Tulisan Bagus ? Celoteh Penulis Amatir

rakyat.id

 

 

Mengapa penulis harus tahu tulisan bagus dan jelek? Agar ia punya standar untuk menciptakan karya yang bagus.

Tidak peduli betapa keras penulis berusaha menyenangkan semua orang, hanya kegagalan yang akan diderita.

Kepala sama hitam, pendapat berlain-lain. Bahkan karya terbaik pun tak lepas dari kritik.

Dengan kata lain, bagus tidaknya suatu tulisan tergantung dari subyektivitas pembacanya.

Walaupun demikian, Lie Charlie dalam buku Jadi Penulis Ngetop Itu Mudah membeberkan kriteria tulisan bagus:

  • Mengungkapkan Hal Baru
  • Benar dan Lengkap
  • Merupakan Pendapat/Ide Orisinil
  • Isinya Menggungah
  • Temanya Istimewa
  • Mengandung Kejutan
  • Menyangkut Peristiwa Besar
  • Mengenai Orang Besar
  • Bahasanya Bagus
  • Penulisnya Top
  • Terpublikasi Melalui Media yang Tepat

Semakin banyak memuat kriteria di atas, maka itu bisa dikatakan tulisan bagus.

Sayangnya, hingga saat ini, bahkan setelah membaca tulisan Lie Charlie, saya punya standar tersendiri mengenai tulisan yang bagus.

Sebuah Perbedaan Mendasar

Pada umumnya, penulis membutuhkan pembaca untuk menikmati dan menilai karya mereka. Semakin banyak yang membaca, semakin puas penulis.

Jika tulisan tersebut dinilai positif dan menuai banyak pujian, maka penulis akan beranggapan bahwa tulisannya sudah bagus.

Menggunakan kata kasar, penulis bertugas melayani nafsu pembacanya.

Semakin hebat penulis merasuk ke pikiran pembaca dan menyajikan buah pemikiran yang cocok, semakin bagus nilai tulisannya.

Tetapi saya penulis yang berbeda. Saya memasuki dunia kepenulisan bukan dilandasi keinginan menjadi penulis atau punya kemampuan menulis yang baik, melainkan karena melarikan diri dari kenyataan.

Menulis membuat saya merasa nyaman dan melupakan segala permasalahan hidup.

Saya tidak perlu memahami pembaca; Saya menulis untuk diri sendiri.

Selama saya merasakan sukacita dan kepuasan setelah menyelesaikan tulisan, bagi saya itu cukup untuk menjawab pertanyaan “Apa itu tulisan yang bagus?“.

Saya menciptakan tulisan yang ingin saya baca. Dan tentu saja, apapun penilaian orang atau pembaca, saya akan tetap menulis.

Jika pembaca tidak menikmati apa yang sajikan, maka tidak ada yang menondongkan pistol dan memaksa mereka untuk terus membaca.

Kalau Kerbau Sekawan Dapat Dikawali, Kalau Manusia Seorang Tiada Dimaklumi

Anda salah jika menganggap saya adalah penulis egois. Saya hanya merasa belum waktunya untuk memikirkan pembaca dalam proses penciptaan tulisan.

Tahun ini blog saya sudah diakses lebih dari 100 ribu orang. Tepatnya 142.150 orang.

Berbeda dengan pikiran awal saya, ternyata memiliki lebih banyak pembaca sempat membuat saya tidak nyaman. Entah bagaimana, saya merasa tidak sebebas seperti sebelumnya.

Pikiran saya dipenuhi prasangka dan mengira-ngira apa yang dipikirkan pembaca mengenai tulisan-tulisan saya. Dan itu membuat saya benar-benar tidak nyaman.

Saya hanya penulis amatir dan menikmati proses menulis. Dan karena terlalu memikirkan penilaian pembaca, terkadang saya justru tidak mampu mengeluarkan kemampuan terbaik saya.

Mungkin saya tidak akan pernah menjadi profesional, tetapi saya tidak akan membuang bagaimana cara menulis dan bersenang-senang sama seperti saat pertama kali melakukannya.

Menulis itu bebas. Dan seharusnya saya tetap menjadi seperti itu. Sekalipun akan tetap menjadi penulis amatiran di dunia maya.

Bukan Berarti Berpuas Diri

Walaupun berniat bersenang-senang, saya juga tetap rutin berlatih menulis untuk meningkatkan kualitas diri sebagai penulis.

Saat saya menemukan tulisan-tulisan yang bagus di internet, saya menjadi bersemangat dan ingin menghasilkan sesuatu yang sama bagusnya.

Konsep ini terinspirasi dari prinsip Kiyoshi dalam film Kuroko No Basuke. Ia bersenang-senang dengan permainan basket, tetapi ia juga terus berlatih untuk meraih kemenangan. Dan akhirnya, mimpinya untuk menjadi juara benar-benar terwujud.

Saya mungkin penulis amatir, tetapi saya ingin berjuang untuk menghasilkan sesuatu yang hebat seperti tulisan para profesional yang tersebar di internet.

Perasaan tertantang dan tidak mau kalah itulah yang membuat saya bertahan melewati setiap hambatan dan sampai di level sekarang. Dan tentu saja, saya masih harus terus belajar untuk bertahan di kerasnya dunia internet.

Paling tidak, jika saya menganggap tulisan saya sudah mampu mendekati kualitas tulisan-tulisan yang beredar di internet, sekalipun orang lain tetap menganggap tulisan saya jelek, saya sudah merasa puas dengan pencapaian menurut subyektivitas saya sendiri.

Bagaimana dengan Anda? Tulisan seperti apa yang bagus menurut Anda? Bagikan di kotak komentar.

Penulis: Cak Shiq4/rid

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *