Bahasa IndonesiaEnglish

WEBSITE RAKYAT.ID MASIH DALAM PENGEMBANGAN

Situs Mbah Selo Gending sebagai sebagai sebuah tempat pemujaan pada Sang Hyang Mahameru mempunyai struktur yang berundak dari rendah sampai tingkat tertingginya.

Di pelataran tempat pemujaan ini terdapat bentuk seperti anak tangga menuju ke atas. Setelah diatas baru terdapat batu menhir atau batu tegak yaitu Mbah Tejo Kusumo, Mbah Pukulun, Mbah Wadung Prabu dan Mbah Selo Gending.

Struktur Punden Berundak ini cukup luas, kira-kira 10 hektar lebih .

Sampai sekarang masih dihormati oleh penduduk baik yang beragama Hindu maupun Islam.

#MasMansoer

#Sejarah

#SukuTengger

link terkait;

https://www.youtube.com/watch?v=8t7VA_LXY5I

SEJARAWAN : MANSUR HIDAYAT

Sumber & Foto : mas mansoer channel

[RID/fiq]

 

Babad Desa Warnana atau Babad Negara Kreta yang menceritakan perjalanan raja Hayam Wuruk dan Maha Patih Gajah Mada mengunjungi negara Lamajang terutama melakukan siddhayatra atau mengunjungi tempat-tempat pemujaan Syiwa maupun Buddha dan memberi penghormatan kepada para pemuka agama.

Menurut Prof. Slamet Mulyana dalam perjalanan yang dilakukan pada tahun 1359 Masehi ini dan dimpingi oleh Dang Acarya Nadendra sebagai seorang Dang Acarya Ring Kasogatan atau pejabat keagamaan agama Buddha dan kemudian ditulis pada tahun 1365 Masehi ketika sudah tidak menjabat dan berada jauh di kawasan hutan.

Namun berhentinya sang pemuka agama Buddha dari jabatannya tersebut tidak menghentikan perhormatannya kepada sang raja.

Babad Negara Kretagama Pupuh 22 ayat 4 telah menceritakan perjalanan raja Hayam Wuruk mengunjungi sebuah daerah bernama Kunir yang tentu saja mempunyai arti yang sangat penting di mata sang raja.

Perjalanan mengunjungi kerajaan Lamajang oleh raja Hayam Wuruk saat itu begitu penting untuk meredakan ketegangan antar 2 kerajaan yang pada awalnya mempunyai hubungan sangat baik yaitu Majapahit dan Lamajang Tigang Juru.

Oleh karena perjalanan ini dimaksudkan untuk meredakan ketegangan politik, maka kunjungan sang raja pada tempat-tempat keagamaan maupun tokoh-tokoh keagamaan yang bersifat Syiwa maupun Buddha menjadi tujuan utama.

Jika di sekitar Patunjungan ada Padepokan Bajraka yang bersifat Buddha, maka di daerah Kunir adalah tempat pemujaan yang beragama Syiwa.

Kunir yang sekarang menjadi suatu Kecamatan jaraknya sekitar 12 kilo meter  di sebelah selatan kota lumajang mempunyai banyak peninggalan Cagar Budaya, namun seolah tidak terhubungkan satu sama lain. Hal ini diperkuat oleh penelitian Balai Arkeologi Yogyakarta pada tahun 2016 tentang Candi yang ada di Desa Kedungmoro yang dianggap sebagai bagian dari komplek candi pemujaan.

Berbagai peninggalan yang ada di Kecamatan Kunir mulai arca Nandi di Dusun Reco Banteng Desa Kedungmoro, bangunan candi di Dusun Kedungsari Desa Kedungmoro, Situs Kunir Sentono di pemakaman umum Desa Kunir Lor, Situs Krai Sentono di Desa Krai Kecamatan Yosowilangun maupun sebuah bekas candi yang sekarang menjadi di SDN Kunir Kidul 04 atau yang dikenal sebagai SD Reco.

Memang agak aneh kedengarannya terkait candi yang ada di SDN kunir Kidul 04 ini, namun dalam kegiatan survey yang dilakukan oleh Titi Surti Nastiti dkk. dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional di Kabupaten Lumajang pada tahun 1990-an disebutkan adanya sekolah yang bangunannya didirikan diatas bangunan bekas candi.

Berdasarkan keterangan diatas maka tim MMC.com pun melakukan penelusuran di lapangan untuk mendapatkan keterangan tentang bekas candi dan peninggalan di sekolah tersebut guna memastikan bahwa di wilayah Kunir ini memang kaya oleh peninggalan bersejarah.

Menurut Zainal Abidin (41 tahun), seorang anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) asal Kunir Lor mengatakan bahwa menurut masyarakat dan orang tua dulu dibawah dan dibelakang SDN Kunir Kidul 04 pernah ditemukan arca sehingga dinamakan SD Reco. Namun sejauh ini belum ada penelitian dan penggalian dari para ahli.

Sebagai seorang anggota DPRD Lumajang, menurutnya memang peninggalan Cagar Budaya di daerah Kunir ada beberapa tetapi tidak mengetahui secara keseluruhannya. Ia hanya mengetahuiada penemuan candi beberapa tahun yang lalu di Desa Kedungmoro. Oleh karena itu, ia sangat mendukung jika ada pengungkapan tentang peninggalan sejarah di Kunir dan juga Kabupaten Lumajang secara keseluruhan.

Sebagai seorang anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) yang peduli pada sejarah dan budaya, ia juga menjelaskan bahwa tahun depan DPRD Lumajang ada inisiatif membuat Peraturan Daerah (PERDA) Tentang Pelestarian Warisan Budaya dan Adat Istiadat sehingga dapat melengkapi Perda Cagar Budaya yang telah disahkan tahun 2014 yang lalu.

Lebih jauh ia menyatakan bahwa kerja keras legislatif dan eksekutif ini mesti didukung dengan semangat gotong royong segenap lapisan masyarakat yang dalam hal ini generasi muda adalah harapan terbesarnya. Baginya semua Cagar Budaya maupun warisan Budaya tersebut akan diwariskan kepada generasi muda sebagai penerus perjuangan bangsa.

Sumber & Foto: www.masmansoer.com

Sejarawan: Mansoer Hidayat

link : https://masmansoer.com/2021/07/bekas-candi-dibawah-sd-reco-atau-sdn-kunir-kidul-04/

[RID/fiq]

Menurut Kitab Tantu Pangelaran, Gunung Mahameru adalah perwujudan dari gunung Mandara atau Himalaya di India yang dianggap suci. Oleh karena itu di sekitar Mahameru banyak ditemukan bangunan suci, pertapaan maupun pusat pendidikan para Brahmana.

Disamping itu banyak kunjungan dan ziarah suci dilakukan ke Mahameru baik masyarakat umum, kaum agamawan maupun para raja. Salah satu raja yang mengunjungi Mahameru adalah Kameswara yang merupakan cucu raja Jayabaya dari Kediri yang sangat terkenal dalam sastra Jawa.

Kunjungan monumental yang dilakukan dengan mengajak ribuan pengiring ini kemudian di tuangkan dalam goresan prasasti abadi di pinggir Ranu Kumbolo yang isinya "Link Dewa Mpu Kameswara Tirtayatra" yang berasal dari tahun 1182 Masehi.

Sepuluh tahun paska Prasasti Ranu Kumbolo ini, para brahmana di sekitar Desa Kertosari juga menuliskan prasasti yang isinya Candra Sengkala "Kaya Bhumi Shasiku" yang berarti tahun 1131 Saka atau 1191 Masehi. Oleh karena itu perjalanan raja Kameswara ini dapat dipakai sebagai penanda puncak perjalanan suci ke gunung Mahameru sejak berpuluh-puluh abad yang lampau.

Sumber & Foto: Mas Mansoer Channel

Sejarawan: Mansoer Hidayat

Narasumber: Mangku Karyono

link: https://www.youtube.com/watch?v=XwT4mfbBag4

[RID/fiq]

Desa Burno Kecamatan Senduro merupakan sebuah Desa kuno dikarenakan mempunyai jejak-jejak peninggalan bersejarah yang cukup banyak. Menurut catatan penelitian, di Desa ini ditemukan adanya arca Dewa Brahma sampai pada "Pedanyangan" atau tempat yang dikeramatkan oleh masyarakat bernama "Mbah Saikem" dan dianggap penghuni pertama berkelamin perempuan yang letaknya ada diatas bukit. Sang hari itu Kecamatan Senduro diguyur hujan deras dan sedikit badai sehingga banyak pohon bertumbangan.

Tim Mas Mansoer Channel yang melakukan penelusuran lapangan untuk mencapai situs atau pedanyangan ini ternyata harus menemui kenyataan jalanan licin dan berlumpur sampai kemudian banyak pohon bambu bertumbangan menutupi jalanannya.

Tim penelusuran dalam kesempatan ini tidak bisa meneruskan perjalanan dan kembali pulang. Namun perjalanan turun-pun tidak kalah berbahaya-nya dengan perjalanan di saat naik. Ketika melompati kubangan lumpur, kecelakaan kecil-pun terjadi.

"tidak boleh menyerah untuk merawat jejak-jejak leluhur yang bersejarah" _mansurhidayat_

Sumber & Foto: Mas Mansoer Channel

Sejarawan: MANSUR HIDAYAT

LINK: https://www.youtube.com/watch?v=8MTmzgH8aXA

[RID/fiq]

Pada saat Parisada Hindu Darma Indonesia (PHDI) Kabupaten Lumajang dilantik pada 2 Pebruari 1986 dengan ketuanya I Made Wiratha SH yang saat itu adalah Kepala Kejaksaan Negeri Lumajang, saat itu warga Hindu Lumajang belum mempunyai tempat persembahyangan yang memadai.

Persembahyangan dilakukan di Pura Desa masing-masing dan belum ada koordinaai antar warga Hindu satu sama lain. Di Kepengurusan I Made Wirata SH inilah ide pendirian Pura dilahirkan.

Awalnya hanya 20 X 60 meter namun atas berkat Sang Hyang Widi, perjalanan memandu umat Hindu untuk mendirikan Pura yang diluar harapan mereka.

Pura Mandara Giri Semeru Agung telah berdiri di lahan 1,5 hektar dan menjadi tempat persembahyangan utama Nusantara yang ada dilereng Mahameru sebagai gunung suci.

Resi Sarjo Atmo Suryoatmojo adalah salah seorang pemuka Hindu Senduro yang getol memperjuangkan berdirinya Pura besar ini.

Sumber & Foto: Mansoer Channel

Sejarawan: MANSOER HIDAYAT

LINK: https://www.youtube.com/watch?v=GU-TkH6MHBA

[RID/fiq]

Arya Wiraraja pulang kembali ke Lumajang diperkirakan tahun 1294-an setelah penobatan Raden Wijaya menjadi raja Majapahit dengan gelar Kertarajasa Jayawardhana. Pengangkatan dan kepulangannya terjadi sebelum "Paranggalawe" atau Perang Ranggalawe itu sendiri yang terjadi pada 1295. Dalam membangun ibu kota Arnon,

Arya Wiraraja membangun dengan kuat dan megah sehingga menjadi satu contoh ibu kota kerajaan yang sejajar dengan Majapahit. Saat itu dibangunlah benteng-benteng kuat, Istana megah maupun Taman Sari yang luas dan asri karena jumlah istri raja-raja jaman dahulu diperkirakan ratusan disamping putri-putri yang tentu jumlahnya lebih banyak lagi.

Menurut penelitian Balai Arkeologi Yogyakarta yang melakukan penelitian intensif di Kawasan Situs Biting tahun 1980-an, luas Taman Sari ini sekitar 5 hektar.

Namun sampai hari ini, Kawasan ini belum pernah tersentuh ekskavasi maupun pemugaran sehingga hanya menjadi onggokan batu bata yang terpendam dan lama-kelamaan bisa tergerus karena ketidak-tahuan masyarakat.

Sumber & Sejarawan: (MANSOER HIDAYAT/MAS MANSOER CHANNEL)

link: https://www.youtube.com/watch?v=3QDojvsip_Y

[RID/fiq]

© PT. Aliansi Rakyat Multimedia Indonesia 2021
crossmenuchevron-down