Pendukung Politik, Arahmu?

Anekacerita/rakyatpunyacerita

Mengerikan tanpa perubahan, katanya perjalanan proses berpolitik tetapi hanya pemanis lipstik belaka. Tak jadi untuk optimis apabila karakter sudah terbentuk miris. Empat puluh delapan tahun, bentuk karikatur politik, sempurna dikatakan matang, kuat, strategis dan menjadi contoh generasi. Tetapi apa yang terjadi setelah tujuh puluh empat tahun kemudian. Serasa ingin membangunkan pahlawan dari tidurnya, lalu melaporkan situasi terkini, hot news istilah berita- berita premium jaman ini.

Ketika Indonesianis terkemuka George Mc Turnan Kahin dalam bukunya Nationalism and Revolution in Indonesia pada tahun 1952 menyebutkan hambatan terbesar bagi demokrasi di Indonesia. Menurut saya kenyataannya di tahun 2019 tidak banyak berubah, semua proses dari pemilihan kepala daerah, pemecahan masalah, pemilihan presiden dan wakil presiden menjadi topik yang menarik untuk di lukiskan, di imajinasikan, di suarakan dalam suatu gambar, catatan sejarah.

Apakah kita sebagai bangsa dan bernegara tidak cukup lama untuk berproses mencari bentuk demokrasi terbaik?

Bagaimana cara yang tepat agar kita semuanya dapat duduk bersama, mengembangkan pola kebangsaan, mengolah kekayaan bangsa menjadi berguna untuk semua warga negara?

Siapa yang paling berperan dalam perubahan cepat berdemokrasi?

Kaget membaca, membayangkan, mencoba berpikir tentang keadaan demokrasi 1952, 2000, 2019 sungguh perjalanan bersuara, berpendapat yang sangat keren apabila gaya politik sudah ditentukan lalu dipatuhi secara psikologis oleh setiap tanggung jawab untuk berpolitik. Tidak perlu kekerasan, perbuatan tercela, kebohongan serta janji-janji manis. kemenangan itu adalah perwujudan dari perencanaan program kemajuan. Kekalahan merupakan tolak persaingan keseimbangan pandangan dalam bersikap.

Sampai saat ini, kita masih terjebak, terpikir, terciduk dengan siapa yang menjadi pemimpin negeri, pada paham politik elitis.

Selalu mempertanyakan bagaimana cara bekerjanya?.

Mempertanyakan kembali bagaimana keadaan sosialnya?

Mempertimbangkan lagi dengan latar belakang SARA?.

Mencari cara untuk menjatuhkannya karena tidak suka dengan pemimpinnya?

Sedih mengetiknya, hampir tidak percaya dengan keadaan ingatan politik seperti ini. Ingin rasanya menemukan kembali bentuk partisipasi pengikut yang cerdas dan bertanggung jawab terhadap masa depan bangsa.

Apakah kita sebagai pengikut, massa, simpatisan sudah mempunyai karakter politik sebagai pengikut pemimpin eleties ini?.

Bagaimana karakter pendukung partai politik, pendukung pemimpin politik dalam bersikap menentukan, memilih, memperbandingakan serta bersikap dalam kehidupan berpolitiknya setiap hari?.

Semoga saja psikologis para pendukung politik tetap waras, sehat selalu dengan banyak-banyak olahraga, membaca buku-buku pembanding, bermain game walaupun sebentar, diskusi dengan para pengikut-pengikut lainnya. Karena tidak mungkin perkembangan demokrasi ini tanpa peran serta para pengikut yang loyal mengisi wacana-wacana kemajuan. Sehat selalu dan tersenyum pada dunia, bahwa pengikut adalah pemuja kemajuan, kemanusiaan serta keharmonisan dalam bernegara serta ritme irama kemajemukan. [fiq/rid]

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *