Bahasa IndonesiaEnglish

Rakyat.id - Jakarta, 10 September 2021 - Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Salahuddin Uno, yakin bahwa subsektor seni pertunjukan dan kuliner yang ada di Kabupaten Bandung Barat mampu berdaya saing di kancah internasional.

Kabupaten Bandung Barat selama ini menjadi sentra dari berbagai macam produk kuliner yang bervariatif dan berkualitas, seperti cokelat wajit, cokelat kopi, kerupuk gurilem, pia, dan lain-lain. Selain itu, di kabupaten ini juga berkembang seni pertunjukan yang menarik seperti sasapian, tarian jaipongan, dan sebagainya.
“Saya mengapresiasi ide bapak dan ibu semua yang terus berinovasi mengembangkan ekonomi kreatif di Kabupaten Bandung Barat. Semoga usaha-usaha masyarakat semua naik. Dari skala lokal menjadi regional dan menjadi skala nasional hingga internasional,” ujar Sandiaga saat menghadiri Workshop Pengembangan Kabupaten/Kota (KaTa) Kreatif dengan tema “How Can the Creative Industry Be Able To Adapt During This Pandemic”, di Dusun Bambu Resort, Kabupaten Bandung Barat, Kamis (9/9/2021).
Catatan ; 
Sandiaga menjelaskan Kabupaten Bandung Barat memiliki banyak produk ekraf yang berkualitas. Sehingga hadirnya program Pengembangan Kabupaten/Kota (KaTa) Kreatif di Kabupaten Bandung Barat dapat meningkatkannya pendapatan pelaku usaha ekonomi kreatif setempat, meningkatnya pendapatan ekonomi daerah, meningkatkan nilai tambah dan daya saing produk ekonomi kreatif, hingga meningkatkan kreativitas dan inovasi para pelaku ekonomi kreatif.
Kami melaunching KaTa kreatif Kabupaten Bandung Barat tepatnya di Lembang ini, karena kita meyakini bahwa Bandung Barat adalah pusat talenta-talenta terbaik bangsa di bidang ekonomi kreatif. Program KaTa kreatif ini adalah program yang mengharapkan hasil satu yang konkrit berupa kerja sama antara pemerintah pusat dengan kabupaten kota untuk membantu masyarakat yang membutuhkan,” ujar Sandiaga.
Bagaimana dengan pelaku seni dan pelaku kuliner ?.
Sandiaga juga mengajak pelaku seni pertunjukan dan kuliner di Kabupaten Bandung Barat untuk terus berinovasi dan berkolaborasi dalam menghasilkan produk unggulan di masa pandemi ini. “Potensi lokal harus kita tingkatkan agar bisa membuka lapangan kerja seluas-luasnya. Ingat, bisnis yang terbaik dimulai saat krisis, di balik kesusahan ada kemudahan,” katanya.
Lebih lanjut, Sandiaga juga mengapresiasi pemilik brand Eiger yang telah mengembangkan bisnisnya tidak hanya di fesyen, namun juga merambah ke sektor pariwisata di daerah Kabupaten Bandung Barat. Sehingga hal tersebut membantu perekonomian masyarakat.
Saya mengapresiasi Eiger yang merupakan ikon Indonesia untuk ekonomi kreatif di subsektor fesyen, tapi sekarang setelah sukses dengan Kampung Daun di akhir tahun 90an, kita akan memulai Eiger Adventure Live, sebuah proyek yang mudah-mudahan bisa menggerakan pariwisata baru yang lebih berkualitas dan berkelanjutan,” ujarnya.
Produk kuliner apa saja ?.
Dalam kesempatan itu, Menparekraf mencicipi salah satu produk kuliner chocolanjit, yang merupakan cokelat batang yang berisi wajit. Kuliner khas Kabupaten Bandung Barat ini cukup diminati oleh wisatawan mancanegara karena memiliki rasa yang unik.
“Rasanya enak sekali, keren pelaku ekraf di Kabupaten Bandung Barat,” ujarnya.
Tak hanya itu, Menparekraf juga ikut serta menari jaipong bersama penari mojang priangan. Dengan luwes ia meniru gerakan dari para penari saat menyambutnya.
Siapa sajakah yang hadir ?.
Turut mendampingi Menparekraf Sandiaga, Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur Kemenparekraf/Baparekraf, Vinsensius Jemadu; Staf Khusus Menparekraf Bidang Pengamanan Destinasi Wisata dan Isu-isu Strategis, Kolonel TNI Ario Prawiseso; Staf Ahli Menparekraf Bidang Manajemen Krisis, Henky Manurung; Direktur Infrastruktur Ekonomi Kreatif Kemenparekraf/Baparekraf, Hariyanto.
Serta turut hadir Plt Bupati Bandung Barat, Hengky Kurniawan; Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Bandung Barat, Heri Partomo.
Sumber & Foto : (KEMENPAREKRAF/BAPAREKRAF RI).
[RID/fiq]

Presiden Joko Widodo didampingi Ibu Negara Iriana Joko Widodo meresmikan Bendungan Paselloreng yang ada di Kabupaten Wajo, Provinsi Sulawesi Selatan, pada Kamis, 9 September 2021. Bendungan yang dibangun sejak tahun 2015 dan telah dilengkapi dengan Bendung Irigasi Gilireng tersebut, diyakini akan mendukung Sulawesi Selatan sebagai lumbung pangan nasional.

 

"Bendungan Paselloreng ini menelan biaya Rp771 miliar dan sudah dilengkapi dengan Bendung Irigasi Gilireng yang akan sangat bermanfaat untuk mendukung Sulawesi Selatan sebagai lumbung pangan nasional," ujar Presiden Jokowi dalam sambutannya saat peresmian berlangsung.

 

Presiden juga menjelaskan bahwa Bendungan Paselloreng merupakan bendungan dengan kapasitas daya tampung yang cukup besar hingga 138 juta meter kubik dan luas genangan sebesar 1.258 hektare. Melalui daya tampung tersebut, Bendungan Paselloreng diyakini akan mampu mengairi 8.500 hektare sawah dan meningkatkan frekuensi tanam para petani sekitar.

 

"Kita harapkan dengan suplai air yang ada akan meningkatkan frekuensi tanam yang mungkin 1 bisa jadi 3 atau 2 sehingga meningkatkan produktivitas lahan serta akhirnya bisa kita harapkan meningkatkan kesejahteraan petani," imbuhnya.

 

Selain itu, Bendungan Paselloreng juga dinilai akan memberikan manfaat lain bagi masyarakat sekitar bendungan. Mulai dari ketahanan air, reduksi banjir Sungai Gilireng sebesar 489 meter per detik, dan menyediakan air baku 145 liter per detik bagi 6 kecamatan di Kabupaten Wajo.

 

"Juga berfungsi tentu saja untuk daerah konservasi yang dapat dimanfaatkan untuk pariwisata dan memberikan alternatif pendapatan baru bagi masyarakat," ucap Presiden.

Presiden pun menegaskan bahwa pemerintah akan terus berkomitmen menyediakan suplai air secara berkelanjutan untuk menjaga ketahanan pangan nasional. Salah satu komitmen pemerintah diwujudkan dengan menyelesaikan 17 bendungan yang tersebar di seluruh Indonesia hingga Desember mendatang.

 

"Kita harapkan dengan bendungan-bendungan yang ada ini sekali lagi ketahanan pangan kita akan bisa kita perkuat dan kita tingkatkan," ungkapnya.

 

Turut mendampingi Presiden dan Ibu Iriana dalam peresmian tersebut adalah Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto, Kapolri Jenderal Pol. Listyo Sigit Prabowo, Wakil Ketua Komisi V DPR RI Andi Iwan Darmawan Aras, Plt. Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman, dan Bupati Wajo Amran Mahmud.

Sumber & Foto: (Humas Kemensetneg).

[RID/fiq]

Jakarta - Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) terus mempercepat pembangunan Jalan Tol Ciawi-Sukabumi Seksi 2 ruas Cigombong - Cibadak sepanjang 11,9 km. Kehadiran ruas tol tersebut dapat menjadi jalan alternatif penghubung menuju kawasan pariwisata di sekitar wilayah Sukabumi seperti Pelabuhan Ratu, Ujung Genteng hingga Geopark Ciletuh serta akan semakin memperlancar konektivitas perekonomian masyarakat baik dari sektor industri, barang, dan jasa karena akan tersambung dengan wilayah Jawa Barat bagian selatan seperti  Bogor dan Ciawi. 

Menteri PUPR Basuki Hadimuljono mengatakan, "kehadiran jalan tol yang terhubung dengan kawasan-kawasan produktif akan dapat mengurangi biaya logistik dan meningkatkan daya saing produk dalam negeri. Semakin lancarnya konektivitas diharapkan mendukung pertumbuhan ekonomi dan pengembangan wilayah di Kabupaten Sukabumi dan sekitarnya serta mendukung produktivitas sektor pariwisata". 

Kehadiran jalan tol ini diharapkan dapat menjadi salah satu solusi mengatasi kepadatan lalu lintas terutama arus komoditas,” kata Menteri Basuki. 

Staf Ahli Menteri PUPR Bidang Teknologi, Industri, dan Lingkungan Endra S. Atmawidjaja menyampaikan ruas Tol Cigombong - Cibadak yang terkoneksi dengan wilayah Bogor akan terhubung dengan Tol Jagorawi, sehingga dapat mengurangi waktu tempuh dari Jakarta menuju Sukabumi yang sebelumnya 4 sampai 5 jam melalui jalan alteri menjadi 1 sampai 2 jam lebih cepat. 

"Dulu kalau ke Sukabumi rasanya lama sekali, biasanya kita berhadapan dulu dengan titik-titik macet di Ciawi, Cigombong, Cicurug, Cibadak baru ke Sukabumi. Nanti adanya tol ini Insya Allah akan lebih cepat sekitar 2 jam bisa sampai," kata Endra S. Atmawidjaja. 

Ruas Cigombong - Cibadak merupakan bagian dari Tol Ciawi-Sukabumi sepanjang 54 km. Saat ini pembangunan ruas tol ini sudah  mencapai 75,55% dan ditargetkan  selesai akhir 2021.

Secara keseluruhan Jalan Tol Ciawi - Sukabumi dikelola oleh Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) PT. Trans Jabar Tol terdiri dari 4 seksi, yaitu Seksi 1 Ciawi-Cigombong sepanjang 15,35 km sudah beroperasi sejak Desember 2018. Kemudian Seksi 2 Cigombong-Cibadak sepanjang 11,90 km, Seksi 3 Cibadak-Sukabumi Barat sepanjang 13,70 km dan Seksi 4 Sukabumi Barat-Sukabumi Timur sepanjang 13,05 km.

Jalan Tol ini nantinya akan terkoneksi dari Jakarta menuju Kota/Kabupaten Sukabumi dengan terhubung Jalan Tol Jagorawi di sebelah utara. Diharapkan dengan selesainya Tol Ciawi - Sukabumi akan semakin mendongkrak iklim usaha serta peningkatan perekonomian di wilayah Bogor, Ciawi maupun Sukabumi. 

Sumber & Foto: (PUPR RI).

[RID/fiq]

Rakyat.id, -Jakarta, 4 November 2020 - Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekraf) melakukan kajian penerapan strategi pemulihan “Bounce Back Quickly” pariwisata dan ekonomi kreatif di masa pandemi.

Kepala Biro Komunikasi Kemenparekraf/Baparekraf, Agustini Rahayu, dalam sambutannya, Rabu (4/11/2020), mengatakan salah satu sektor yang paling terdampak pandemi COVID-19 adalah sektor pariwisata dan ekonomi kreatif yang mengalami penurunan signifikan akibat terhentinya aktivitas pariwisata.

Untuk itu, proses bounce back menjadi sangat penting. Selain merupakan tanda awal dimulainya aktivitas wisata, hal ini juga berdampak pada psikologis yang positif bagi para pemangku kepentingan di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif, baik pemerintah, pelaku usaha, maupun masyarakat. 

“Melihat hal tersebut, maka diperlukan kajian strategis dari seluruh stakeholder terkait pemulihan bounce back quickly di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. Oleh karenanya, Kemenparekraf/Baparekraf menginisiasi kegiatan webinar daring ini untuk mendapat insight mengenai hal-hal yang memperkaya langkah strategis dalam pemulihan pariwisata dan ekonomi kreatif Indonesia,” kata Agustini.

Agustini Rahayu menjelaskan dalam upaya pemulihan bagi sektor pariwisata dan ekonomi kreatif, Kemenparekraf/Baparekraf telah melakukan berbagai langkah mitigasi seperti analisis dampak, pelayanan wisatawan, dan SDM terutama dalam pelayanan informasi. 

Karena pelayanan informasi menjadi salah satu hal yang paling penting untuk menyampaikan informasi dengan cepat dan aktual, supaya publik memahami kondisi saat ini,” ujar Agustini.

Pada bidang pelayanan wisatawan dan SDM, Kemenparekraf/Baparekraf mengeluarkan berbagai kebijakan dan program yang bertujuan untuk membantu para pelaku usaha di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif dalam  upskilling dan reskilling kompetensi serta meningkatkan kualitas dan kuantitas produk ekraf, seperti memberikan pelatihan daring. Hal ini dilakukan agar pelaku usaha tetap produktif dan berkarya di tengah pandemi.

“Sehingga, ketika sektor pariwisata dan ekonomi kreatif bangkit kembali, para pelaku usaha sudah memiliki kompetensi diri yang justru jauh lebih mumpuni,” kata Agustini.

Selain itu, Kemenparekraf/Baparekraf  juga telah membuat program pemulihan destinasi wisata seperti penguatan sapta pesona di destinasi wisata, revitalisasi amenitas di destinasi wisata, sosialisasi protokol kesehatan berbasis CHSE (Cleanliness, Health, Safety, and Environmental Sustainability) di setiap destinasi wisata di Indonesia, dan sertifikasi CHSE.

Ada juga program seperti Hibah Pariwisata dan BIP (Bantuan Insentif Pemerintah). Selain itu, untuk membangun trust of destination bagi wisatawan nusantara dan mancanegara melalui aspek penerapan protokol kesehatan CHSE, Kemenparekraf/Baparekraf membuat kampanye kampanye "Indonesia Care" atau disingkat “I Do Care”.

Direktur Kajian Strategis Kemenparekraf/Baparekraf, Wawan Rusiawan, menjelaskan pada penerapan strategi nantinya, Kemenparekraf memerlukan kerja sama dengan stakeholder terkait, sehingga kebijakan dan program yang dibuat dapat menjangkau pelaku usaha parekraf yang terdampak secara merata.

“Hal ini dilakukan agar bisa mempercepat upaya pemulihan di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif,” kata Wawan.

Webinar daring ini menghadirkan beberapa narasumber antara lain Vaccine Advocate & Internist dr. Dirga Sakti Rambe, Sekretaris Jendral Perhimpunan Hotel & Restoran Indonesia Maulana Yusran, dan Asia’s Next Top Model Cycle 5 & Travel Influencer Valerie Krasnadewi.

Sekretaris Jendral Perhimpunan Hotel & Restoran Indonesia, Maulana Yusran, menjelaskan strategi yang dapat dilakukan oleh industri hotel dan restoran untuk dapat bertahan di masa pandemi ini adalah melakukan negosiasi ke pihak perbankan dalam bentuk restrukturisasi bagi yang memiliki kewajiban, mengurangi biaya utilitas, menutup sebagian atau seluruh fasilitas yang tidak berfungsi karena demand-nya tidak ada untuk sementara waktu, serta dapat memanfaatkan media promosi melalui digital dan media sosial.

“Terkait meningkatkan demand pemerintah bisa menjadi trigger dengan melakukan bussines tourism seperti, melakukan perjalanan dinas, akomodasi, penyewaan ruang pertemuan, serta memperbanyak kegiatan di hotel dan restoran. Selain untuk meningkatkan permintaan, hal ini juga dimaksudkan untuk menggerakkan ekonomi serta meningkatkan kepercayaan wisatawan dalam melakukan aktivitas wisata,” ujar Maulana.

Maulana juga mengusulkan untuk membuat incentive traveller dalam memicu pergerakan atau aktivitas wisata serta bubble tourism untuk membuka sekaligus mengembalikan wisatawan mancanegara.

Sementara itu, Vaccine Advocate & Internist dr. Dirga Sakti Rambe, memberikan rekomendasi bagi masyarakat yang akan melakukan perjalanan wisata untuk selalu menerapkan protokol kesehatan, seperti memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, tidak melakukan perjalanan jika dirasa sedang tidak sehat, sebisa mungkin melakukan kegiatan outdoor, dan menghindari kerumunan.

“Jika ingin sektor pariwisata dan ekonomi kreatif segera pulih, yang terpenting adalah penerapan protokol kesehatan dengan disiplin dan memiliki kepedulian terhadap sesama. Jadi, tanamkan di setiap diri masing-masing untuk selalu menjaga kesehatan,” kata Dirga.

Sumber & Foto: (Biro Komunikasi
Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif).

[RID/fiq]

Rakyat.id,-Jakarta.- Pengembangan sektor kriya yang berbasis tradisi dan kearifan lokal, bernilai tinggi, serta berdaya saing, semakin penting untuk terus didukung kemajuannya. Terlebih di situasi pandemi yang penuh tantangan dan di tengah perubahan zaman yang begitu cepat ini. Untuk itu, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) bersama Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) menyelenggarakan program Pendidikan Kecakapan Wirausaha (PKW) Destinasi Pariwisata Super Prioritas Labuan Bajo Tahun 2020.

PKW adalah salah satu program prioritas yang menjadi kewenangan Direktorat Kursus dan Pelatihan, Ditjen Pendidikan Vokasi, Kemendikbud, dengan target sasaran tahun ini berjumlah 16,6 ribu orang. Melalui program tersebut, Kemendikbud melakukan sinergi atau melakukan ‘Perkawinan’ antara lembaga penyelenggara PKW dengan dunia usaha (DU) dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), agar dapat membantu terwujudnya lulusan PKW yang dapat merintis usaha mandiri. Adapun wujud sinergi yang dilakukan bersama DU dan UMKM meliputi penyusunan kurikulum, pelibatan narasumber ahli, penyelenggaraan program, pendampingan rintisan usaha, mitra usaha, serta sharing resources.

Ketua Dharma Wanita Kemendikbud, Franka Makarim mengatakan, pengembangan sektor kriya nasional tentunya menjadi komitmen bersama karena sektor ini menjadi wahana pemerataan pendapatan, penciptaan lapangan kerja, serta pelestarian kebudayaan.

“Bersama ini kita ingin menciptakan generasi muda yang berdaya, cakap berwirausaha, dan sangat mencintai warisan budayanya. Terutama, dalam kaitannya dengan mendukung pengembangan Destinasi Wisata Super Prioritas yang dicanangkan oleh Bapak Presiden,
” kata Franka Makarim saat membuka acara melalui video virtual di Jakarta, pada Sabtu (31/10/2020).

PKW adalah program kursus dan pelatihan untuk menyiapkan SDM terampil, berkarakter, berdaya saing dan siap merintis usaha baru. Kriteria penerima program ini adalah (1). masyarakat usia 15 tahun (diprioritaskan berusia 15-30 tahun); (2). putus sekolah atau lulus tapi tidak melanjutkan; (3). belum memiliki pekerjaan tetap atau menganggur; (4). diprioritaskan dari keluarga yang tidak mampu.

Jumlah perserta PKW pada destinasi wisata Labuan Bajo sebanyak 200 orang yang akan dilaksanakan pada 31 Oktober hingga akhir November 2020. PWK kali ini melibatkan tujuh lembaga pelaksana program diantaranya SMKN 4 Kupang, SMKN 6 Kupang, SMKN 1 Kupang, SMKN 1 Kuwus, SMKN 1 Lembor Selatan, dan SMK St. Theresia Ngalili Lembor Selatan.

Untuk mendukung cita-cita bersama bangsa Indonesia, lanjut Franka, Dekranas bersama Kemendikbud menyelenggarakan program PKW dengan menyasar anak-anak usia sekolah yang tidak sekolah, tidak bekerja, serta memprioritaskan anak-anak yang berasal dari keluarga tidak mampu namun berminat untuk usaha mandiri. “Minat dan kesungguhan untuk mengembangkan diri ini kami fasilitasi, karena kami percaya semua orang bisa berdaya. Semua orang bisa keluar dari keterbatasannya,” ujar Franka.

Lembaga penyelenggara PKW diantaranya adalah institusi satuan pendidikan nonformal seperti lembaga kursus dan pelatihan, pusat kegiatan belajar masyarakat, dan sanggar kegiatan belajar, sekolah menengah kejuruan, politeknik, akademi komunitas, perguruan tinggi vokasi, Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan, dunia usaha dunia industri, lembaga diklat milik pemerintah, serta organisasi masyarakat yang sah.

Adik-adik, para perajin, dan penggerak komunitas perajin, menurut Franka, adalah tulang punggung ekonomi nasional dan pemajuan kebudayaan. “Tidak terkecuali Ibu dan Bapak pembuat kebijakan. Tanpa kebijakan yang berpihak pada rakyat, cita-cita Indonesia Maju akan sulit kita capai,” ungkapnya.

Berikut alur program PKW. (1). lembaga penyelenggara mendaftar secara dalam jaringan (daring) di https://banper.binsuslat.kemdikbud.go.id/; (2). pemilihan program dan pengisian instrument proposal; (3). penilaian proposal dan verifikasi data; (4). penetapan lembaga penerima bantuan; (5). penandatanganan akad kerja sama (MoU); (6). pencairan dana program PKW; (7). rekrutmen peserta didik; (8). proses pembelajaran; (9). merintis usaha; (10). bermitra dengan DU/UMKM; (11). wirausaha dibina oleh DU/UMKM.

Franka melanjutkan, destinasi wisata bukan semata-mata keindahan alam dan kenyamanan infrastruktur, tetapi juga balutan kekayaan tradisi melalui kriya dan manusianya. Kualitas holistik yang diciptakan itulah yang akan menarik masyarakat mengunjungi Labuan Bajo atau Destinasi Super Prioritas lainnya. Bukan hanya sekali, namun berkunjung hingga berkali-kali. 

Pada kesempatan ini, Franka berpesan kepada para perajin agar dapat memanfaatkan pengalaman pendidikan yang telah diberikan dengan sebaik-baiknya sebagai modal untuk mengembangkan diri dan berkontribusi bagi negeri. “Saya yakin, akan banyak manfaat yang kita dapat, kalau kita berhasil menciptakan kualitas destinasi yang holistik,” harapnya.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Dekranas Bidang Usaha Baru, Endang Budi Karya, mengatakan Dekranas mendorong semua elemen pelaku usaha kerajinan untuk lebih peduli dan kreatif di era industri 4.0. “Dengan pengetahuan berbasis secara digital dan online, misalnya pembuatan website pendayagunaan medsos dan source enggine,” kata Endang.

Selain itu, kata Endang, Dekranas memandang perlu adanya peningkatan kualitas desain kemasan produk agar sesuai dengan selera pasar. “Dengan demikin produk kerajinan kita dapat bersaing ke pasar global sehinga kita bangga dengan buatan bangsa Indonesia,” ujarnya.

Sumber & Foto: (Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat  
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan)

[RID/fiq]

Rakyat.id, Jakarta.  - Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekraf) mendukung event lari bertajuk Virtual Duathlon Series Toba 2020 dengan tema destinasi wisata prioritas Danau Toba, Sumatera Utara pada 25-27 September 2020.

Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggara Kegiatan (Events), Kemenparekraf/Baparekraf Rizki Handayani dalam pernyataanya di Jakarta, Selasa (29/9/2020) mengatakan pihaknya mengapresiasi terselenggaranya event virtual ini sebagai bagian dari promosi 5 destinasi prioritas pariwisata di tanah air.

“Sebagai virtual sport event, Virtual Duathlon Series Toba 2020 diharapkan dapat berkontribusi dalam memperkenalkan potensi wisata olahraga di salah satu destinasi super prioritas Indonesia, yaitu Danau Toba dan peserta langsung dibawa ke sebuah dunia virtual 3D yang dibuat persis dengan lokasi riil di tepian Danau Toba,” ujarnya.

Rizki Handayani menjelaskan, Virtual Duathlon Series Toba 2020 merupakan salah satu proposal virtual event terbaik dari Program Virtual Event: Best Practices and Ideas yang diadakan oleh Kemenparekraf RI bekerja sama dengan Australian Marketing Institut (AMI) pada Mei 2020. 

“Di race village ini para peserta juga bisa submit hasil race, kemudian jalan-jalan secara virtual, bahkan dapat melakukan pembelian oleh-oleh secara online melalui virtual booth sehingga pengalaman yang diperoleh sangat beragam dan menarik,” katanya.

Selain race village bertema Toba, para peserta yang telah menyelesaikan lomba juga akan mendapatkan jersey dan medali bermotif Gorga (ukiran Batak Toba). 

Motif Gorga Sitompi ini dibuat khusus oleh Jesral Tambun, seniman muda yang karya-karyanya sudah dikenal luas oleh masyarakat Toba.

Sebelumya, Direktur Komunikasi & Komersial ITS Kiki Taher pada saat pembukaan Virtual Duathlon Series Toba 2020 menjelaskan, dalam rangka tetap menghidupkan sport tourism di tengah pandemi COVID-19, setiap peserta VR Duathlon Series Toba bisa lari dan bersepeda di rute pilihan masing-masing.  

“Total jumlah peserta yang mengikuti kegiatan ini adalah 216 orang untuk kategori Super Sprint dan 282 untuk kategori Sprint, dimana peserta tidak hanya berasal dari dalam negeri namun juga internasional seperti Denmark dan Amerika Serikat,” ujarnya.

Sumber & Foto: Biro Komunikasi Kemeparekraf/Baparekraf

[RID/fiq]

Jakarta, 17 Juni 2020 - Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif kembali mengadakan international webinar bertajuk "Bali COVID-19 Safety Update" guna menyampaikan kebijakan serta informasi terkini mengenai destinasi wisata di Indonesia. Webinar kali ini secara khusus ditujukan untuk pasar Australia dan diikuti lebih dari 100 peserta dari industri travel di Australia.

Deputi Bidang Pemasaran Kemenparekraf/Baparekraf Nia Niscaya mengatakan, tujuan dari webinar ini adalah untuk menjaga kepercayaan terhadap citra pariwisata Indonesia serta memfasilitasi industri-industri pariwisata Australia dengan Indonesia untuk mempertahankan hubungan kerja sama dalam menghadapi pariwisata di era normal baru.

"Australia adalah pasar yang penting bagi Indonesia, terutama Bali," kata Nia Niscaya, Selasa (17/6/2020).

Turut hadir dalam webinar tersebut Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati, Direktur Konstruksi dan Operasi ITDC Ngurah Wirawan, serta Founder & Director Ubud Food Festival dan Ubud Writers and Readers Festival, Janet DeNeefe.

Berdasarkan data tahun 2019, Australia merupakan penyumbang wisatawan terbesar kedua ke Bali setelah Cina. Tercatat tahun lalu wisman asal Australia yang berkunjung ke Bali sebanyak 1.241.128 orang.

Karena itu penting bagi Indonesia untuk dapat terus menjalin kerja sama dengan mitra-mitra industri pariwisata dari Australia. Termasuk dengan terus memberikan product update kepada industri di Australia terkait apa yang sudah dikerjakan oleh Indonesia termasuk pemerintah daerah untuk mempersiapkan destinasi wisata dan menyambut kembali kunjungan wisatawan kelak.

"Dengan demikian pariwisata Indonesia diharapkan menjadi 'top of mind' dalam pilihan calon wisatawan, khususnya Australia," kata Nia.

Nia mengatakan saat ini Indonesia terus berupaya dengan maksimal dalam menekan penyebaran virus COVID-19. Termasuk di Bali, salah satu destinasi wisata terbaik dunia.

Kemenparekraf sendiri telah menyiapkan _handbook_ yang mengacu kepada standar global sebagai panduan teknis untuk pelaku usaha di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. Handbook ini merupakan turunan yang lebih detil dari protokol yang sedang disusun oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes) berdasarkan masukan dari Kemenparekraf untuk sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.

Dengan diterapkannya protokol ini dengan baik, diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan wisatawan. Hal ini sangat penting karena Gaining trust atau confidence adalah kunci dalam percepatan pemulihan, jadi harus sangat diperhatikan dan diimplementasikan.

"Kami akan memastikan yang terbaik untuk kebutuhan wisatawan nantinya di era normal baru. Kami optimistis dapat menyambut wisatawan kembali dengan pengalaman serta daya tarik yang baru nantinya," kata Nia.

Ngurah Wirawan selaku pengelola kawasan Nusa Dua mengatakan, pihaknya telah siap untuk melaksanakan protokol kenormalan baru di sektor pariwisata. Mulai dari pintu masuk kawasan, saat wisatawan melakukan check in di hotel atau resort, di tempat aktivitas, serta saat mereka check out.

"Semuanya dilakukan dengan protokol yang mengedepankan faktor kebersihan, kesehatan dan keamanan. Namun dikemas dengan tetap konsep yang menyenangkan," kata Ngurah.

Protokol-protokol ini nantinya tidak hanya ditujukan bagi para wisatawan, namun juga staf serta seluruh pihak yang berada di kawasan Nusa Dua. Sehingga wisatawan benar-benar nyaman menikmati berbagai atraksi dan destinasi yang ada di Nusa Dua.

Sementara Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati mengatakan, Pemerintah Provinsi Bali masih belum menentukan kapan tepatnya pariwisata di Bali akan dibuka. Hingga saat ini pemerintah provinsi masih fokus dalam upaya menekan penyebaran COVID-19 dengan terus bersinergi dengan masyarakat dan komunitas lokal termasuk pecalang.

Ia mengatakan sedikitnya ada 11 indikator yang harus dapat dipenuhi untuk dapat membuka lagi pariwisata di Bali. Diantaranya adalah jumlah kasus positif COVID-19 berkurang selama 14 hari terakhir sejak puncak tertinggi kasus, serta meningkatnya jumlah pasien yang sembuh dari COVID-19.

"Selama kasus infeksi bisa ditekan, dan itu yang menjadi fokus kita saat ini hingga nantinya waktu yang tepat untuk membuka kembali destinasi wisata," kata Tjokorda Oka.

Di saat yang bersamaan, Pemprov Bali bersama-sama masyarakat dan seluruh pemangku kepentingan di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif menyiapkan diri dalam menghadapi era normal baru

"Kami berharap nantinya wisatawan Australia dapat kembali berwisata dan mengeksplorasi keindahan Bali dalam nuansa dan tatanan kenormalan baru yang kami persiapkan dengan baik," kata Tjokorda Oka.

Sumber & Foto:

Agustini Rahayu
Kepala Biro Komunikasi
Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif

[fiq/RID]


Jakarta, 21 Mei 2020 - Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekraf) memprediksi produk ekowisata di Indonesia akan sangat diminati pascapandemi COVID-19.

Terlebih dengan hadirnya kondisi “new normal” atau tren baru dalam berwisata dimana wisatawan akan lebih memperhatikan protokol-protokol wisata, terutama yang terkait dengan kesehatan, keamanan, dan kenyamanan.

Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggaraan Kegiatan (Event) Kemenparekraf/Baparekraf Rizki Handayani saat Webinar Ekowisata, Rabu (20/5/2020) menjelaskan, pandemi ini mengubah jenis atau tipe dan pengelolaan destinasi termasuk di dalamnya kegiatan ekowisata. Untuk itu perlu evaluasi dan penataan ulang pola perjalanan ekowisata yang disesuaikan dengan kondisi new normal.

“Kami prediksikan kegiatan wisata berbasis alam atau outdoor paling cepat rebound karena ecoturism bukan mass tourism tetapi wisata minat khusus. Kita mendukung akan kembalinya atau malah berkembangnya ekowisata di Indonesia. Ke depannya, kami akan konsentrasi di wisata Ecotourism dan Wellness Tourism,” kata Rizki Handayani.

Dalam Webinar Ekowisata hadir sebagai panelis Direktur Indonesia Ecotourism Network (INDECON) Ary S. Suhandi, Direktur Via Via Tour & Travel Sry Mujianti, dan dipandu oleh Direktur Wisata Alam, Budaya, dan Buatan Kemenparekraf/Baparekraf Alexander Reyaan sebagai moderator.

Dalam kesempatan yang sama, Ary S. Suhandi  menjelaskan Ecotourism, Adventure Tourism, dan Wellness Tourism diperkirakan memang akan menjadi produk-produk yang paling diminati pascapandemi. Khususnya untuk kegiatan dengan grup kecil dan aktif seperti interaksi di luar ruangan, kegiatan edukasi alam untuk keluarga, hingga aktivitas yang berkontribusi pada konservasi alam.

“Adventure juga berpeluang besar, khususnya kegiatan dalam grup kecil dan aktivitasnya dinamis, seperti trekking, snorkeling, dan diving. Wellness Tourism juga diprediksi cepat rebound. Banyak orang membutuhkan kebugaran pascakerja rutin yang tinggi dengan marketnya adalah orang dari kota,” ujarnya.

Ary menjelaskan, ekowisata merupakan salah satu cara untuk meningkatkan kepedulian wisatawan pada pentingnya menjaga kualitas lingkungan kawasan tempat mereka berwisata, hanya dalam konteks ekowisata perlu penyempurnaan, dimana keuntungan devisa bukanlah kiblat satu-satunya, namun juga memikirkan kelestarian dan pelibatan masyarakat lokal.

“COVID-19 mengajarkan kita banyak hal, selain mitigasi risiko juga salah satunya tentang pentingnya manajemen pengunjung, mengatur kuota, hingga membagi kelompok besar ke dalam kelompok kecil pada saat kegiatan wisata,” katanya.

Sementara itu, Direktur Via Via Tour & Travel Sry Mujianti mengatakan, pascapandemi akan terjadi pola perjalanan wisata baru. Kombinasi alam dan budaya biasanya menjadi pilihan utama wisatawan. Hal ini akan semakin lengkap apabila didukung dengan interpretasi yang kuat di setiap destinasi.

“Sebagai contoh, untuk klaster Jogja-Solo-Semarang (Joglosemar) biasanya menghubungkan kota-desa kemudian ada klaster Jawa Timur, mulai dari Malang hingga Banyuwangi. Wisatawan akan lebih memilih untuk melakukan perjalanan dengan jarak yang relatif dekat atau menempuh waktu lebih singkat,” ujarnya.

 Sumber & Foto: Agustini Rahayu
Kepala Biro Komunikasi
Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif

[fiq/RID]

© PT. Aliansi Rakyat Multimedia Indonesia 2021
magnifiercrossmenuchevron-down