, ,

KAMPUS MERDEKA ESENSI MERDEKA BELAJAR DUNIA INDUSTRI & DUNIA KERJA

Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi (Dirjen Diksi) Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), Wikan Sakarinto, membeberkan esensi Merdeka Belajar ke-11 Kampus Merdeka Vokasi. Kampus Merdeka Vokasi merupakan perluasan dari filosofi Kampus Merdeka yang dikembangkan pada bidang vokasi. Sehingga, pada akhirnya link and match bersama dunia industri dan dunia kerja. 

Jadi intinya adalah kepuasan kebutuhan nyata dunia kerja dan kita supply SDMnya,” ujar Dirjen Wikan Sakarinto pada Bincang Interaktif Pendidikan dan Kebudayaan di Jakarta, Kamis (27/5).

Fokus pertama Kampus Merdeka Vokasi adalah penawaran dana kompetitif untuk pembukaan program SMK-D2 jalur cepat. Program ini berbasis kerja sama antara SMK, dan kampus vokasi, dengan dunia kerja, untuk meningkatkan kualifikasi SDM yang terampil dan unggul dalam waktu yang lebih singkat. Kemudian, peningkatan program D3 menjadi Sarjana Terapan (D4) yang lebih praktis karena tidak harus memulai dari awal. 

Kalau kita ingin dorong link and match, maka perlu kita turunkan menjadi program yang nyata. D3 menjadi D4, penambahan satu tahun itu untuk penguatan soft kompetennya, leadership-nya sehingga ujung-ujungnya teman-teman industri dan dunia kerja itu lebih puas saat menerima lulusan kita,” ungkap Wikan. 

Sejalan dengan itu, Direktur Pendidikan Tinggi Vokasi dan Profesi, Benny Bandanadjaya, mengatakan program SMK D2 fast track di mana antara SMK, perguruan tinggi vokasi, dan industri, menjalin kerja sama dalam pendidikan sampai D2 merupakan bentuk kemerdekaan pada siswanya. 

“Boleh lulus pada semester 6 atau melanjutkan langsung ke perguruan tinggi vokasi yang sudah kerja sama dengan perguruan tinggi, kemudian perguruan tinggi memberi pengakuan terhadap SKS hasil pembelajaran di SMK. Sehingga mereka bisa menyelesaikan D2 dalam waktu 1,5 tahun,” ujar Benny. 

Pada kesempatan yang sama, Wakil Direktur IV Politeknik Negeri Bali bidang kerja sama, I Wayan Arya, mengutarakan antusiasmenya dengan kebijakan Merdeka Belajar ke-11 Kampus Merdeka Vokasi. Menurutnya SMK D2 jalur cepat adalah program yang luar biasa di Politeknik Negeri Bali. Program ini, kata Wayan bisa mengintegrasikan antara pendidikan menengah dengan pendidikan tinggi vokasi serta dapat mengintegrasikan dunia pendidikan di kampus dan sekolah dengan dunia industri. “Kita selama ini kerja sama hanya dengan industri saja, sekarang kita kerja sama dengan tiga pihak,” ujarnya. 

Di samping itu, kebijakan Kampus Merdeka Vokasi menjadi peluang dan tantangan di dunia vokasi sehingga apa yang diharapkan oleh semua pihak bisa berkesinambungan. “Harapannya D2 jadi wadah yang mengintegrasikan bidang ilmu yang serumpun dari SMK ke jenjang yang lebih tinggi. Bagi kami di perguruan tinggi, dosen program SMK D2 bisa memberi kesempatan untuk kita berkolaborasi lebih erat dengan industri,” ungkap Wayan. 

Sementara itu, fokus kedua Kampus Merdeka Vokasi adalah dana padanan (matching fund) Kampus Vokasi. Matching Fund ini dapat digunakan untuk tiga hal, yaitu 1) Pengembangan Pusat Unggulan Teknologi (PUT), 2) Hilirisasi produk riset terapan, dan 3) Startup kampus vokasi yang dibangun bersama dunia kerja.

Matching Fund itu lebih ke riset, riset terapan di vokasi itu jangan sampai berhenti pada publikasi, atau menjadi produk tapi disimpen di workshop. Produk ini harus dihilirkan ke masyarakat, ke pasar atau ke industri,” ujar Wikan. 

Untuk melakukan ini, lanjut Wikan maka riset harus dilakukan sejak awal bersama dengan industri. “Maka kita beri Matching Fund, setiap kontribusi industri yang terjun dalam riset tadi berujung produk dan dihilirkan. Itu akan kita berikan matching fund 1:1 atau maksimal 3:1,” ucapnya.  

Dekan Sekolah Vokasi Institut Pertanian Bogor (IPB), Arief Daryanto, juga menyambut baik dan sangat antusias dengan kebijakan Merdeka Belajar ke-11 Kampus Merdeka Vokasi. Menurutnya, dengan diluncurkannya kebijakan ini, kementerian telah mengidentifikasi bagaimana mentransformasi pendidikan atau mengakselerasi untuk mengatasi perubahan-perubahan yang terjadi saat ini. 

Mudah-mudahan dengan kebijakan ini dapat terwujud link and match antara dunia pendidikan dengan industri. Sehingga dengan adanya pernikahan masal ini akan menghasilkan lulusan sekolah vokasi yang sebelum lulus sudah diambil oleh industri,” ujar Arief. 

Executive Vice President Talent Development PT PLN (Persero), Daru Tri Tjahjono, mengatakan kebijakan Kampus Merdeka Vokasi sangat mendukung perusahaannya untuk menyiapkan tenaga kerja yang sudah siap bekerja. Untuk itu, PT. PLN Persero sangat antusias dan mendukung Kemendikbudristek dengan Program Merdeka Belajar ke-11. 

Kampus Merdeka ini, menurut saya karena anak-anak vokasi ini adalah anak-anak yang program yang banyak yang experiencial  learning, banyak praktik sehingga ini benar-benar mendukung kami sebagai perusahaan,” ungkap Danu. 

SUMBER & FOTO: (KEMENDIKBUDRISTEK).

[RID/fiq]

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *