dari ulama, artis, etnis, calon pemimpin negeri, sampai teks proklamasi.

“Kenapa ada ustad tidak mengerti tentang isi materi dakwah, kok selalu saja tidak mengikuti aturan yang ada, jangan – jangan ditunggangi oleh HTI !”.  Sedikit-dikit protes, demo besar-besaran, bilangnya di buly tidak boleh dakwah, apakah benar dalam ajaran untuk berdemo,” ungkapnya lalu saya tertawa besar berpikir kaget bukan kepalang.

Apakah saya berada dalam frekuensi yang sama dengan Bapak pedagang Lonsay ?

+Pak, apakah semua penjual LonSay seperti ini percakapan pagi hari ?

*Iya Mas, semuanya sama, bicarakan dengan berani kalau memang benar adanya, gak perlu takut !

Dalam pikir sambil mengunyah lonsay, tidak ada yang salah dengan sarapan pagi ini,semua rasa, komposisi makanan, cocok tidak ada komentar lagi. Enak dan berkualitas, sambil lalu kemudian ada pasangan juga yang beli dua lonsay serta nasi uduk untuk di bawa ke kantor, tepat sudah!.

+Bagaimana dengan provokator yang ingin menghancurkan negeri pak ?

-Lawan saya terlebih dahulu, saya akan maju,tidak tinggal diam melihat hal tersebut!

-Saya sempat bertanya kepada minoritas apabila terjadi kekacauan, apa yang akan mereka lakukan ?

Lalu dengan sendirinya Bapak penjual Lonsay ini berbicara lantang.

“Tanpa menunggu jawaban dari mereka semuanya, saya lantas menjawab, jangan pernah kalian menjadi penghianat,  kalian makan, tidur , cari rejeki dan berak di negeri ini. Kalian tidak boleh pergi menghindar lalu sembunyi. Tunjukkan jiwa patriot, kita bersama melawan mereka, tunjukkan kebenaran. Kalau anda pengecut dan lari, tidak usah kembali lagi!”.

Terkejut saya mendapatkan jawaban singkat pak, begitu tepat, lugas, berjiwa patriot dan menjaga persatuan.

+Menurut Bapak, bagaimana idealnya sebuah bangsa

-Ya, Seperti sekarang ini. Bangsa kita sudah menjadi bangsa yang ideal sebagaimana mestinya

-Masih ingat dengan teks kemerdekaan, itu sudah merupakan amanat yang harus kita jaga selamanya. Dengan kalimat pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, ini merupakan bentuk kesatuan dari semua umat beragama di Indonesia menyatakan kemerdekaannya.

Lalu bagaimana saat ini keadaanya, apakah lebih parah dari suasana tahun-tahun sebelumnya, ia saat ini keadaan sepeti hoak, intoleransi semakin tajam, tetapi hanya ramai di media-media saja, kalau tidak sudah terjadi perang saudara. Lalu asalnya kelak akan terjadi perang saudara itu darimana, ya dari media terlebih dahulu.

Bagimana caranya mencegah hal tersebut, media-media harus kuat,berani, bersatu dan segera memberitakan hal-hal positif dalam kehidupan bermasyarakat.

Kenapa sekarang ini sebagian orang  menjadi radikal, intoleransi, karena sekarang mereka sudah kehilangan jati diri. Kehilangan jati diri daerahnya, waktu dia lahir, mereka harus kembali lagi ke jiwa daerahnya.

Kita harus bersyukur dengan perbedaan, karena Allah SWT memberikan hal tersebut kepada bangsa Indonesia, gak usah bangga dengan bangsa Arab. Bagi umat Islam, harus senang karena keturunan Kajeng Nabi Muhammad SAW. Jangan pernah kita memojokan agama lainnya, mari kembali lagi melihat kebelakang sejarah, bagaimana umat Islam dibantu oleh agama lainnya dalam bertoleransi agama.

Di kampung saya, dana desa sudah berjalan dengan baik, rumah-rumah kayu yang sudah tidak layak, sekarang sudah dibangun kembali, menjadi lebih layak. Saya sangat senang melihatnya dan merasa terharu. Semua sudah tercukupi dengan baik. Saya tidak dapat kebagian dana desa, tetapi saya sangat senang dengan kejadian tersebut, apakah orang-orang beriman akan bergetar hatinya apabila melihat sesuatu kebaikan ?, saya tidak iri hati dengan tetangga saya, tetapi saya ikut senang dan berdoa atas pembangunan tersebut.

Berapa banyak kejadian seperti ini pak, makan lontong sayur mendapatkan diskusi positif untuk kebangsaan ? Terlintas tawa ,lalu dia menjawab Masih banyak tempat, akan berbicara baik tentang bangsa dan kemakmuran. Banyak sekali saya bertemu dengan pejabat-pejabat yang masih baik dalam bersikap. [fiq/rid]

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *