,

KNIU SOSIALISASI PROGRAM UNESCO

Untuk meningkatkan peran serta Indonesia dalam UNESCO Global Network Learning Cities (GNLC) dan UNESCO World Book Capital City (WBCC), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO (KNIU) menyelenggarakan sosialisasi kedua program UNESCO tersebut pada Kamis, 9 Maret 2021 di Bandung, Jawa Barat.

Pertemuan tersebut diawali dengan sambutan oleh Plt. Kepala Biro Kerjasama dan Hubungan Masyarakat, Hendarman, yang menyampaikan harapannya untuk kota-kota yang hadir pada pertemuan tersebut dapat berpartisipasi dalam program UNESCO GNLC dan UNESCO WBCC. Ia menambahkan bahwa Kota Surabaya adalah kota pertama di Indonesia yang menjadi anggota UNESCO GNLC pada 2016, dan juga menjadi kota pertama di Indonesia yang menerima penghargaan UNESCO Learning City Award pada 2017.

Hal ini tentu menjadi contoh luar biasa bagi kota-kota lain di Indonesia agar dapat berpartisipasi aktif pada program tersebut, mendapatkan manfaat yang besar, dan juga dapat dijadikan showcase kepada kota di negara lain.

Selain itu, Hendarman juga mendorong kota-kota untuk dapat merefleksikan upaya peningkatan pendidikan di wilayahnya dengan merujuk pada berbagai kebijakan baru dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, seperti Guru Penggerak dan Sekolah Penggerak, yang merupakan bagian dari Merdeka Belajar.

Dengan refleksi yang dilakukan tersebut, diharapkan program dari UNESCO maupun program dari Pemerintah Indonesia mampu bersinergi dengan baik demi tujuan peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia.

Selanjutnya, Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), yang dihadiri oleh Asisten Deputi Bidang Koordinasi Pendidikan Menengah dan Keterampilan Bekerja, Raden Wijaya Kusumawardhana, memberikan apresiasi terhadap KNIU dalam melaksanakan tugasnya sebagai penghubung antara program Indonesia ke UNESCO, maupun sebaliknya.

Ia menambahkan bahwa Kemenko PMK mendukung sosialisasi program UNESCO GNLC dan UNESCO WBCC demi meningkatkan peran aktif kota dalam peningkatan kualitas pendidikan di wilayahnya masing-masing, dan juga mendorong untuk dapat mengikuti praktik baik dari Kota Surabaya.

Kemudian pada kesempatan itu, Ketua Harian Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO, Arief Rachman mengatakan bahwa kota pembelajaran (learning cities) adalah kota yang secara efektif mampu memobilisasi segala sumber daya yang ada dari setiap sektor untuk (1) mempromosikan pembelajaran sepanjang hayat dari tingkat pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi, (2) merevitalisasi pembelajaran di dalam keluarga maupun komunitas sekitar, (3) memfasilitasi pembelajaran di dalam dunia kerja, (4) memperluas penggunaan pembelajaran berbasis teknologi informasi terkini, (5) meningkatkan kualitas dalam pembelajaran, dan (6) memelihara budaya pembelajaran melalui praktik kehidupan sehari-hari.

Ia menambahkan bahwa pembelajaran sepanjang hayat meletakkan dasar untuk pembangunan sosial, ekonomi, dan lingkungan yang berkelanjutan dan ide pembelajaran sepanjang hayat itu berakar kuat di semua budaya. Namun, hal ini menjadi semakin relevan dalam dunia yang berubah cepat saat ini, di mana norma-norma sosial, ekonomi dan politik terus-menerus didefinisikan ulang.  

Pembelajaran seumur hidup dan masyarakat pembelajar memiliki peran penting dalam mengembangkan kota yang berkelanjutan dalam memberdayakan warga negara dan mempengaruhi transisi ke masyarakat yang berkelanjutan. Kota-kota yang menjadi anggota UNESCO GNLC didorong untuk mendukung kesetaraan dan inklusi sehingga menjadi sebuah kota pembelajaran,” ungkap Arief Rachman dalam paparannya, Selasa (9/3).

Kemudian, Arief Rachman melanjutkan penjelasannya bahwa UNESCO juga telah menetapkan World Book and Copyright Day. Perayaan tersebut dalam rangka untuk mempromosikan nilai-nilai baik dari sebuah buku. Setiap tahun, pada tanggal 23 April, perayaan itu dilakukan di seluruh dunia untuk mengenali ruang lingkup buku sebagai penghubung antara masa lalu dan masa depan serta jembatan antargenerasi dan lintas budaya.

Keberhasilan World Book and Copyright Day yang diluncurkan pada tahun 1996 mendorong UNESCO untuk mengembangkan konsep World Book Capital City. UNESCO memutuskan untuk menjadikan penunjukan World Book Capital City sebagai acara tahunan yang bermanfaat karena mendukung kreativitas, keragaman, literasi, pembelajaran digital, dan memajukan akses terbuka  pengetahuan ilmiah dan sumber daya pendidikan,” tutur Arief Rachman.

Sementara itu, Plt. Kepala Bidang Sekolah Menengah, Dinas Pendidikan Kota Surabaya, Tri Aji Nugroho mengungkapkan bahwa Kota Surabaya mendapatkan penghargaan Learning Cities Award dari UNESCO pada tahun 2017. Hal itu diraih melalui proses yang panjang serta didukung oleh semua pemangku kepentingan.

Beberapa hal yang dilakukan antara lain adanya tempat belajar yang dekat dengan masyarakat (semua kantor kecamatan), broadband learning center di tempat-tempat strategis, dan kegiatan kepedulian sosial dari mahasiswa (campus social responsibility) kepada anak putus sekolah. “Sebenarnya, kami tidak mengejar penghargaan, tetapi hal itu adalah wujud kerja bersama untuk kemajuan pendidikan di Surabaya. Dan yang paling penting adalah adanya komitmen pimpinan dan transparansi anggaran yang mendukung sektor pendidikan di Surabaya,” ujar Tri Aji yang disampaikan secara virtual.

UNESCO Global Network Learning Cities dan UNESCO Learning City Award

Kota-kota yang menjadi anggota UNESCO Global Network Learning Cities (GNLC) didorong untuk mendukung kesetaraan dan inklusi dalam menjadi sebuah kota pembelajaran (learning cities) dengan cara (1) mempromosikan pendidikan dan kesempatan belajar bagi semua, khususnya bagi kelompok rentan yang tidak bersekolah atau mengikuti pelatihan formal, yang memungkinkan mereka memperoleh keaksaraan dan keterampilan dasar/kejuruan lainnya, (2) menawarkan kursus pembelajaran daring yang memungkinkan orang menghadiri kuliah gratis tentang berbagai topik yang relevan dengan komunitas lokal mereka, (3) mendirikan perguruan tinggi migran sehingga membantu mereka berintegrasi ke dalam masyarakat, (4) mempromosikan inisiatif pembelajaran antar generasi, mendorong anak-anak dan pengasuh mereka bersama-sama untuk belajar bersama, (5) mendirikan perpustakaan keliling, memberikan kesempatan membaca untuk semua, terutama orang-orang cacat, orang dewasa yang lebih tua dan anak-anak prasekolah, (6) memanfaatkan pusat budaya yang berfungsi sebagai tempat belajar, yang memungkinkan orang untuk mengakses merayakan identitas budaya mereka dan untuk mempromosikan toleransi antarbudaya, dan (7) memberikan bimbingan karier, khususnya bagi perempuan, untuk mengejar kualifikasi yang akan memungkinkan mereka untuk mengambil posisi kepemimpinan.

Selanjutnya, kota yang tergabung dalam UNESCO GNLC memiliki beberapa kewajiban, yaitu mengejar visi pembelajaran seumur hidup dan menjadi kota pembelajaran; mengadopsi komitmen yang tertuang dalam The Beijing Declaration on Building Learning Cities and The Key Features of Learning Cities; dan bersedia mengirimkan laporan perkembangan proyek kota pembelajaran setiap dua tahun sekali sebagai bentuk komitmen untuk memperpanjang keanggotaan.

Selain itu, UNESCO Institute for Lifelong Learning (UIL) juga menetapkan sebuah penghargaan terhadap kota yang telah tergabung dalam UNESCO GNLC. Penghargaan tersebut yakni UNESCO Learning City Award, yang dibentuk untuk memberikan penghargaan atas upaya kota-kota dalam mempromosikan pembelajaran seumur hidup bagi semua pihak dan menunjukkan praktik yang baik dalam membangun kota pembelajaran (learning cities).

Penghargaan tersebut secara khusus dianugerahkan kepada kota-kota yang telah mencapai kemajuan luar biasa dalam upaya pengembangan kota ke arah pembelajaran dan berkelanjutan.

UNESCO World Book Capital City

Sebuah kota yang telah ditetapkan menjadi UNESCO World Book Capital City (WBCC) harus siap memiliki komitmen untuk selalu mengampanyekan program sinergi antara publikasi, penulisan, dan industri literasi dalam mempromosikan serta menyukseskan budaya membaca selama satu tahun penuh yang dimulai sejak tanggal 23 April (pada perayaan World Book and Copyright Day) dan berakhir pada tanggal 22 April pada tahun berikutnya.

Adapun yang menjadi Komite Penasihat World Book Capital City adalah satu perwakilan dari International Publishers Association (IPA); satu perwakilan dari International Federation of Library of Associations and Institutions (IFLA); dan satu perwakilan dari UNESCO.

Kemudian, proposal program kota pendaftar akan dievaluasi berdasarkan enam kriteria, yaitu (1) program kegiatan yang disusun memiliki manfaat jangka panjang bagi mitra dan masyarakat, (2) garis besar dari perkiraan penggunaan anggaran dan strategi penggalangan dana, (3) tingkat keterlibatan kota, regional, nasional dan internasional, termasuk organisasi profesional dan nonpemerintah, dan perkiraan dampak dari pelaksanaan program, (4) bekerja sama dengan organisasi profesional nasional, regional dan internasional yang mewakili penulis, penerbit, penjual buku, dan pustakawan yang menghormati berbagai pihak dalam rantai pasokan buku dalam komunitas ilmiah dan sastra, (5) proyek tersebut mempromosikan dan membina pengelolaan buku dan budaya membaca, dan (6) kesesuaian dengan Konstitusi UNESCO, Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia dan Perjanjian Florence.

Peran Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO (KNIU)

Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO (KNIU) memiliki peran untuk menjadi jembatan antara program Indonesia ke UNESCO, maupun UNESCO ke Indonesia. Peran KNIU dalam pengusulan pada UNESCO Global Network Learning Cities (GNLC) dan UNESCO World Book Capital City (WBCC), yakni (1) melakukan sosialisasi terkait program UNESCO GNLC dan UNESCO WBCC, (2) melaksanakan fungsi konsultasi terkait pengisian application form bagi para calon kota pendaftar, (3) memberikan penilaian terhadap application form dari kota pendaftar, (4) memberikan rekomendasi kepada kota pendaftar yang dinilai baik, (5) memfasilitasi pengiriman application form yang telah dilengkapi bersama seluruh dokumen penunjang, dan (6) melakukan fungsi asistensi dalam penyusunan laporan kemajuan (progress report) UNESCO GNLC setiap dua tahun dan laporan dari UNESCO WBCC.

Sumber & Foto : (KEMENDIKBUD).

[RID/fiq]

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *