Bahasa IndonesiaEnglish

WEBSITE RAKYAT.ID MASIH DALAM PENGEMBANGAN


Ketika Iraq bernama Assyria, raja menyelenggarakan perjamuan istana di kota Nimrod, dengan dua puluh menu utama dan empat puluh menu pelengkap, disertai guyuran bir dan anggur yang melimpah.

Menurut catatan peristiwa dari 3,000 tahun lalu, tamunya berjumlah 69,574, semuanya laki-laki, tak seorangpun perempuan, termasuk dewa-dewa yang ikut makan dan minum.


Dari istana-istana yang lebih tua datang resep-resep pertama yang ditulis oleh para empu dapur.

juru masak sama  berkuasa dan berpengaruhnya seperti para imam, dan resep-resep mereka bertahan melewati krisis waktu dan perang. Resep mereka rinci ("adonan di panci harus mengembang sampai empat jari") atau justru tidak jelas ("awasi garam dengan teliti"), tetapi semua mengakhiri resepnya dengan: "siap disantap."


Tiga ribu lima ratus tahun lalu, Aluzinnu si badut istana, meninggalkan resep-resepnya untuk kita. di antaranya, resep yang menjanjikan santap malam yang lezat berikut:untuk hari terakhir sebelum bulan di akhir tahun, tak ada makanan yang lebih lezat dari babat perut keledai yang diisi dengan tahinya lalat."


Sumber Buku: Mirrors

Pengarang Buku: Eduardo Galeano

Penerjemah: wardah hafidz

[fiq/RID]

Pada tahun 1781 Túpac Amaru dikapak menjadi empat di tengah Plaza de Armas di Cuzco.


Dua abad kemudian, seorang turis bertanya kepada seorang anak penyemir sepatu tepat di tempat tersebut, apakah ia pernah bertemu Túpac Amaru.

Si kecil tukang semir, tanpa mengangkat muka, mengatakan ya, ia tahu Túpac Amaru. sambil melanjutkan pekerjaannya, ia menggumam pelan, praktis berahasia,

"Dialah sang angin."


Sumber Buku: Children of the Days

Pengarang: Eduardo Galeano

Penerjemah: wardah hafidz

[fiq/RID]



Buah coklat tidak membutuhkan matahari, karena ia punya mataharinya sendiri. 

Kemilau dagingnya menghasilkan kenikmatan dan euforia rasa coklat.


Para dewa di langit tinggi memonopoli eliksir ini, dan kita manusia dikutuk untuk tidak mengetahuinya.


Quetzalcóatl mencurinya dari Toltecs. ketika dewa-dewa yang lain sedang tidur, ia mengambil beberapa biji dan menyembunyikan di jenggotnya. lalu ia merayap turun ke bumi lewat rajutan benang panjang laba-laba dan memberikan biji-biji itu ke kota Tula.


Persembahan  Quetzalcóatl itu dikuasai oleh para bangsawan, para  imam, dan para panglima perang.


Hanya lidah mereka yang pantas mengecapnya. 


Sebagaimana pemilik langit yang melarangnya dinikmati manusia, demikian pula pemilik bumi melarangnya dinikmati orang biasa.


Sumber Buku: Mirrors

Pengarang: Eduardo Galeano

Penerjemah: wardah hafidz

[fiq/RID]

Dan kitapun lelah berkelana di hutan dan di tepian sungai. 

Dan kita mulai menetap. kita menciptakan desa dan kehidupan komunitas, mengubah tulang menjadi jarum dan duri menjadi paku. peralatan menjadi kepanjangan tangan kita, dan gagangnya menambah kekuatan kapak, cangkul, dan pisau.

 
Kita menanam padi, jelai, gandum, dan jagung, kita menaruh kambing dan domba di kandang ternak, kita belajar menyimpan biji2an agar tidak kelaparan saat keadaan buruk.


Dan di ladang tempat kita kerja, kita memuja dewi kesuburan, perempuan dengan pantat besar dan buah dada subur. tetapi bersama jalannya waktu, mereka digantikan oleh dewa perang yang keras. dan kita menyanyikan himne pujaan untuk keagungan sang raja, panglima perang, dan para imam besar.


Kita menciptakan kata "milikmu" dan "milikku," tanah menjadi harta milik, dan perempuan menjadi harta milik laki2, dan ayah menjadi pemilik anak2.


Jauh sudah kita tinggalkan masa kita berkelana tanpa rumah dan arah. 
hasil peradaban sungguh mengejutkan: hidup kita menjadi lebih aman tetapi kurang bebas, dan kita bekerja jauh lebih keras.

Sumber Buku: Mirrors

Pengarang Buku: Eduardo Galeano

Penerjemah: wardah hafidz

[fiq/RID]

Cermin

Sebuah kisah yang nyaris universal

[1]
Cermin penuh dengan orang. yang tak nampak melihat kita. Yang terlupakan mengingat kita.saat melihat diri, kita melihat mereka.saat kita berpaling, Mereka jugakah?.



Hidup sendirian, tanpa nama, tanpa memori. ia punya tangan, tapi tidak menyentuh.

Ia punya lidah, tapi tak ada yang diajak bicara. hidup satu, dan satu itu suwung.


Lalu Birahi mengangkat panahnya.

Anak panahnya membelah Hidup tepat di tengah, dan Hidup menjadi dua.

Saat mereka saling melihat, mereka tertawa. saat mereka saling menyentuh, mereka tertawa lagi.


Sumber Buku: Mirrors

Pengarang: Eduardo Galeano

Penerjemah: wardah hafidz

[fiq/RID]

Abad duapuluh satu sudah berjalan beberapa tahun sekarang ini, dan jumlah orang yang tidak punya rumah layak mencapai satu milyar.


Untuk memecahkan masalah ini, para ahli sedang melihat contoh Kristiani yang diberikan oleh Santo Simeon Stylites, yang selama tigapuluh tujuh tahun tinggal di atas sebuah tiang.


Pagi hari Santo Simeon akan turun untuk berdoa dan malam hari ia mengikat badannya, supaya ketika tidur tidak jatuh.


Sumber Buku: Children of the Days

Pengarang: Eduardo Galeano

Penerjemah: wardah hafidz

[fiq/RID]

Pada 2011 ribuan anak2 muda yang menganggur dan tidak punya tempat tinggal menduduki jalan2 dan lapangan kota-kota Spanyol.


Kemarahan mereka menyebar. kemarahan yang sehat ternyata lebih mudah menyebar dibanding penyakit menular, dan suara "mereka yang murka" melintasi batas2 yang digariskan di peta. kata2 mereka bergaung ke seluruh dunia: 
Mereka melemparkan kita ke jalanan cilaka ini, maka di sinilah kita.

Matikan TV dan hidupkan jalanan.

Mereka menyebutnya krisis tapi sesungguhnya perampokan.

Bukan uang yang kurang, tapi bajingan yang terlalu banyak.

Pasar yang mengatur.

Saya tidak memilih mereka.

Mereka memutuskan untuk kita tanpa kita terlibat.

Budak bayaran yang bisa disewa.

Saya mencari hak saya.

Ada yang melihatnya? kalau mereka tidak membolehkan kita bermimpi, kita buat mereka tidak bisa tidur.


Sumber Buku: Children of the Days

Pengarang: Eduardo Galeano

Penerjemah: wardah hafidz

Foto: Rivans Putra Blog


Eugène François Vidocq meninggal di Paris tahun 1857.
mulai dari saat ia mengurus toko roti ayahnya di usia empatbelas, Eugène adalah seorang pencuri, badut, preman, desertir, penyelundup, guru yang suka merayu anak2 kecil, idola bordil2, pebisnis, informan, mata2, ahli kriminologi, ahli balistik, direktor Sûreté Générale (FBInya Prancis), dan pendiri paling pertama agen detektif.

Duapuluh kali duel. lima kali menyamar biarawati atau veteran lumpuh agar bisa lari dari penjara. ia ahli menyamar, penjahat berperan polisi, polisi berperan penjahat, dan kawan dari musuhnya dan musuh dari kawan2nya. 


Sherlock Holmes dan literatur detektif ternama Eropa mengambil banyak ketrampilan dari trik2 yang dipelajari Vidocq dari kehidupannya sebagai penjahat, yang di kemudian hari digunakannya untuk melawan kejahatan.

Sumber Buku: Children of the Days

Pengarang: Eduardo Galeano

Penerjemah: wardah hafidz

Foto: indonesiadetective.com

[fiq/RID]


Sebagaimana juga kita, pohon mengingat.


Tetapi berbeda dengan kita, pohon tidak lupa: mereka membentuk lingkaran di batang mereka, satu per satu, untuk menyimpan memori.


Lingkaran itu bercerita tentang masing2 pohon, menunjukkan umurnya, yang untuk sebagian sampai dua ribu tahun, banjir, dan kekeringan yang dialaminya; lingkaran2 itu menyimpan bekas luka karena api, hama kutu dan gempa. 


Pada suatu hari seperti hari ini, seorang ahli bidang ini,  José Armando Boninsegna, mendapat penjelasan terbaik dari anak2 di sebuah sekolah di Argentina: "pohon2 kecil pergi ke sekolah dan belajar menulis. di mana mereka menulis? di perut mereka. bagaimana cara mereka menulis? dengan lingkaran yang nantinya bisa anda baca."


Sumber Buku: Children of the Days

Pengarang Buku: Eduardo Galeano

Penerjemah: wardah hafidz

[fiq/rid]


Di Meksiko malam ini, setiap tahun di malam yang sama, mereka yang hidup menjamu yang mati; orang2 yang sudah mati makan dan minum dan menari dan terlibat dalam gosip mutakhir warga. 


Ketika malam mulai turun, saat lonceng gereja dan cahaya lampu mengucapkan selamat tinggal kepada mereka, beberapa orang mati itu masih bersemangat sehingga mencoba bersembunyi di semak2 atau di belakang nisan kuburan. orang2 mengusir mereka dengan sapu: “Pergi,” “Biarkan kami tenang,” “Kami tidak mau bertemu kalian lagi sampai tahun depan.”


Benar bukan, orang-orang mati memang mengganggu.
di Haiti, menurut tradisi yang sudah sangat lama berlaku, keranda dilarang dibawa melewati jalan yang langsung ke kuburan. iring2an penguburan harus jalan berbelok dan zigzag untuk menipu si mati supaya tidak bisa menemukan jalan kembali pulang.


Orang-orang hidup yang jumlahnya minoritas harus mempertahankan diri sebaik bisa.


Sumber Buku: Children of the Days

Pengarang: Eduardo Galeano

Penerjemah: wardah hafidz

Sumber Foto: www.pixabay.com

[fiq/rid]

© PT. Aliansi Rakyat Multimedia Indonesia 2021
crossmenuchevron-down