Bahasa IndonesiaEnglish

WEBSITE RAKYAT.ID MASIH DALAM PENGEMBANGAN


Buah coklat tidak membutuhkan matahari, karena ia punya mataharinya sendiri. 


Kemilau dagingnya menghasilkan kenikmatan dan euforia rasa coklat.
para dewa di langit tinggi memonopoli eliksir ini, dan kita manusia dikutuk untuk tidak mengetahuinya.


Quetzalcóatl mencurinya dari Toltecs. ketika dewa2 yang lain sedang tidur, ia mengambil beberapa biji dan menyembunyikan di jenggotnya.

Lalu ia merayap turun ke bumi lewat rajutan benang panjang laba2 dan memberikan biji2 itu ke kota Tula.


Persembahan  Quetzalcóatl itu dikuasai oleh para bangsawan, para  imam, dan para panglima perang.


Hanya lidah mereka yang pantas mengecapnya. 


Sebagaimana pemilik langit yang melarangnya dinikmati manusia, demikian pula pemilik bumi melarangnya dinikmati orang biasa.


Sumber Buku: Mirrors

Pengarang: Eduardo Galeano

Penerjemah: wardah hafidz

[RID/fiq]

[ 87 ]
SENI MELUKIS DIRIMU
Di atas tempat tidur di dekat Teluk Korintus, seorang perempuan menatap dalam bayang cahaya api raut wajah kekasihnya yang sedang tidur.


Di dinding, bayangan itu berkeredip.


Sang kekasih, yang berbaring di sampingnya, akan pergi. saat fajar ia akan berangkat menuju perang, menuju kematian. dan bayangnya, kawan perjalanannya, akan pergi bersamanya dan bersamanya ia akan mati.


Saat itu hari masih gelap. perempuan itu mengambil sepotong arang dari bara api dan di dinding ia menggambar bayangan kekasihnya.


Gambar itu tak akan pergi.


Gambar itu tak akan memeluknya, ia tahu. tetapi ia tak akan pergi.


Sumber Buku: Mirrors

Pengarang: Eduardo Galeano

Penerjemah: wardah hafidz

[RID/fiq]

Demosthenes melecehkannya: “anak ini menginginkan altar. ya, sebegitulah yang akan kita berikan kepadanya.”


Anak itu adalah Alexander Agung. ia mengklaim keturunan Heracles and Achilles. ia menyebut dirinya “dewa tak terkalahkan.” ketika itu ia telah terluka delapan kali dan masih sedang lanjut menaklukkan dunia. 


Ia mulai dengan menobatkan dirinya raja Makedonia, setelah membunuh semua sanak keluarganya. begitu besar keinginannya menjadi maharaja, ia menghabiskan tahun2 dalam hidupnya yang pendek berperang tanpa henti.


Kuda hitamnya lebih cepat dari angin. ia selalu menyerang lebih dulu, dengan pedang terhunus di tangan, jambul bulu putih di kepala, seolah setiap pertempuran adalah urusan pribadi:
“saya tidak akan mencuri kemenangan,” ujarnya.


Alangkah selalu ia mengingat ajaran Aristoteles, gurunya:“umat manusia terbagi menjadi yang terlahir berkuasa dan yang terlahir dikuasai.” 
dengan tangan besi, ia memadamkan pemberontakan dan menyalib atau merajam mereka yang melawan, tetapi ia juga penakluk yang tidak lazim yang bahkan senang mempelajari adat istiadat taklukannya.

Maharaja itu menyerbu daratan dan lautan dari Balkan sampai India lewat Persia dan Mesir dan wilayah di antara keduanya, dan di manapun berada ia selalu menebar perkawinan.

Idenya yang cerdas menikahkan serdadu2 Yunani dengan perempuan2 setempat menjadi berita tidak menyenangkan bagi Athena, yang sangat keras menolak, tetapi langkah itu mengokohkan wibawa Alexander dan kekuasaannya di seantero peta baru dunia yang diciptakannya.


Hephaestion selalu bersamanya dalam peperangan dan pengembaraannya. ia adalah tangan kanan di medan perang dan kekasih di malam2 kemenangannya. dengan ribuan kuda tak terkalahkan, tombak panjang, anak panah berapi, dan Hephaestian di sisinya, Alexander mendirikan tujuh kota, tujuh Alexandria, dan ia seakan tak terbendung.


Ketika Hephaestion meninggal, Alexander sendirian meminum anggur yang biasa ia minum berdua. saat fajar, sepenuhnya mabuk, ia memerintahkan pembuatan api unggun sangat besar, nyalanya membakar langit, dan ia melarang musik di seluruh wilyah imperiumnya.


Tidak lama kemudian, ia meninggal di usia tigapuluh tiga tahun, sebelum berhasil menyelesaikan penaklukan atas seluruh kerajaan di dunia. 

Sumber Buku: Mirrors

Pengarang: Eduardo Galeano

Penerjemah: wardah hafidz

[RID/fiq]

[ 79 ]
Demosthenes melecehkannya: “anak ini menginginkan altar. ya, sebegitulah yang akan kita berikan kepadanya.”
anak itu adalah Alexander Agung. ia mengklaim keturunan Heracles and Achilles. ia menyebut dirinya “dewa tak terkalahkan.” ketika itu ia telah terluka delapan kali dan masih sedang lanjut menaklukkan dunia. 


Ia mulai dengan menobatkan dirinya raja Makedonia, setelah membunuh semua sanak keluarganya. begitu besar keinginannya menjadi maharaja, ia menghabiskan tahun2 dalam hidupnya yang pendek berperang tanpa henti.


Kuda hitamnya lebih cepat dari angin. ia selalu menyerang lebih dulu, dengan pedang terhunus di tangan, jambul bulu putih di kepala, seolah setiap pertempuran adalah urusan pribadi:


“Saya tidak akan mencuri kemenangan,” ujarnya.
alangkah selalu ia mengingat ajaran Aristoteles, gurunya:“umat manusia terbagi menjadi yang terlahir berkuasa dan yang terlahir dikuasai.” 


Dengan tangan besi, ia memadamkan pemberontakan dan menyalib atau merajam mereka yang melawan, tetapi ia juga penakluk yang tidak lazim yang bahkan senang mempelajari adat istiadat taklukannya. maharaja itu menyerbu daratan dan lautan dari Balkan sampai India lewat Persia dan Mesir dan wilayah di antara keduanya, dan di manapun berada ia selalu menebar perkawinan. idenya yang cerdas menikahkan serdadu2 Yunani dengan perempuan2 setempat menjadi berita tidak menyenangkan bagi Athena, yang sangat keras menolak, tetapi langkah itu mengokohkan wibawa Alexander dan kekuasaannya di seantero peta baru dunia yang diciptakannya.


Hephaestion selalu bersamanya dalam peperangan dan pengembaraannya. ia adalah tangan kanan di medan perang dan kekasih di malam2 kemenangannya. dengan ribuan kuda tak terkalahkan, tombak panjang, anak panah berapi, dan Hephaestian di sisinya, Alexander mendirikan tujuh kota, tujuh Alexandria, dan ia seakan tak terbendung.


Ketika Hephaestion meninggal, Alexander sendirian meminum anggur yang biasa ia minum berdua. saat fajar, sepenuhnya mabuk, ia memerintahkan pembuatan api unggun sangat besar, nyalanya membakar langit, dan ia melarang musik di seluruh wilyah imperiumnya.


Tidak lama kemudian, ia meninggal di usia tigapuluh tiga tahun, sebelum berhasil menyelesaikan penaklukan atas seluruh kerajaan di dunia. 

Sumber Buku: Mirrors

Pengarang: Eduardo Galeano

Penerjemah: wardah hafidz

Raja Sulaiman bernyanyi kepada yang paling perempuan dari para perempuannya. ia bernyanyi kepada tubuhnya dan kepada pintu masuk ke dalam tubuhnya dan kepada gairah peraduan berdua.


Kidung segala Kidung sama sekali tidak seperti kitab2 Injil Yerusalem lainnya. kenapa begitu?.


Menurut para rabbi, ia adalah alegori cinta Tuhan kepada Israel. menurut para pastur ia adalah sembah bakti gembira atas perkawinan Kristus dengan Gereja. tetapi pada hal tak satu baitpun darinya menyebut Tuhan, apalagi Kristus atau Gereja, yang baru ada lama setelah Kidung dinyanyikan.


Yang lebih mungkin nampaknya, kebersamaan raja Yahudi dan perempuan kulit hitam itu adalah sebuah perayaan gairah nafsu dan keragaman warna kulit kita.


“Ciummu di bibirku lebih menggairahkan dari anggur," nyanyi sang perempuan. 


Dan dalam versi yang sampai sekarang kita kenal, ia juga bernyanyi:"saya hitam, tetapi indah." 


Dan ia memberi penjelasan, kulitnya hitam karena ia bekerja di alam terbuka, di kebun anggur.


Namun versi lain menekankan bahwa "tetapi" itu sisipan. sesungguhnya ia bernyanyi:"saya hitam, dan indah."


Sumber Buku: Mirrors

Penulis: Eduardo Galeano

Penerjemah: wardah hafidz

[RID/fiq]


Ketika Iraq bernama Assyria, raja menyelenggarakan perjamuan istana di kota Nimrod, dengan dua puluh menu utama dan empat puluh menu pelengkap, disertai guyuran bir dan anggur yang melimpah.

Menurut catatan peristiwa dari 3,000 tahun lalu, tamunya berjumlah 69,574, semuanya laki-laki, tak seorangpun perempuan, termasuk dewa-dewa yang ikut makan dan minum.


Dari istana-istana yang lebih tua datang resep-resep pertama yang ditulis oleh para empu dapur.

juru masak sama  berkuasa dan berpengaruhnya seperti para imam, dan resep-resep mereka bertahan melewati krisis waktu dan perang. Resep mereka rinci ("adonan di panci harus mengembang sampai empat jari") atau justru tidak jelas ("awasi garam dengan teliti"), tetapi semua mengakhiri resepnya dengan: "siap disantap."


Tiga ribu lima ratus tahun lalu, Aluzinnu si badut istana, meninggalkan resep-resepnya untuk kita. di antaranya, resep yang menjanjikan santap malam yang lezat berikut:untuk hari terakhir sebelum bulan di akhir tahun, tak ada makanan yang lebih lezat dari babat perut keledai yang diisi dengan tahinya lalat."


Sumber Buku: Mirrors

Pengarang Buku: Eduardo Galeano

Penerjemah: wardah hafidz

[fiq/RID]



Buah coklat tidak membutuhkan matahari, karena ia punya mataharinya sendiri. 

Kemilau dagingnya menghasilkan kenikmatan dan euforia rasa coklat.


Para dewa di langit tinggi memonopoli eliksir ini, dan kita manusia dikutuk untuk tidak mengetahuinya.


Quetzalcóatl mencurinya dari Toltecs. ketika dewa-dewa yang lain sedang tidur, ia mengambil beberapa biji dan menyembunyikan di jenggotnya. lalu ia merayap turun ke bumi lewat rajutan benang panjang laba-laba dan memberikan biji-biji itu ke kota Tula.


Persembahan  Quetzalcóatl itu dikuasai oleh para bangsawan, para  imam, dan para panglima perang.


Hanya lidah mereka yang pantas mengecapnya. 


Sebagaimana pemilik langit yang melarangnya dinikmati manusia, demikian pula pemilik bumi melarangnya dinikmati orang biasa.


Sumber Buku: Mirrors

Pengarang: Eduardo Galeano

Penerjemah: wardah hafidz

[fiq/RID]

Dan kitapun lelah berkelana di hutan dan di tepian sungai. 

Dan kita mulai menetap. kita menciptakan desa dan kehidupan komunitas, mengubah tulang menjadi jarum dan duri menjadi paku. peralatan menjadi kepanjangan tangan kita, dan gagangnya menambah kekuatan kapak, cangkul, dan pisau.

 
Kita menanam padi, jelai, gandum, dan jagung, kita menaruh kambing dan domba di kandang ternak, kita belajar menyimpan biji2an agar tidak kelaparan saat keadaan buruk.


Dan di ladang tempat kita kerja, kita memuja dewi kesuburan, perempuan dengan pantat besar dan buah dada subur. tetapi bersama jalannya waktu, mereka digantikan oleh dewa perang yang keras. dan kita menyanyikan himne pujaan untuk keagungan sang raja, panglima perang, dan para imam besar.


Kita menciptakan kata "milikmu" dan "milikku," tanah menjadi harta milik, dan perempuan menjadi harta milik laki2, dan ayah menjadi pemilik anak2.


Jauh sudah kita tinggalkan masa kita berkelana tanpa rumah dan arah. 
hasil peradaban sungguh mengejutkan: hidup kita menjadi lebih aman tetapi kurang bebas, dan kita bekerja jauh lebih keras.

Sumber Buku: Mirrors

Pengarang Buku: Eduardo Galeano

Penerjemah: wardah hafidz

[fiq/RID]

© PT. Aliansi Rakyat Multimedia Indonesia 2021
crossmenuchevron-down