Rebut Kursi Penguasa

anekacerita/rakyatpunyacerita

Dalam minggu ini, terlihat gedung besar tempatnya pejabat-pejabat negeri berkuasa di penuhi oleh berbagai macam karakter manusia untuk menentukan sikap serta nasibnya, tidak terkecuali. Semuanya ingin menyampaikan hak serta keinginannya bagi masa depan, entah diterima ataupun tidak, penggorbanan waktu di tengah cuaca panas. Hal terpenting adalah menyuarakan, merupakan bentuk terbaik untuk di dengarkan. Tetapi hal tersebut menurut saya naif, ketika mereka meminta hak suara pemilih kepada kita, ternyata sekarang mereka juga asik membuat batas kedap suara kepada pemilihnya. Sepert dalam peribahasa” awak yang payah membelah ruyung, orang lain yang memperoleh sagunya”.

Pembagian warisan kekuasaan menjadi tontonan para rakyatnya, duduk melonggo di atas meja makan, menatap gadget sambil tiduran, membaca koran di warung-warung pinggir jalan. Kami semua tertawa, saling berceloteh para ruang gila, mau mencubit pipi dan bilang ini mimpi,”hussshh ini bukan mimpi, inilah drama kekuasaan suasana seluruh negeri”. Bekerjalah yang baik dan benar, semuanya dimulai dari kemauan berbuat baik, “bagaimana bunyi gendang, begitulah bunyi tarinya”

Perilaku partai serta politikus, membidik tepat sasaran agar dapat kursi empuk, sedikit masalah tetapi banyak hal keuntungan serta kesempatan. Mau berapa banyak lagi jabatan kekuasaan yang anda akan buat agar menciptakan ketenangan bagi seluruh golongan?. Rencana apa ini, tanpa kemajuan, tanpa keberanian, tanpa hak, bukankah negeri terbentuk dari rakyat. Sudah mendapat kesempatan unutk membuktikan kemampuan diri bagi bangsa, tetapi melakukannya dengan tindakan tercela, ini merupakan perliku tidak baik bagi manusia lainnya,“Baladewa ilang gapite”.

Dahulu kerja paksa bagi penjajahan, tetapi sekarang ini bekerja tanpa henti untuk membayar gaji para penguasa. Apakah anda tidak malu untuk berbuat hal ini kepada rakyat anda yang masih terlalu muda mengenal dunia indah beserta isinya. Tak pernah cukup pendapatan menggapai kemauan, hanya sanggup melihat dari etalase toko idaman. Sampai kapan kami harus membayar gaji para penguasa yang ternyata menipu dari kantong-kantong rakyatnya?. Keringat hanyalah terasa asin dalam berjuang mendapatkan rejeki, kepuasan kemanusiaan adalah cita-cita untuk setaraan hidup manusia lainnya.

Banyak membaca, tokoh negarawan masa lalu, itu bukanlah donggeng sebelum tidur, mereka berjuang atas nama bangsa untuk menjadi negeri merdeka. Tetapi apakah di jaman yang katanya modern ini, dunia kembali melahirkan tokoh-tokoh penguasa negarawan. Kepentingan penguasa merupakan hal keharusan bagi golongannya, tidak untuk kepentingan rakyatnya. Nikmatilah rejeki rakyat untuk kehidupan anda, tetapi ingatlah jangan pernah coba-coba untuk merubah ideologi, aturan, keputusan, kebijakan, cukuplah anda duduk manis menyaksikan perubahan. Kami tidak ingin membuat anda lelah berpikir, kami tidak ingin anda terlihat tidak pantas untuk berbicara tentang persamaan hak, kewajiban serta kesetaraan golongan. Biarlah kami mencobanya, walaupun kami tidak mempunyai kesempatan menjadi penguasa, tetapi kami akan melakukan yang terbaik, “Bathok bolu isi madu”

Bangkitlah pahlawan negeri, masuklah kedalam mimpi penguasa-penguasa yang lalai akan amanatnya kepada rakyat. Ajarkan kepada mereka tentang pengorbanan, kemajuan, nasionalisme, cinta tanah air, kebersamaan dan kebanggaan berbangsa serta bernegara. Semoga saja penguasa negeri kembali berjuang untuk kebahagiaan rakyatnya, tidak memikirkan dirinya sendiri serta keluarganya. Sudah waktunya berubah, menjadi pemberi pelayanan kepada rakyatnya, kembali mendengarkan suaranya. “Becik ketitik ala ketara”. [fiq/rid]

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *