,

POPULARITAS BAHASA INDONESIA DI INDIA

New Delhi, 29 Juni 2021 — Meski India tengah dilanda gelombang kedua pandemi Covid-19, popularitas bahasa Indonesia nyatanya terus meningkat dan semakin diminati oleh masyarakat umum dan pelajar India meski proses belajar dilakukan secara daring. Untuk itu, sebagai bagian dari misi diplomasi budaya di negeri Hindustan, Atase Pendidikan dan Kebudayaan, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) New Delhi kembali membuka pendaftaran kelas Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) gelombang 4, tahun 2021 pada 29 Juni 2021 hingga September 2021.

Dalam sambutannya, Kuasa Usaha Ad Interim (KUAI) KBRI New Delhi, M. Rizky Safari, menyambut gembira atas antusias warga yang mendaftar pada kelas BIPA gelombang 4. Hingga saat ini lebih dari 200 orang dengan mayoritas warga India dengan berbagai latar belakang yang berminat belajar Bahasa Indonesia.

Harapannya bahwa dengan belajar Bahasa Indonesia akan semakin dekat dalam memahami kebudayaan Indonesia dan semakin meningkat people to people contact antara Indonesia dan India, sehingga akan semakin meningkatkan pemahaman di antara kedua negara,” disampaikan M. Rizky Safari saat meresmikan pembukaan kelas BIPA gelombang 4, di New Delhi, pada  Selasa (29/6).

M. Rizky melanjutkan, pemelajar dari tujuh level kemampuan yang berbeda akan mempunyai tingkat kemampuan pemahaman yang berbeda. “Bagi mereka yang sudah mempunyai kemampuan dalam berbahasa Indonesia akan diberikan materi dan didukung kemampuannya untuk lebih meningkatkan kemampuan dalam berbahasa Indonesia mulai dari dasar,” ujarnya.

Dengan demikian, di masa mendatang pemelajar BIPA akan semakin lebih memahami Indonesia dari berbagai aspek. “Di masa mendatang, kami berharap bahwa akan banyak di antara pemelajar ini mempunyai kesempatan untuk bertemu dengan warga Indonesia dan melihat adanya peningkatan pemahaman di antara bangsa dan masyarakat dari dua negara,” tuturnya.      

Hingga saat ini, Atase Pendidikan dan Kebudayaan, KBRI New Delhi, Lestyani Yuniarsih melaporkan bahwa berdasarkan hasil pengumuman melalui media sosial, pada kelas BIPA gelombang 4 tercatat sebanyak 279 peserta yang telah mendaftar mulai dari level 1 hingga level 7.  “Banyaknya jumlah perserta menunjukkan bahwa situasi pandemi di India saat ini tidak menyurutkan minat dan semangat mereka untuk belajar Bahasa Indonesia, sekaligus menandakan popularitas Bahasa Indonesia semakin diminati di India,” kata Lestyani.

Hingga saat ini, sebanyak 123 peserta telah mendaftar kelas BIPA untuk level 1 sehingga dibagi menjadi tiga kelas. Selanjutnya, sebanyak 71 orang telah mendaftar kelas BIPA level 2 dan dibagi menjadi dua kelas, 33 orang mendaftar pada level 3, 26 orang mendaftar pada level 4, 10 orang mendaftar pada level 5, 11 orang mendaftar pada level 6, dan 5 orang mendaftar pada level 7.

Lestyani Yuniarsih sangat gembira dan bangga melihat peningkatan jumlah peminat BIPA sejak diselenggarakan secara daring. Oleh karena itu, besar dukungannya terhadap program ini dengan berkoordinasi intensif dengan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, melalui Pusat Pengembangan dan Pelindungan Bahasa dan Sastra, Kemendikbudristek.

Untuk menjaga kualitas penyelenggaraan kelas BIPA dalam jumlah besar, Atdikbud KBRI New Delhi mengusulkan dua orang guru pengajar BIPA untuk India yaitu Anita Rezki yang sebelumnya mengajar pada gelombang 3 bersama Hanifia Arlinda yang pernah mengajar BIPA di Melbourne University.

Pada kesempatan ini, Hanafi, Konselor pada Fungsi Penerangan, Sosial, dan Budaya KBRI New Delhi menyatakan kegembiraannya dengan semakin bertambahnya peminat bahasa Indonesia dari India. Melalui Kelas Daring BIPA ini meminta bantuan para peserta untuk mengisi survei dari Kementerian Luar Negeri tentang persepsi terhadap Indonesia. Tautan survei akan diberikan melalui email dan whatsapp dengan bantuan dari para pengajar BIPA. Selamat dan sukses kepada para pemelajar BIPA gelombang 4, semoga bisa mengikuti kelas hingga selesai nanti.

Sebagai informasi, peminat bahasa Indonesia melalui program BIPA terus meningkat sejak pertama kali diselenggarakan di KBRI New Delhi tahun 2012 lalu. Pada awalnya, jumlah murid kurang dari 10 orang, bahkan paling banyak 50 orang. Namun dengan dibukanya kelas daring BIPA sejak pertengahan 2020 semakin banyak peminatnya yang berasal dari berbagai negara bagian di India. Ada juga peminat berkebangsaan lain selain India, seperti Afganistan, Australia, Bangladesh, Bhutan, Inggris, Jerman, Malaysia, Palestina.

Tingginya minat peserta dari India dalam mempelajari Bahasa Indonesia bukan tanpa alasan, pasalnya permintaan calon tenaga kerja di India dengan kualifikasi mampu berbahasa Indonesia oleh berbagai perusahaan multi-nasional cukup tinggi dengan standar upah yang juga sangat menjanjikan, misalnya Google India yang berbasis di Gurugram, Denave Pvt, Ltd. di Noida, yang merupakan perusahaan mitra Microsoft dan HP, serta perusahaan marketing lainnya.

Selain itu, potensi pendidikan dan budaya Indonesia yang semakin dikenal oleh publik India, para pelajar India tertarik untuk mengetahui lebih dalam lagi tentang Indonesia melalui pamahaman bahasa yang bisa diperoleh dengan mengikuti program BIPA.

Di antara calon siswa BIPA yang telah mendaftar, umumnya berstatus sebagai mahasiswa India dari beberapa universitas ternama di India, di antaranya dari Jawaharlal Nehru University (JNU), Delhi University (DU), Jamia Millia Islamia (JMI) University di Ibu kota New Delhi, dan beberapa universitas lainnya. Menariknya lagi, pada kelas BIPA gelombang 4 terdapat peserta yang merupakan seorang profesor dari O.P. Jindal Global University, dosen Bahasa Rusia dari Himachal University, serta siswa SD kelas 2.

Pada program BIPA gelombang 3 sebelumnya, KBRI telah meluluskan 122 pemelajar dari 215 pendaftar untuk periode Februari hingga Mei 2020 mulai dari Level 1 hingga Level 6. Sebanyak 60 orang di antaranya lulus dengan hasil yang membanggakan dengan nilai di atas 90.

Para siswa yang lulus nantinya akan meninggalkan kesan yang positif dan semakin meningkatkan kedekatan dan kemauan untuk lebih mendalami keterikatan kedua negara yang telah terjalin sejak abad silam, dan merupakan kewajiban kita untuk mengembangkan program-program semacam ini,” ujar Lestyani.

Sumber & Foto: (KEMENDIKBUDRISTEK).

[RID/fiq]

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published.