Bahasa IndonesiaEnglish

WEBSITE RAKYAT.ID MASIH DALAM PENGEMBANGAN

Sejak tahun 2010 deru penyelamatan Kawasan Situs Biting bekas ibu kota Arya Wiraraja dari penghancuran besar-besaran oleh pengembang perumahan terus bergema.

Tidak hanya di Lumajang namun juga sudah terdengar sampai di seluruh pelosok Nusantara termasuk Pulau Dewata yang mana berdiam hampir 500 ribu keturunannya yang tergabung dalam Paguyuban Arya Wang Bang Pinatih (AWBP).

Pada tahun 2012, ketika pihak pengembang sedang gencar meluaskan pembangunannya, diadakan Napak Tilas Pagelaran Seni Budaya Nusantara yang berlangsung 2 hari 1 malam. Pihak pelestari yang diwakili LSM MPPM Timur, KMPL dan MWKL bersama masyarakat Biting bahu-membahu memberi sosialisasi kepada masyarakat Lumajang tentang perlunya penyelamatan kawasan Situs Biting.

Acara Napak Tilas dilaksanakn kedua kalinya dengan undangan pihak AWBP dari pulau Dewata. Pihak AWBP kemudian menyumbang CUNGKUP penutup petilasan yang diyakini dahulunya adalah sebuah CANDI PENDARMAAN Arya Wiraraja. Perancangnya adalah Ir. Mangku Karda seorang arsitek dan juga pemuka agama Hindu.

Untuk mempererat tali persahabatan dan kekeluargaan antara warga Hindu dengan umat Islam ditancapkanlah sebuah PAKU EMAS yang bermakna material maupun spiritual.

#MasMansoer

#Sejarah

#AryaWiraraja

Sumber & Foto: Mas Mansoer Channel

Sejarawan : Mansoer Hidayat

link terkait : https://www.youtube.com/watch?v=56k2z6pMtl4

Kabupaten Lumajang merupakan suatu wilayah yang mempunyai peninggalan bersejarah atau Cagar Budaya era Klasik atau kerajaan Hindu Budha lebih dari setengah dari 21 Kecamatan yang ada di wilayah tersebut. Jikalau di hitung dengan Cagar Budaya era Kolonial, mungkin hampir seluruh wilayahnya terdapat jejak – jejak Cagar Budaya.

Untuk era pra sejarah sampai klasik, penemuannya telah diawali sejak jaman Kolonial yaitu ketika J. Hageman,  seorang misionaris  Belanda melakukan perjalanan ke ujung timur Jawa dan pada tahun 1861 sampai di Kawasan Situs Biting.

Ia  kemudian melaporkan penemuan tersebut  dan oleh Dinas Arkeologi Hindia Belanda(Oudheidkundige Dienst) pada tahun 1920- 1923 dilakukan adanya penggalian awal maupun pemotretan yang dipimpin oleh seorang arkeolog kenamaan saat itu yaitu Van Stein Callenfels yang dibantu oleh administratur A. Muhlenfeld. 

Hasilnya dilaporkan bahwa di kawasan situs Menak Koncar yang ada di Desa Kutornon terdapat penemuan besar berupa tembok batu bata yang mesti diteliti lebih mendalam. Kemudian Dinas Arkeologi Hindia Belanda pada sekitar tahun 1941-an melakukan pemugaran-pemugaran awal terhadap situs Candi Agung di Desa Randuagung.

Pada masa kemerdekaan, survey terhadap peninggalan bersejarah di Lumajang terus berlanjut meski ahli purbaka yang ada masih terbatas. Dalam laporan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan tahun 1954 dilaporkan ada penemuan batu bertulis di daerah Pasrujambe, Kabupaten Lumajang. Namun karena minimnya ahli epigrafi saat itu maka laporan tersebut hanya berisikan informasi lapangan terkait adanya 16 batu bertulis.

Penelitian yang intens dari para ahli purbakala (arkeolog) dilakukan pada tahun 1980-an oleh Balai Arkeologi (Balar) Yogyakarta untuk menggali informasi terhadap tembok batu bata kuno di Desa Kutorenon Kecamatan Sukodono atau yang dikenal dengan sebutan Kawasan Situs Biting dewasa ini.

Penelitian terhadap Situs Biting sendiri dilakukan sampai 12 tahap sejak tahun 1982 – 1991. Pada tahun 1990-an penelitian terhadap peninggalan bersejarah di Kabupaten Lumajang dilakukan kembali oleh Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas) dan kemudian juga diulangi lagi oleh inventarisasi oleh Badan Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jawa Timur pada tahun 1995.

Namun sayangnya keperdulian para peniliti ini belum bersinergi dengan kesadaran masyarakat maupun kemauan politik dari pemerintah. Pada rentang waktu tahun 1960-an sampai sekarang ini banyak peninggalan bersejarah yang ada di Kabupaten Lumajang yang menjadi korban pencurian dam penjarahan untuk diperjual-belikan dan kemudian perusakan oleh orang – orang dengan tendensi keagamaan tertentu.

Penjarahan yang berujung perusakan Candi Agung di Kecamatan Randuagung, perusakan Lingga Yoni di Candipuro karena dianggap menyembah batu dan perhancuran Arca Nandi yang merupakan hewan suci kendaraan Betara Syiwa di Kunir pada tahun 2000-an maupun pencurian Lingga Yoni 2 bulan lalu di Yosowilangun.

Disamping perusakan yang sifatnya insidentil oleh peseorangan atau sekelompok masyarakat, ada juga perusakan yang sifatnyasistematisdanmasif.

Pada tahun 1995 ijin prinsip proyek pembangunan perumahan di Dusun Biting dikeluarkan. Pada tahun 1996 pembangunan perumahan yang merusak area situs dimulai dengan adanya pembangunan jalan yang banyak mengangkat struktur batu bata di kawasan yang pernah di teliti secara intensif oleh Balai Arkeologi (Balar) Yogyakarta.

Banyak protes dilakukan terhadap pembangunan perumahan oleh pengembang tersebut, namun semuanya tidak digubris sehingga perusakan areal situs ini berjalan secara masif di kawasan sekitar 15-an hektar tersebut.

Pada akhir tahun 2010 kemudian muncul sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) bernama Masyarakat Peduli Majapahit Timur (MPPM Timur) yang bertujuan untuk menyelamatkan Kawasan Situs Biting supaya terhindar dari kerusakan yang lebih parah.

Lembaga Swadaya Masyarakat ini kemudian di dukung oleh sekelompok mahasiswa yang menamakan diri Komunitas Masyarakat Peduli Lumajang (KMPL) dan berbagai elemen masyarakat maupun pemuda dan pelajar di Lumajang, dukungan para pelestari di seluruh Indonesia termasuk Paguyuban Arya Wang Bang Pinatih (AWBP) yang merupakan keturunan Arya Wiraraja dari pulau Dewata  dan tidak ketinggalan para netizen dari seluruh penjuru tanah air.

Perjuangan penyelamatan Kawasan Situs Biting ini berjalan naik turun selama bertahun – tahun sampai kemudian memuncak pada tahun 2013.

Setelah perjuangan yang cukup intens untuk menyelamatkan Kawasan Situs Biting sejak tahun 2011 dan kemudian terjadi gencatan senjata pada sekitar tahun 2012-an karena pihak pengembang mengendorkan pembangunan perumahan.

Tahun 2013 cerita tentang pelestarian peninggalan bersejarah atau Cagar Budaya di Kabupaten Lumajang sedang mengalami ujian dan cobaan yang dahsyat. Pada awal Januari 2013 tiba – tiba pihak pengembang melakukan pembangunan perumahan kembali dengan melakukan “pembuldozeran” yang menyebabkan banyak artefak terangkat ke permukaan dan hancurnya dinding benteng sebelah barat.

Namun kekuatan dari pelestari setelah berlangsung 2 tahun sudah mulai compang – camping dikarenakan ada yang mulai berkarir di berbagai bidang dan juga perbedaan pendapat dalam menghadapi serangan baru tersebut. Pada awal tahun 2013, praktis para pelestari masih diam dan belum bersikap sehingga baru pada Juni kami melakukan protes terbuka.

Perusakan Kawasan Situs Biting oleh pengembang belum mendapatkan pemberitaan sehingga teman – teman pelestaripun  menunggu momen yang tepat. Baru pada tanggal 14 Juni 2013 bertepatan dengan peringatan “Hari Purbakala” para pelestari Cagar Budaya keluar kandang, turun ke jalan di pusat kota Lumajang untuk membagi bunga pertanda kecintaan kami terhadap Situs Biting yang perlu diselamatkan.

Dengan kekuatan seadanya karena perbedaan pandangan dalam menyikapi perusakan situs ini memang jalan yang ditempuh agak berat. Bahkan ada beberapa pelestari yang sudah menyatakan keluar dari lembaga pelestarian yang di bangun bersama – sama.

Pada minggu pertama bulan Oktober 2013 ada penemuan baru berupa Candi di Desa Kedungmoro Kecamatan Kunir. Pihak pemerintah Kabupaten secara intens mengawal penemuan tersebut yang kemudian diikuti oleh hampir semua media yang  ramai memberitakan.

Bersamaan dengan pemberitaan yang luar biasa ini animo masyarakat untuk melihat penemuan Candi ini juga besar sekali. Ratusan dan bahkan ribuan orang setiap hari datang mengunjungi situs.

Masyarakat setempat dan juga para pemudanya menyambut kedatangan masyarakat ini dengan senang hati dan melayani dengan baik. Masyarakat kemudian menamakan situs ini Candi Betari Durgo sesuai nama Desa kuno di wilayah ini sebelum terpecah yaitu “Durgowok”. 

Disamping itu ada relief seorang perempuan yang ada di goresan batu bata Candi dan juga berbagai penemuan bersifat Syiwa yang ada di wilayah ini. Bagi masyarakat, Betara Syiwa atau Betara Guru yang merupakan pimpinan para Dewa seperti yang ada di pewayangan beristrikan Betari Durgo.

Para pelestari Cagar Budaya yang sedang menyelamatkan Kawasan Situs Biting pun bangga menyaksikan fenomena ini namun masih belum bisa mengambil tindakan secara intensif karena masih disibukkan oleh perusakan Kawasan Situs Biting yang semakin menghebat.

Perusakan Kawasan Situs Biting terus belangsung, dinding benteng terus digerus dan para pelestari Cagar Budaya sedih melihat perusakan ini. Pada tanggal 7 Oktober 2013 para pelestari Cagar Budaya dari LSM maupun mahasiswa melakukan aksi ke kantor Pemerintah Kabupaten Lumajang untuk menyuarakan penghentian perusakan kawasan bekas ibu kota Arya Wiraraja yang dikenal sebagai Situs Biting tersebut.

Karena belum ada respon yang baik saat itu, aksipun dilakukan kembali pada 22 Oktober 2013 ke kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Lumajang yang kemudian disikapi dengan baik sehingga keluar Surat Bupati Lumajang pada tanggal 24 Oktober 2013 terkait penghentian sementara pembangunan perumahan oleh pihak pengembang.

Disamping secara intern mulai ada perpecahan, dari pihak pemerintah saat itu juga sedang giatnya menggelindingkan wacana “pembangunan Museum Daerah”. 

Pada sekitar bulan Agustus 2013 diadakan pertemuan terkait pendirian Museum Daerah. Teman – teman dari LSM MPPM Timur yang sedang intens menyelamatkan Kawasan Situs Bitingpun menolak ajakan untuk ber-partisipasi dalam pendirian Museum Daerah tersebut sebelum perusakan Kawasan Situs Biting dihentikan dan menyatakan “Wolk Out” dalam pertemuan ini karena tidak ada kesamaan pandangan.

Setelah penghentian pembangunan perumahan oleh pengembang karena ada larangan dari Bupati Lumajang, maka teman-teman pelestari mempunyai nafas sejenak untuk memikirkan pelestarian di Situs Candi Betari Durgo.

Pada akhir Desember tahun 2013 teman – teman pelestari sempat mengadakan berbagai acara berupa pagelaran kesenian Jaran Kencak dan Tari Ujung di situs tersebut. Event kedua di Situs Candi Betari Durgo ini kemudian dilaksanakan pada bulan Desember 2014 dengan mengadakan acara Kemah Budaya dan menghadirkan kesenian Jaran Kencak.

Dalam perkembangan selanjutnyateman – teman

pelestari

terusmembina hubungan baik dengan masyarakat di sekitar Situs, namun alangkah sedihnya ketika mendengar gugusan Candi yang luar biasa ini terlantar.

Semoga ke depan ada perhatian dari pemerintah karena situs ini begitu penting untuk menguak sejarah Lumajang yang terlupakan.

Sejarawan: Mansoer Hidayat

Penulis: Mansoer Hidayat

Sumber & Foto: www.masmansoer.com

link: https://masmansoer.com/2021/07/dilema-pelestarian-mana-yang-didahulukan-situs-biting-candi-betari-durgo-atau-museum/

[RID/fiq]

Desa Burno Kecamatan Senduro merupakan sebuah Desa kuno dikarenakan mempunyai jejak-jejak peninggalan bersejarah yang cukup banyak. Menurut catatan penelitian, di Desa ini ditemukan adanya arca Dewa Brahma sampai pada "Pedanyangan" atau tempat yang dikeramatkan oleh masyarakat bernama "Mbah Saikem" dan dianggap penghuni pertama berkelamin perempuan yang letaknya ada diatas bukit. Sang hari itu Kecamatan Senduro diguyur hujan deras dan sedikit badai sehingga banyak pohon bertumbangan.

Tim Mas Mansoer Channel yang melakukan penelusuran lapangan untuk mencapai situs atau pedanyangan ini ternyata harus menemui kenyataan jalanan licin dan berlumpur sampai kemudian banyak pohon bambu bertumbangan menutupi jalanannya.

Tim penelusuran dalam kesempatan ini tidak bisa meneruskan perjalanan dan kembali pulang. Namun perjalanan turun-pun tidak kalah berbahaya-nya dengan perjalanan di saat naik. Ketika melompati kubangan lumpur, kecelakaan kecil-pun terjadi.

"tidak boleh menyerah untuk merawat jejak-jejak leluhur yang bersejarah" _mansurhidayat_

Sumber & Foto: Mas Mansoer Channel

Sejarawan: MANSUR HIDAYAT

LINK: https://www.youtube.com/watch?v=8MTmzgH8aXA

[RID/fiq]

Pada saat Parisada Hindu Darma Indonesia (PHDI) Kabupaten Lumajang dilantik pada 2 Pebruari 1986 dengan ketuanya I Made Wiratha SH yang saat itu adalah Kepala Kejaksaan Negeri Lumajang, saat itu warga Hindu Lumajang belum mempunyai tempat persembahyangan yang memadai.

Persembahyangan dilakukan di Pura Desa masing-masing dan belum ada koordinaai antar warga Hindu satu sama lain. Di Kepengurusan I Made Wirata SH inilah ide pendirian Pura dilahirkan.

Awalnya hanya 20 X 60 meter namun atas berkat Sang Hyang Widi, perjalanan memandu umat Hindu untuk mendirikan Pura yang diluar harapan mereka.

Pura Mandara Giri Semeru Agung telah berdiri di lahan 1,5 hektar dan menjadi tempat persembahyangan utama Nusantara yang ada dilereng Mahameru sebagai gunung suci.

Resi Sarjo Atmo Suryoatmojo adalah salah seorang pemuka Hindu Senduro yang getol memperjuangkan berdirinya Pura besar ini.

Sumber & Foto: Mansoer Channel

Sejarawan: MANSOER HIDAYAT

LINK: https://www.youtube.com/watch?v=GU-TkH6MHBA

[RID/fiq]

Arya Wiraraja adalah seorang tokoh besar yang mempunyai pemikiran jauh ke depan dan taktik perang yang mumpuni sehingga dapat dikatakan sebagai seorang negarawan tidak tertandingi pada masanya.

Tokoh ini dilahirkan pada 1232 Masehi dengan nama Banyak Wide yang kemudian berkarir di Singosari, Sumenep, Tuban dan kemudian meninggal Lumajang pada sekutar tahun 1311-1316 Masehi. Peranan besar dimainkannya ketika mulai menolak doktri "Cakrawala Mandala" raja Kertanegara dengan mengirimkan pasukan Singosari ke Melayu Dharmasraya di Sumatra.

Karena pertentangan ini Banyak Wide kemudian dikirim ke Sumenep, Madura untuk menjadi Adipati Sumenep dengan gelar Arya Wiraraja pada tahun 1269. Di Kadipaten Sumenep, Arya Wiraraja kemudian membuktikan dirinya dengan membangun kekuatan perdagangan sehingga pelabuhannya menjadi bandar internasional sehingga sering berhubungan dengan berbagai bangsa terutama yangvterpenting saat itu adalah kerajaan Mongol Tar Tar.

Karena kekuatan ekonominya, Adipati Sumenep ini kemudian dapat membangun pasukan yang cukup kuat. Sosok Arya Wiraraja ini sangat populer di Sumenep dan Bali, namun jarang dikenal di Lumajang. bari pada tahun 2011 ketika ada pelestarian Situs Biting yang merupakan ibunkota Arya Wiraraja, nama ini mulai dikenal luas oleh masyarakat.

Kepopuleran Arya Wiraraja ini juga kemudian meyebabkan "Pro dan Kontra Latar Belakang Keagamaannya". Seperti diketahui secara umum dikatakan penganut Hiindu Syiwa, namun beberapa waktu belakangan ada yang memandang Arya Wiraraja sebagai seorang Muslim dan Lamajang Tigang Juru sebagai kerajaan Islam pertama di Jawa mendahului Demak Bintoro. Terkait "Pro dan Kontra Keagamaan Arya Wiraraja", sejarawan Malang Dwi Cahyono mengatakan bahwa merujuk pada keadaan sosiologi saat itu, maka kemungkinann agama Arya Wiraraja adalah Hindu Syiwa, Bhudda Mahayana dan Resi, sedangkan Islam belum dikenal.

Berkenaan dengan anggapan Arya Wiraraja adalah penganut Islam berdasarkan bukti makamnya di Situs Biting, Dwi Cahyono mengatakan bahwa yang mungkin Islam adalah "Menak Koncar" karena secara sosiologi nama-nama Menak mengacu pada masa Islam di awal perkembangan. Oleh karena itu hendaknya dipisahkan antara nama Arya Wiraraja yang hidup pada tahun 1232-1316 dengan Menak Konacar yang hidup pada sekitar tahun 1500-an karena merupakan sosok dan orang yang berbeda.

Sumber & Foto: (MAS MANSOER CHANNEL)

SEJARAWAN: MANSOER HIDAYAT

link: https://www.youtube.com/watch?v=dWZnfptFRU0

[RID/fiq]

© PT. Aliansi Rakyat Multimedia Indonesia 2021
crossmenuchevron-down