Tafsir Gatolotjo

 

 

Kebiasaannya  selalu berpindah tempat,rasa rindu Gatolotjo untuk kembali menuju padepokanya di Tjepekan, apa yang ada dalam pikirannya menjadi kenyataan. Muridnya sudah lama menunggunya,semua santri bergembira dengan kedatangan gurunya.

 

Santri berjumlah 300an orang, mencium tangan dan menghormatinya begitu tulus Ikhlas,tidak sungkan kepada dirinya dalam keadaan fisik seperti itu.

Sebagai seorang guru,Gatolotjo naik menuju surau, “Terimakasih,berkat doa kalian semua,aku selamat dan sehat-sehat. Bagaimana kabar kalian semua?”.

“Berkat berkah paduka, dan Rahmat Hyang Widi,semua selamat. Masih lestari seperti dulu.”

Santri menginginkan pelajaran dulu dilanjutkan kembali.Lalu Gatolotjo menuruti keinginan mereka semuanya.

“Kalau ditanya tentang pemberian budi, jawabannya ada tiga perkara, Cipta, Pikiran lalu Perbuatan.

Jika ditanya tentang anugrah diberikan-Nya, jawablah ada tiga, pertama ialah Hidup tanpa nyawa,kedua, tidak mengangan-angankan orang lain.Ketiga, hanya Allah-lah yang selalu diingat.

 

Meski,tidak ada tanda-tanda yang menjadi wahyu ilmu itu.
“Bagaimana tentang pemberian sekarat itu dan ada berapa? Jawablah tiga perkara, pertama apa-apa yang ada di hadapanmu, kedua bulu mata, Ketiga menghadap.

Jika ditanya tentang pemberian iman, jawablah tiga perkara,pertama rasa syukur,Kedua tawakal,ketiga rasa sabar”.

Berapa pemberian tauhid? Jawablah dua perkara, pertama tetap (konsisten),kedua ; Rasa takut.

Pemberian makrifat yang sejati, jawab dengan kesederhanaan. Hanya satu perkara, yaitu depan, merupakan rasa dari rasa kuasa baik.

Tentang martabat yang keramat,sepengetahuanku ada tiga, senang bergaul dengan para mukzijat,menyukai sifat para wali, nabi dan dzat Allah. Dan juga sifat rasa Asih.

Bagaimana munculnya iman, jawabnya bersamaan dengan kepasrahan hati.

Soal bagaimana martabatnya nyawa,banyak nya hanya satu. Yaitu Roh Idlafi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Translate »