Bahasa IndonesiaEnglish

WEBSITE RAKYAT.ID MASIH DALAM PENGEMBANGAN

Rakyat.id,-Jakarta. Program pendukungan reaktivasi industri perhotelan dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif untuk isolasi mandiri pasien Konfirmasi Tanpa Gejala memasuki tahap finalisasi dari Kementerian Kesehatan untuk melihat kesiapan hotel menerima pasien, (21/9).

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio dalam keterangannya, Senin (21/9/2020), menjelaskan, hingga saat ini dukungan dari industri perhotelan untuk program ini semakin tinggi, menunjukkan kerja sama yang kuat dari industri pariwisata dan ekonomi kreatif dalam upaya menekan penyebaran COVID-19. 

"Industri hotel harus dapat mengikuti assessment yang disyaratkan Kementerian Kesehatan. Kesiapan hotel harus dapat dipastikan Kementerian Kesehatan agar jangan sampai justru terjadi klaster baru," kata Wishnutama Kusubandio. 

Ia mengatakan hingga saat ini sudah ada 30 hotel di DKI Jakarta yang siap untuk bekerja sama. Kemenparekraf bersama Kemenkes juga sedang menyusun Standard Operating Procedure (Flowchart) mengenai mekanisme pelaksanaan, terkait bagaimana prosedur masyarakat yang positif terinfeksi COVID-19 namun tanpa gejala bisa check-in di hotel-hotel yang telah ditentukan. 

Kemenparekraf akan menyiapkan dan menanggung biaya akomodasi berupa minimal hotel sekelas atau setara bintang 3, termasuk konsumsi serta layanan binatu tiap harinya. Sementara Kemenkes akan menangani keperluan medis seperti biaya obat, ambulans juga kunjungan dokter. 

"Pemilihan hotel yang kami siapkan berdasarkan masukan dari PHRI. Selain usulan PHRI tersebut, bagi hotel yang sudah siap silakan kirim pengajuan ke Kemenparekraf/Baparekraf untuk selanjutnya ditinjau oleh Kemenkes,” kata Wishnutama. 

Deputi  Bidang Pemasaran Kemenparekraf/Baparekraf Nia Niscaya mengatakan, program ini akan difokuskan terlebih dahulu di Jakarta, kemudian menyusul beberapa provinsi lain di Indonesia hingga Desember 2020. 

Syarat untuk hotel yang menjadi mitra yaitu tidak boleh menerima tamu lain kecuali pasien konfirmasi tanpa gejala,” terang Nia Niscaya. 

Sementara Tenaga Ahli Menteri Kesehatan Bidang Krisis Kesehatan, dr. Iwan Trihapsoro yang ditunjuk sebagai PIC Kemenkes untuk program ini mengatakan, diperlukan adanya pelatihan untuk karyawan hotel agar mereka tidak takut namun tetap waspada. 

Pihak Kemenkes juga berpandangan bahwa petugas hotel dengan komorbid disarankan untuk tidak berhubungan langsung dengan pasien konfirmasi tanpa gejala, atau bisa mendapat kebijakan bekerja dari rumah (WFH) oleh manajemen hotel sehingga memerlukan koordinasi lebih lanjut. 

Nantinya, dr. Iwan menjelaskan, setiap orang yang positif COVID-19 namun tanpa gejala bisa langsung datang ke hotel dengan membawa KTP/kartu keluarga dan hasil SWAB positif. Namun sebelumnya masyarakat yang akan menggunakan fasilitas isolasi mandiri ini diharuskan untuk meminta rujukan ke Puskesmas terlebih dahulu.

Alur pasien adalah membawa hasil SWAB positif, check in hotel, diisolasi selama 14 hari. Selama di hotel akan ada visit dokter dan dilaksanakan pendataan dengan cut off time yang akan ditentukan. Dalam masa isolasi tersebut, pasien tidak diperbolehkan meninggalkan hotel dan menerima tamu,” kata dr. Iwan.  

Dengan dukungan tambahan hotel sebagai akomodasi isolasi mandiri ini, kedepannya pasien konfirmasi tanpa gejala dan dengan gejala ringan diharapkan tidak melakukan isolasi mandiri di rumah, sehingga tidak berpotensi menularkan kepada keluarga maupun orang sekitar. 

Semoga langkah ini menjadi salah satu upaya yang efektif dari pemerintah untuk menekan laju penyebaran COVID-19," kata dr. Iwan. 

Sumber & Foto: Biro Komunika KEMENPAREKRAF/BAPAREKRAF

[RID/fiq]


Rakyat.id - Jakarta. Kementerian Pariwisata dan EkonomiKreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekraf) menyebut pentingnya penataan musik bagi sektor perfilman sehingga dapat mendukung dihasilkannya karya film yang berkualitas dan menghibur, (12/09).

Direktur Pengembangan SDM Ekonomi Kreatif Kemenparekraf/Baparerkaf Muh. Ricky Fauziyani dalam pernyataannya di Jakarta, Sabtu (12/9/2020) menjelaskan, di tengah pandemi COVID-19, Kemenparekraf/Baparekraf terus mendorong para musisi tetap kreatif dan produktif dalam berkarya.

“Untuk itu, kami memfasilitasi 100 orang yang terpilih dari 158 musisi yang mendaftar pelatihan online pada subsektor musik bertajuk Suara Sinema: Film Scoring Anak Negeri (Simfoni) yang Kick Off pada Kamis, 10 September 2020,” ujarnya.

Tercatat sebagian besar pendaftar berasal dari Provinsi DKI Jakarta dan Jawa Barat. Para pendaftar menggunakan aplikasi rekaman musik yang variatif seperti Cubase, Logic Pro X, FL Studio, dan lain-lain serta sebanyak 126 pendaftar memiliki channel youtube.

Deputi Bidang Sumber Daya dan Kelembagaan, Wisnu Bawa Tarunajaya dalam sambutannya menjelaskan terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan dalam mengikuti pelatihan online yaitu integritas, harus antusias, totalitas, tentu juga kreatif dan inovatif. 

Pelatihan Simfoni tersebut didampingi narasumber profesional di bidangnya, seperti komposer dan Penata musik film Tya Subiakto, Sinematografer Agyl Shahriar, Komposer dan Pianis Kenny Febrian, Musisi Komposer dan Orkestra Alvin Witarsa, Komposer dan Produser Musik Omar Aryarindra, Komposer dan Produser Musik Philipus Yudistiro.

Lanjut Wisnu menjelaskan dengan semakin banyaknya produksi film baik di tingkat daerah maupun nasional. Maka kebutuhan komposer atau musisi penata musik film juga meningkat. Ia menilai subsektor musik memiliki peluang pertumbuhan yang pesat. 

Oleh sebab itu, lanjut Wisnu, musik masuk dalam subsektor prioritas. Bahkan pada rantai ekosistem, musik tidak berdiri sendiri sebagai subsektor utama saja, karena musik sangat dibutuhkan dan memiliki keterkaitan dengan subsektor lain, salah satunya subsektor film. 

Tidak hanya itu, lanjut Wisnu, dalam pelatihan ini harus ditumbuhkan sikap 3 K yaitu kemauan, keinginan, dan kesempatan. 

"Jika anda melakukan 3 hal tersebut, saya yakin benar cita – cita anda akan tercapai. Anda juga Harus pintar dalam berdiskusi dan jangan pernah malu- malu untuk  bertanya, karna seperti kata papatah malu bertanya sesat dijalan," pesan Wisnu kepada peserta sekaligus membuka secara resmi pelatihan online Simfoni.

Sumber & Foto: Biro KEMANPAREKRAF/BAPAREKRAF

[RID/fiq]

Rakyat.id-Manggarai Barat. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekraf) kolaborasi dengan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) mengembangkan Desa Wisata Batu Cermin di NTT di masa adaptasi kebiasaan baru, (3/9).

Direktur Pengembangan Destinasi Regional II Kemenparekraf/Baparekraf Wawan Gunawan saat Bimbingan Teknis di Desa Wisata Batu Cermin, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, Kamis (3/9/2020) menjelaskan, pihaknya berkomitmen untuk bersinergi dengan Kementerian/Lembaga mengembangkan pariwisata khususnya desa wisata yang ada di Tanah Air, di tengah pandemi COVID-19.

Pemerintah pusat berkomitmen untuk menggali potensi desa wisata tidak hanya dari sisi keindahan alamnya, namun nilai-nilai budayanya karena terbukti diminati oleh wisatawan. Untuk itu, potensi tersebut akan dioptimalkan khususnya dari lini SDM-nya,” ujarnya.

Dalam Bimbingan Teknis tersebut hadir pula, Direktur Pengembangan Sumber Daya dan Lingkungan Hidup Kementerian Desa, Pembangunan Desa Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) Dwi Rudi Hartoyo, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Manggarai Barat Agustinus Rinus, juga beberapa Pokdarwis di sekitar Batu Cermin.

Wawan juga menjelaskan, kolaborasi dengan Kemendes PDTT ini selaras dengan arahan Presiden Joko Widodo untuk mengembangkan potensi desa wisata baik atraksi, akses, dan amenitas. Terlebih lokasi Batu Cermin yang berada di wilayah destinasi super prioritas juga memiliki potensi dan keindahan yang luar biasa.

Untuk itu, kita perlu membuat program pengembangan desa wisata secara optimal. Ke depan, kami berharap desa wisata ini bisa semakin optimal memberi manfaat ekonomi bagi masyarakatnya,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur Pengembangan Sumber Daya dan Lingkungan Hidup Kementerian Desa, Pembangunan Desa Tertinggal, dan Transmigrasi Dwi Rudi Hartoyo mengatakan, percepatan pembangunan desa wisata tidak bisa dilakukan sendiri oleh pemerintah namun dibutuhkan semua stakeholder termasuk penggunaan dana desa.

Saat ini penggunaan dana desa dikontrol langsung oleh Presiden melalui Sekretariat Negara yang dilakukan secara swakelola dengan sistem padat karya tunai agar menambah kesejahteraan masyarakat desa dan pertumbuhan perekonomian di desa,” katanya.

Ia juga mengatakan selain pembangunan desa, dana desa juga dapat digunakan untuk peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM). Prioritas penggunaan dana desa itu telah diatur dalam Peraturan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Nomor 16 Tahun 2018 tentang Penetapan Prioritas Penggunaan Dana Desa Tahun 2020.

Jadi selain membangun desa, dana desa juga bisa dianggarkan untuk peningkatan SDM atau pelatihan bagi masyarakat dalam pengelolaan pariwisata,” katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Manggarai Barat Agustinus Rinus mengatakan, masyarakat di Manggarai Barat tidak boleh hanya menjadi penonton atas percepatan pembangunan pariwisata di Labuan Bajo melainkan harus menjadi tuan rumah di tempat sendiri.

Saat ini sebanyak 85 persen investor berperan mengatur pariwisata di Manggarai Barat, ke depan kita akan mengurangi dan memberi peran yang cukup bagi masyarakat, bukan sebagai subjek pembangunan pariwisata. Salah satunya pengelolaan Desa Wisata Batu Cermin yang sudah dikelola oleh masyarakat,” katanya.

Agustinus juga mengatakan, Labuan Bajo hanya sebagian kecil wilayah di Kabupaten Manggarai Barat, sementara Batu Cermin juga hanya salah satu desa dari 169 desa dan kelurahan di wilayah itu. Sebanyak 70 persen wilayahnya adalah laut dengan 264 pulau.

Saya berharap pengembangan sektor pariwisata dapat merata secara menyeluruh. Sehingga wisatawan yang datang ke Labuan Bajo bisa menikmati berbagai atraksi selain melihat Komodo di Taman Nasional Komodo,” ujarnya.

Sumber & Foto: Biro Komunikasi KEMENPAREKRAF/BAPAREKRAF

[RID/fiq]

Rakyat.id, - Jakarta. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menggelar pelatihan pembuatan tur virtual kepada para pemandu wisata atau pramuwisata dan pengelola desa wisata sebagai upaya percepatan adaptasi dan pemanfaatan peluang di masa pandemi COVID-19 sekaligus mendorong percepatan transformasi SDM pariwisata berbasis digital, (29/08).

Deputi Bidang Sumber Daya dan Kelembagaan Kemenparekraf/Baparekraf, Wisnu Bawa Tarunajaya, Jumat (28/8/2020), mengatakan pandemi COVID-19 menuntut SDM pariwisata untuk beradaptasi dengan kebiasaan baru dan bertransformasi ke arah digital, salah satunya dalam memandu wisata.

Maka, sebagai upaya percepatan adaptasi baru, untuk bertransformasi dari manual menjadi digital, diperlukan peningkatan pemahaman dan pembekalan dalam penguasaan teknologi bagi para pramuwisata dan pengelola desa wisata, agar mereka tetap produktif dan dapat bersaing secara digital,” kata Wisnu.

Wisnu membuka pelatihan tersebut secara resmi pada Rabu (26/8/2020).

Pelatihan tur virtual ini dilakukan secara online/daring dan terbagi dalam dua tahap berdasarkan wilayah regional. Yaitu regional I (Sumatera dan Jawa) dan regional II (Kalimantan, Sulawesi, Bali, NTT, NTB, Maluku, Maluku Utara, Papua, dan Papua Barat).

Untuk tahap I, diberikan bagi pramuwisata dan pengelola desa wisata wilayah Regional II, dengan durasi waktu selama 10 hari untuk masing-masing Batch (4 Batch). Pelatihan untuk tahap I ini berlangsung dari 26 Agustus hingga 25 September 2020.

Dalam pelatihan virtual tour ini, pramuwisata dan pengelola desa wisata dibekali materi terkait teknik dasar memandu secara digital sampai dengan strategi pemasarannya.

Virtual tour ini dianggap sebagai nilai positif yang dapat diambil dari dampak pandemi COVID-19, berupa tambahan sarana berwisata atau promosi destinasi wisata serta sebagai salah satu alternatif bidang pekerjaan. 

Virtual tour ini sifatnya bukan menggantikan wisatawan untuk berwisata secara langsung, akan tetapi sebagai bentuk diversifikasi dari produk atau sarana yang sudah ada, misalnya untuk mengenalkan dan memberikan gambaran awal bagi wisatawan tentang destinasi yang akan dikunjungi,” kata Wisnu.  

Dalam Pelatihan Virtual Tour ini, Kemenparekraf bekerja sama dengan Atourin, yaitu perusahaan start up yang memiliki pengalaman dalam bidang travel planner, dan pelatihan virtual tour bagi para pramuwisata. Selain itu, pelatihan ini juga melibatkan Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI), yang berperan sebagai narasumber dalam teknik bercerita (story telling).

Selama pelatihan ini, pramuwisata dan pengelola desa wisata akan dilatih dan dikenalkan dengan Platform Online Meeting, Google Maps, membuat Itinerary/Rute Virtual Tour, teknik kepemanduan virtual tour, dan strategi pemasaran virtual, serta diberikan simulasi cara pembuatan virtual tour. 

Wisnu berharap agar pramuwisata dan pengelola desa wisata dapat dilatih tentang pelayanan berkualitas (service excellence), cara menggali potensi (mulai dari bahan mentah, proses, produk jadi), exploring, packaging dan presenting, sehingga tercipta produk bagi wisatawan (to do, to see, to learn, to buy).

Pramuwisata dan pengelola desa wisata juga akan diberikan tugas membuat virtual tour di destinasi wisatanya sendiri, namun tetap dengan didampingi fasilitator dari Atourin dan HPI. Sehingga diharapkan melalui pelatihan ini, selain dapat meningkatkan kompetensi dalam penguasaan dan pemanfaatan teknologi, khususnya dalam membuat virtual tour, juga menjadi solusi alternatif bagi pramuwisata dan pengelola desa wisata agar tetap dapat memiliki penghasilan dan bersaing di masa pandemi.

"Kami berharap setelah pelatihan ini pramuwisata dan pengelola desa wisata akan mampu mengaplikasikan ilmunya dengan memproduksi virtual tour di destinasi wisatanya masing-masing, dan ini menjadi solusi atau inovasi pekerjaan baru di masa pandemi ini," ujarnya.

Sumber & Foto: (Biro Komunikasi Kemanparekraf)

[RID/fiq]

Rakyat.id,-Jakarta. – Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif mengoptimalkan penggunaan desain dan storytelling dalam mengembangkan dan memasarkan produk para pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif, (28/08).

Direktur Kajian Strategis Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf), Wawan Rusiawan, Jumat (28/8/2020), menekankan pentingnya penggunaan disain dan narasi yang kuat bagi pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif dalam memasarkan produk mereka sehingga semakin menarik perhatian konsumen.

“Kita memiliki banyak produk. Sayangnya pelaku parekraf belum memiliki kemampuan untuk mengimplementasikan sebuah produk ke dalam desain yang menarik dan narasi yang kuat. Oleh karena itu, desain dan narasi menjadi suatu hal yang sangat penting yang harus dimiliki oleh pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif, agar dapat menciptakan produk yang luar biasa,” ujar Wawan.

Untuk mendukung hal itu, para pelaku ekonomi kreatif harus terlebih dahulu melakukan pengkajian data yang cukup lengkap. Sebab Wawan menilai pentingnya kelengkapan data dalam hal apapun, termasuk untuk sebuah produk yang akan menggerakkan seseorang untuk bertindak atau memutuskan membeli.

“Ketika kita berbicara mengenai data, maka data merupakan komponen penting dalam kegiatan riset dan kajian studi. Kita dapat mentransformasikan data menjadi sebuah informasi yang akhirnya menjadi basis dalam pengambilan keputusan secara tepat,” kata Wawan.

Untuk itu, Kemenparekraf/Baparekraf menggelar seminar daring Bincang Inklusif Seputar Metadata (BISMA). Melalui kegiatan ini para pelaku usaha parekraf dibekali pemahaman sekaligus bisa berbagi pengetahuan terkait cara membuat desain dan narasi dengan baik dan menarik serta sebagai sarana mengumpulkan infromasi berbasis data pelaku parekraf.

Seminar daring ini menghadirkan dua narasumber yakni Desainer Sugeng Untung dan Produser Film dan Penulis Buku Handoko Hendroyono.

Dalam paparannya, Produser Film dan Penulis Buku, Handoko Hendroyono, mengatakan storytelling sangat penting bagi conscious consumer. Dimana konsumen memiliki rasa kepedulian dan kesadaran akan kebaikan dan tanggung jawab. “Sebagai contoh, ketika konsumen minum kopi, mereka memiliki rasa ingin tahu yang cukup besar mengenai background dari kopi tersebut, seperti petani nya siapa, bagaimana cara mengolah kopi, jenis-jenis kopi, manfaat kopi, dan lain sebagainya. Informasi seperti ini bisa kita kemas melalui storytelling yang baik,” ujar Handoko.

Dengan storytelling para pelaku parekraf dapat memperkenalkan sebuah produk atau karya dengan menceritakan nilai atau makna yang terkandung di dalamnya. Sehingga, menciptakan kesan atau energi positif yang menyentuh hati dan menciptakan hubungan emosional antara produk dengan konsumennya.

Handoko menyarankan ketika para pelaku parekraf membuat sebuah produk maka harus memulai dengan narasi yang benar. Narasi tidak selalu dalam bentuk alur cerita tetapi juga alur strategi. “Seperti, waktu lalu, ketika mendirikan M-bloc. Narasi dimulai dengan melakukan press conference, tujuannya adalah untuk mempresentasikan sekaligus memperkenalkan konsep M-bloc agar menarik perhatian talent-talent terbaik di bidangnya, baik film, fashion, musik, maupun food and beverage,” ujar Handoko.

Menurut dia, dengan menggandeng talent-talent terbaik untuk melakukan kolaborasi makanakan menciptakan jejaring kerja yang luas. “Karena bisnis adalah connecting the dots bukan mengalahkan lawan, bagaimana kita bisa berkolaborasi dengan berbagai pihak menjadi suatu hal yang sangat penting,” kata Handoko.

Ia melanjutkan, langkah selanjutnya ketika brand sudah berkembang pesat, maka para pelaku parekraf pun tetap harus terus melakukan inovasi dan menciptakan kreativitas tanpa henti. “Setelah sukses pun, kita harus membuat narasi-narasi kembangan baru untuk memperkuat culture narasi yang lama,” jelas Handoko

Desainer, Sugeng Untung, menambahkan, selain narasi, hal penting lainnya yang perlu diperhatikan dalam mengembangkan dan memasarkan produk adalah desain. “Di era global, produsen produk harus mencari tahu apa yang dibutuhkan dan diinginkan oleh konsumen. Meski, konsumen itu sendiri sesungguhnya belum memikirkan produk tersebut. Dalam konteks itu, sebuah produk harus adaptif terhadap perkembangan dan perubahan zaman,” kata Sugeng.

Ia melanjutkan, zaman dan pola pikir konsumen akan sangat mempengaruhi eksistensi sebuah produk. “Keinginan konsumen akan sebuah produk itu berkembang seiring dengan perubahan zaman. Sebagai contoh kipas angin. Dahulu, kipas angin memiliki model dan desain yang standar. Tetapi seiring perkembangan dan kebutuhan konsumen, maka desain kipas angin pun berubah dengan berbagai macam jenis,” ungkap Sugeng.

Oleh karena itu, ia menekankan, desain dan storytelling memiliki value yang besar bagi sebuah produk. “Semua produk, pasti mempunyai desain dan storytelling. Tidak ada satupun produk di dunia ini yang tidak didesain. Desain adalah proses pemecahan masalah, solusi dan inovasi, serta interaksi yang berujung pada kepuasan konsumen. Produk yang baik pasti akan laku. Kalau tidak laku pasti ada kekeliruan pada desain,” kata Sugeng.

Oleh karena itu, ia menegaskan, penting bagi pelaku parekraf untuk memperhatikan desain pada sebuah produk. Sebab desain yang menarik mampu menjadikan produk untuk memiliki daya tarik lebih bagi konsumen.

Sumber & Foto: Biro Komunikasi Kemenparekraf

[RID/fiq]

Jakarta, 25 Agustus 2020 - Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekraf) menggandeng Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) bekerja sama dalam pengkajian dan penerapan teknologi untuk mendukung sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.

Penandatanganan nota kesepahaman bersama (MoU) antara dua pihak dilakukan bersamaan dengan acara puncak perayaan HUT ke-42 BPPT yang mengambil tema "Membangun Ekosistem Inovasi Teknologi untuk Indonesia Maju" di Auditorium Gedung BJ Habibie, Jakarta, Senin (24/8/2020). Penandatanganan dilakukan secara simbolis oleh Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Wamenparekraf) Angela Tanoesoedibjo dengan Kepala BPPT Hammam Riza.

Pada kesempatan itu, hadir pula Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (Menristek/Kepala BRIN) Bambang P.S Brodjonegoro, Kepala Staf Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat Jenderal TNI Andika Perkasa, Presiden Komisaris PT Tempo Scan Pacific Tbk Handojo S. Muljadi, serta Kepala BNPB/Ketua Satgas Percepatan Penanganan COVID-19 Doni Monardo yang hadir secara virtual.

Wamenparekraf Angela Tanoesoedibjo menjelaskan, nota kesepahaman ini sangat penting untuk memajukan sektor parekraf dalam menghadapi tantangan ke depan. Terlebih dimasa pandemi ini, ketika teknologi sangat diperlukan untuk mempermudah komunikasi dan kolaborasi dengan berbagai pihak.

Sementara itu, dalam sambutannya Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Hammam Riza mengatakan pihaknya akan terus menggaungkan transformasi teknologi dan transformasi digital.

"BPPT siap mewujudkan lompatan besar inovasi, mendukung cita-cita Indonesia Maju menuju negara berbasis inovasi," ujar Hammam.

Hammam Riza juga mengatakan, untuk menghadirkan inovasi dan layanan teknologi terbaik demi mewujudkan visi Indonesia Emas 2045, memang membutuhkan kolaborasi semua pemangku kepentingan dalam sebuah ekosistem inovasi. Ekosistem inovasi pentahelix, mengusung pola kerja sama antarpemerintah, industri/bisnis, akademisi, hingga dukungan komunitas maupun media massa.

"Semua unsur tersebut merupakan pemangku kepentingan penyelenggara Iptek dalam menghasilkan produk inovatif buatan Indonesia," katanya.

Sumber & Foto: Biro Komunikasi KEMENPAREKRAF

[RID/fiq]

Rakyat.id, -Jakarta, 19 Agustus 2020. - Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif mendorong para pelaku wisata dan penggemar pendakian gunung menerapkan protokol kesehatan berbasis CHSE (Cleanliness, Healthy, Safety, and Environmental Sustainability).

Hal tersebut disosialisasikan dalam Simulasi Penerapan Protokol Kesehatan berbasis CHSE di Gunung Papandayan, Garut, Jawa Barat, Sabtu (15/8/2020) hingga Senin (17/8/2020). Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggara Kegiatan (Events) Kemenparekraf/Baparekraf, Rizki Handayani, dalam keterangannya, Selasa (18/8/2020), mengatakan protokol kesehatan berbasis CHSE memiliki peranan penting untuk membangkitkan kembali sektor pariwisata, terutama di bidang aktivitas wisata minat khusus.

“Protokol kesehatan berbasis CHSE berperan penting untuk meningkatkan kepercayaan wisatawan di masa adaptasi kebiasaan baru. Dengan meningkatnya kepercayaan wisatawan, maka sektor pariwisata bidang aktivitas minat khusus bisa bangkit kembali,” kata Rizki.

Dalam sosialisasi ini, Kemenparekraf/Baparekraf menggandeng keikutsertaan influencer, rumah produksi film/production house, dan media. Menurut Rizki, ketiga pihak ini punya peranan penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terkait pentingnya penerapan protokol kesehatan berbasis CHSE.

“KOL (Key Opinion Leaders), media nasional, dan production house berperan dalam memviralkan #HikingPapandayan serta mengedukasi para followers-nya mengenai pelaksanaan CHSE. Khususnya di destinasi wisata pendakian gunung,” katanya.

Adapun influencer yang dihadirkan dalam simulasi ini adalah artis Adinda Thomas dan pegiat Zero Waste Adventure, Siska Nirmala. Selain mengadakan simulasi penerapan protokol kesehatan berbasis CHSE, pada Senin (17/8/2020), Kemenparekraf/Baparekraf juga memberikan bantuan berupa sepatu pendakian, jas hujan, tas ransel, serta topi rimba kepada 380 anggota Asosiasi Pemandu Gunung Indonesia (APGI). APGI merupakan komunitas pendakian dari perguruan tinggi dan masyarakat sekitar destinasi pendakian gunung di seluruh Indonesia.

Rizki mengungkapkan bantuan ini merupakan bentuk komitmen Kemenparekraf/Baparekraf untuk membantu sektor pariwisata dan ekonomi kreatif sekaligus memberdayakan pelaku UMKM. Produk dan barang yang disumbangkan tersebut merupakan produk buatan dalam negeri dari berbagai daerah.

Menurut Rizki, membeli produk dalam negeri dapat meningkatkan produsen lokal. Menggunakan produk lokal juga mendongkrak perekonomian daerah, menghindari ancaman resesi, dan memupuk kepercayaan dan rasa bangga dengan produk buatan Indonesia sesuai tujuan program Bangga Buatan Indonesia (BBI).

“Bantuan ini kami berikan untuk membangkitkan semangat yang lebih besar bagi pekerja pariwisata terdampak pandemi COVID-19 agar dapat kembali membangun pariwisata Indonesia di masa adaptasi kebiasaan baru, sekaligus bertepatan dengan momen HUT ke-75 Republik Indonesia yang bertajuk Indonesia Maju,” ujar Rizki.

Sumber & Foto: Biro Komunikasi Kemenparekraf

[RID/fiq]

Rakyat.id, - Jakarta, 1 Juli 2020. Artificial Intelligence dinilai sebagai salah satu teknologi yang patut diantisipasi perkembangannya oleh para pelaku ekonomi kreatif karena dapat memberi banyak kemudahan, terutama dalam mengkonstruksi data untuk diterjemahkan ke dalam karya yang disukai banyak orang. 

Hal tersebut dikatakan Ari Juliano Gema, Staf Ahli Menteri Bidang Reformasi dan Regulasi Kemenparekraf dalam diskusi Regulasi Ekonomi Digital dengan tema "Bagaimana Artificial Intelligence (AI) Mempengaruhi Sistem Hak Cipta?", Selasa (30/6/2020). 

"Pada umumnya AI merupakan disiplin ilmu komputer yang ditujukan untuk mengembangkan mesin dan sistem yang dapat melakukan tugas yang dianggap membutuhkan kecerdasan manusia," kata Ari Juliano Gema. 

Ia memberi contoh beberapa karya dari AI yang begitu menakjubkan. Diantaranya "The Next Rembrandt", yakni sebuah proyek iklan yang dipesan oleh ING Bank kepada J. Walter Thompson, sebuah biro periklanan pada 2016. Proyek AI ini menganalisis 346 lukisan karya Rembrandt van Rijn, pelukis Belanda yang juga dikenal sebagai pelukis terbesar dalam sejarah seni Eropa. 

Hingga sampai pada sebuah kesimpulan bahwa jika Rembrandt masih hidup saat ini, kemungkinan besar ia akan melukis seorang pria berusia 30-40 tahun, memakai baju hitam dan topi, serta posisi wajah dari sisi kanan. "Iklan tersebut kemudian memenangkan lebih dari 60 penghargaan periklanan," kata Ari Juliano

Selain itu, program AI juga telah memungkinkan untuk membuat sebuah novel. Contohnya novel yang diciptakan melalui sebuah perangkat lunak yang dikembangkan oleh Hitoshi Matsubara dan timnya di Future University Hakodate, Jepang. Novel dari hasil AI tersebut kemudian diikutkan dalam lomba, bersaing dengan novel-novel terbaik di Jepang dan hampir memenangkan lomba tersebut. 

Atau program dari BOTNIK, dimana program AI ini menganalisis tujuh novel Harry Potter mulai dari gaya penulisan dan lainnya, hingga akhirnya program AI ini bisa menghadirkan buku lanjutan novel Harry Potter. 

"Novel Harry Potter sudah tamat, namun menggunakan AI dapat menganalisis 7 novel Harry Potter dan muncullah novel buatan BOTNIK yang orang-orang mengapresiasi dan tidak menyangka bahwa novel tersebut dibuat melalui sebuah program AI," kata Ari. 

Ibarat dua sisi mata uang, kemajuan teknologi ini selain menawarkan banyak kemudahan sekaligus dapat memberi ancaman bagi para pelaku ekonomi kreatif dari sisi orisinalitas dan hak cipta. Di sinilah diperlukan antisipasi bersama dari seluruh pemangku kepentingan ekonomi kreatif untuk dapat mendorong hadirnya produk hukum yang dapat melindungi para pelaku ekonomi kreatif ke depannya. 

"Masalahnya ketika AI itu yang mengandung ““DNA”” dari karya orang lain digunakan oleh orang yang tidak berhak, dalam hal ini bukan pencipta dan bukan pemegang hak cipta, tentu akan bermasalah ketika dia menghasilkan sebuah karya," kata Ari.  

Untuk itu perlu diatur dengan jelas seberapa besar keterlibatan seseorang yang memakai aplikasi AI untuk menghasilkan sebuah karya dalam merancang, membuat, memimpin dan mengawasi, pembuatan karya tersebut sehingga dapat dikategorikan sebagai pencipta karya tersebut menurut UU Hak Cipta. 

Asosiasi atau organisasi pelaku ekraf pun didorong untuk membuat panduan mengenai batasan kemiripan substansial atas suatu karya di bidangnya masing-masing. Sehingga dapat mengantisipasi karya yang dibuat aplikasi AI dari "“DNA”" karya-karya yang sudah ada. 

Sehingga hasil apapun yang ada di pasar baik dari pribadi ataupun AI sudah dapat diklasifikasi apakah melanggar hak cipta atau tidak," kata dia. 

"Kita harus dapat merespons perkembangan teknologi khususnya yang mendorong inovasi ekonomi digital, sehingga nantinya kita tidak ketinggalan jauh dari perkembangan teknologi dalam membuat kebijakan hukum dan regulasi. Segala hal soal dampak positif dan negatif dapat diantisipasi dengan adanya produk hukum yang melindungi dari dekat," ujar Ari.  

Hal senada dikatakan Direktur Jenderal Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan HAM, Freddy Harris yang menyebutkan hukum akan selalu berkembang dan mengikuti perkembangan yang ada. 

Ia pun menilai Artificial Intelligence ke depan dapat menjadi subyek hukum yang sama dengan perorangan maupun badan hukum-korporasi karena memiliki fungsi-fungsi yang sama seperti pembawa hak, pemilik hak ekonomi, pemilik hak moral, pemilik hak terkait, dan lainnya. 

"Seseorang bisa didenda, dikenakan ganti rugi, dan lainnya. Hanya saja saat ini 'rumah' atau aturannya belum dibuat. Tapi kita akan ke sana, mari kita pikirkan kemungkinan bahwa AI bisa menjadi subjek hukum masa depan," kata Freddy. 

Sementara Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio mengatakan, perkembangan ekonomi digital ke depan harus dapat diimbangi dengan kemampuan peningkatan keamanan data. Ini menjadi salah satu poin penting yang harus dapat diantisipasi seluruh pemangku kepentingan terkait, termasuk di sektor ekonomi kreatif, dalam transformasi dunia digital. 

"Kedaulatan data juga hal krusial karena menyangkut ekosistem ekonomi digital, kedaulatan data sangat penting untuk membangun ekonomi digital ke depan," ujar Wishnutama. 

Indonesia harus benar-benar bisa mewujudkan kedaulatan data agar potensi lokal kita bisa lebih kompetitif dan dapat bersaing dengan berbagai platform digital atau produk buatan luar. 

"Melalui diskusi ini diharapkan ada masukan mengenai hal-hal yang perlu dikembangkan ke depan dalam bentuk regulasi dan kebijakan di Indonesia dalam mengantisipasi perkembangan ekonomi digital ke depan," kata Wishnutama. 

Sumber & Foto : Agustini Rahayu
Kepala Biro Komunikasi
Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif
.

[fiq/RID]

Rakyat.id - Jakarta 25 Juni 2020 - Donasi terkumpul sebesar Rp 4.172.688.045 ( Empat Milyar Seratus Tujuh Puluh Dua Juta Enam Ratus Delapan Puluh Delapan Ribu Empat Puluh Lima Rupiah ) dari Konser Solidaritas Bersama Jaga Indonesia yang digelar oleh praktisi di dunia kreatif, musik, film, media, event, yang dilaksanakan beberapa waktu yang lalu, didistribusikan ke pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif yang terdampak COVID-19.

Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggaraan Kegiatan (Events) (Kemenparekraf/Baparekraf) Rizki Handayani dalam pernyataannya di Jakarta, Rabu (24/6/2020) menjelaskan, konser yang diinisiasi Komunitas Bersama Jaga Indonesia yang berlangsung pada 16 Mei 2020 itu bertujuan untuk memberikan semangat inspirasi sekaligus menggalang dana bagi pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif yang terdampak COVID-19.

“Terima Kasih kepada semua pihak telah ikut berdonasi dan Komunitas Jaga Indonesia atas dukungannya kepada masyarakat Parekraf, dari konser berdurasi sekitar 2 jam yang sukses digelar, dana yang terkumpul telah disalurkan bagi mereka yang membutuhkan khususnya di sektor parekraf,” kata Rizki Handayani.

Konser tersebut disiarkan beberapa televisi swasta nasional serta dimeriahkan puluhan artis, musisi, serta insan kreatif Indonesia.

Rizki menjelaskan, donasi yang terkumpul dari masyarakat dan sponsor diantaranya MNC Peduli, Bank Mandiri, Tokopedia, Grab, Sasa, dan Indomie, akan disalurkan secara bertahap.

Pada tahap pertama dana yang akan disalurkan sebanyak Rp1.955.492.201 ditranfer langsung dari rekening KitaBisa.com dan BenihBaik.com ke rekening asosiasi penerima donasi. Untuk tahap selanjutnya, Komunitas Bersama Jaga Indonesia akan mendistribusikan dana yang tersisa kepada komunitas yang sudah menyerahkan kelengkapan dokumennya.

“Donasi yang diberikan diharapkan mampu membantu serta mengurangi dampak negatif COVID-19 terhadap para pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif di tanah air, dan memberikan angin segar di tengah pandemi yang sedang melanda negeri ini,” katanya.

Asosiasi dan pelaku parekraf yang menerima donasi tersebut diantaranya Asosiasi Pelaku Pariwisata Indonesia (ASPPI), Asosiasi Spa Terapis Indonesia (ASTI), Federasi Arung Jeram Indonesia (FAJI), Indonesia Tour Leader Association (ITLA) Perkumpulan Usaha Wisata Selam Indonesia (PUWSI), Jogja Festival dan Backstagers.

Selain itu Badan Perfilman Indonesia (BPI), Indonesian Contemporary Art & Design ( ICAD ), Ikatan Pecinta Batik Nusantara, Ikatan Manajer Artis Indonesia ( Imarindo ), Indonesia Event Industry Council (Ivendo), Institut Musik Jalanan (IMJ), Persatuan Artis Penyanyi , Pencipta Lagu dan Pemusi Republik Indonesia (PAPPRI ) Rumah Sanur, Spedagi, Teater Salihara, Yayasan Rumah Beta Timur, Asosiasi Disain Grafis Indonesia (ADGI) Rumah Sakit di Papua seperti RSUD Merauke, RSUD Manokwari, Puskesmas Sanggeng, Papua, RSUD Biak Papua, dan RSUD Jayapura.

Sumber & Foto:
Agustini Rahayu
Kepala Biro Komunikasi
Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif

[fiq/RID]

Rakyat.id - Jakarta, 24 Juni 2020 - Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekraf)

Memberikan dukungan dalam penyelenggaraan wisata edukasi kreatif virtual bagi anak-anak di Indonesia dengan tajuk Safari Kreasi yang akan dilaksanakan selama tiga hari pada 6, 8, dan 10 Juli 2020.

Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggara Kegiatan (Events) Kemenparekraf/Baparekraf Rizki Handayani dalam pernyataannya Selasa (23/6/2020) menjelaskan, virtual event ini ditujukan untuk mengenalkan 3 Destinasi Super Prioritas di Indonesia kepada anak-anak yakni Borobudur (Jawa Tengah), Danau Toba (Sumatera Utara), dan Labuan Bajo (Nusa Tenggara Timur).

Melalui virtual event Safari Kreasi ini, Kemenparekraf/Baparekraf mendukung PT. Maha Kreasi Indonesia (Maximum Ultimate) yang ingin memberikan opsi aktivitas untuk anak-anak selama liburan sekolah di saat pandemi COVID-19. Aktivitas yang dilakukan memuat konten positif, mendidik dan menyenangkan, mudah diakses, dan mengandung nilai-nilai lokal Indonesia,” katanya.

Rizki Handayani mengatakan, di dalam virtual event ini nantinya anak-anak juga akan mengikuti workshop menarik di setiap destinasi. Workshop yang terinspirasi dari kebudayaan dan keragamaan di Indonesia sehingga diwujudkan dalam kegiatan Wayang Kreasi, Kreasi Ulos, dan Puzzle 3D, dengan memanfaatkan barang-barang yang mudah didapatkan di rumah.

Kami berharap virtual event ini dapat menginspirasi seluruh pelaku industri dan komunitas event di Indonesia untuk terus berkreasi dan menciptakan virtual event lainnya sebagai salah satu alternatif bisnis baru di industri event pariwisata dan ekonomi kreatif Indonesia. Sekaligus juga ingin membantu orang tua dalam memilihkan kegiatan yang positif selama anak-anak mereka di rumah,” katanya.

Tiket virtual event Safari Kreasi dapat dibeli melalui platform ticketing daring yang bekerja sama dengan Safari Kreasi, atau bisa menghubungi narahubung yang berada di poster. Sebagian keuntungan penjualan tiket virtual event Safari Kreasi akan disumbangkan untuk beberapa komunitas lokal di daerah destinasi.

Acara Safari Kreasi akan dipandu oleh Kak Jay, Kak Tia, dan karakter yang terinspirasi dari spesies endemik Indonesia, Luwak, yang bernama LULU (LUwak LUcu),” katanya.

Sumber & Foto:

Agustini Rahayu
Kepala Biro Komunikasi
Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif

© PT. Aliansi Rakyat Multimedia Indonesia 2021
crossmenuchevron-down