Bahasa IndonesiaEnglish

WEBSITE RAKYAT.ID MASIH DALAM PENGEMBANGAN

PURANA WANGSA
KYAI ANGLURAH MAMBAL SAKTI

Pendahuluan
Om awighnam astu namā śidyam.

Om prânamyam sirā sang widyam, bhukti bhukti hitartwatam,
prêwaksyā tatwam widayah, wişņu wangsā pādāyā śiwanêm, sirā
ghranā sitityam waknyam. Rajastryam mahā bhalam, sāwangsanirā
mongjawam, bhupa-lakam, satyamloka. Om namadewayā,
pānamaskaraning hulun, ri Bhatarā Hyang mami. Om kara panga
bali puspanam. Prajā pasyā. nugrah lakam, janowa papā wināsayā,
dirgha premanaming sang ngadyut, sembahing ngulun ri
Sanghyang Bhumi Patthi,hanugrahaneng hulun, muncaranākna
ikang tatwa, mogha tan katamanan ulun hupadrawa, tan kêneng
tulah pāmiddi, wastu pari purņā hanmu rahayu, ratkeng kulā
warggā sāntanannirā, mamastu jagatitayā. sukham bhawantu Om
purnam bhawantu, saptawredyastu Swaha.

Pengaksama kami kehadapan Bhatara Hyang Mami yang bergelar
Omkara Hradaya Namah Swaha, Sunia Loka, Sida Loka Suara.
Anugrahkanlah hamba atau ijinkan hamba menceritakan segala masa
lalu yang telah tertulis dalam lepihan tembaga dan lontar yang sudah
suci menyatu dengan Hyang Widhi, Om Bhur, Bwah, Swah semoga
tidak berdosa, terikat usana, semoga tidak alpaka dari penciptaan Sang
Hyang Purwa Tatwa, begitu juga dengan seketurunan hamba,
bebaskanlah hamba dari alpaka kehadapan Ida Hyang Widhi, lara
wigraha mala papa petaka, bisa terbebas dari kutukan Sang Hyang
Widhi, membicarakan masa lalu, sekarang dan yang akan datang, juga
menemukan kebahagiaan sekala niskala atau lahir bathin, anugrahkanlah
hamba agar sempurna menemui panjang umur, kebahagiaan untuk

keluarga dan alam semesta.

Karena sebuah rasa penuh tulus dan kecintaan terhadap alam, budaya
serta kehidupan sosial masyarakat Hindu di Bali, berbekal keinginan
mengabdi terhadap tanah kelahiran dilandasi dengan semangat bakti
terhadap Ida Sang Hyang Widhi Wasa dan para leluhur yang sudah
menyatu di dalam rangkuman sinar suci Beliau, kami memberanikan diri
meramu data-data yang ada didalam bentuk sebuah karya sastra yang

sangat sederhana yang kami persembahkan sebagai yadnya kepada
pembaca dan generasi penerus kita, agar bisa kelak dikemudian hari
dipakai sebagai bahan kajian dalam menyusun karya sastra yang lebih
sempurna.

Segala macam bentuk ketidaksempurnaan dan kekurangan memenuhi
kata demi kata dalam buku ini, sehingga dengan kerendahan hati kami
memohon berbagai petunjuk dalam usaha kami membuat buku ini
mendekati sempurna. Karena kami yakin dalam era global ini, banyak
hal yang harus bisa kita lakukan untuk menjawab berbagai pertanyaan
zaman, salah satu diantaranya adalah tentang sejarah. Sejarah yang
ditulis dengan dasar metode penulisan yang benar, data penunjang yang
kuat serta pemahaman yang dalam akan mampu membangun rasa cinta
generasi terhadap tanah kelahiran serta yang bertumbuh dan
berkembang di wilayahnya. Karena rasa cinta akan hadir apabila kita
mengenal jati diri yang mencakup tentang berbagai pilosofi yang
terkandung didalam kebiasaan kehidupan sosial budaya kita.

Pada
intinya kami berusaha menyelaraskan berbagai dasar budaya keagamaan
kita yang terdiri dari Kuno Dresta, Loka Dresta dan Sastra Dresta dalam
sebuah kajian yang bisa menggugah kesadaran kita tentang pentingnya
berbagai kearifan lokal yang didukung oleh sastra agama Hindu dalam
menjaga Sradha umat beragama. Semoga kemudian kita dan generasi
mendatang bisa melewati masa-masa kritis sebagai penjaga agama dan
budaya warisan leluhur kita dahulu, agar perjuangan dan usaha yang
sudah dilakukan oleh leluhur kita semenjak dahulu tidak hanya menjadi
cerita usang yang semakin hilang, hanya karena ketidaktahuan kita
terhadap perjuangan mereka.

Kita adalah bagian dari masa lalu, masa
kini dan masa yang akan datang, karena sejarah adalah sumber
pengetahuan yang merupakan satu-satunya media untuk mengetahui
masa lampau, yaitu mengetahui peristiwa-peristiwa penting pada masa
lampau dengan perbagai permasalahannya. Peristiwa yang menjadi
objek sejarah sarat dengan pengalaman penting manusia karena mampu
membangkitkan imajinasi memperluas wawasan intelektual,
memperdalam simpati, sebagai sarana ideal untuk mendidik masyarakat
agar berpikir secara bebas mengajarkan kepada masyarakat cara berfikir
mmeningkatkan kreatifitas dan memberikan pelajaran untuk mengenal
dirinya sendiri. Sejarah juga menjadi sumber pendidikan penalaran,
pendidikan moral, menciptakan kebijaksanaan, dasar pendidikan politik,
perubahan, pendidikan masa depan dan sebagai ilmu bantu untuk ilmu-
ilmu yang lain.

Sejarah dan Babad untuk menguji metode Sambung Batang ini, sehingga
buku hasil metode ini bisa menjadi salah satu alternatif untuk
membangun untaian kejadian setiap zaman secara lengkap dan medetail
dalam sebuah karya tulis semi akademis.
Kami ucapkan Terimakasih yang tidak terhingga kepada seluruh
keluarga besar ANGMAS, garis Keturunan dari Kyayi Anglurah
Mambal Sakti yang sudah memberikan bantuan sangat besar berupa
data-data terkait penyusunan buku ini.
Semoga pikiran yang jernih mengalir dari semua penjuru arah angin,
sehingga kita bisa memaknai setiap langkah dalam proses hidup di
Bhuwana Agung maupun Bhuwana Alit sebagai sebuah keharusan yang
sudah direncanakan oleh Sang Pencipta. Yang kekal adalah perubahan
dan kebenaran utama hanya nilai-nilai spirit dan ritual yang mampu
memaknai setiap perubahan sebagai sebuah kebenaran utama.

 

Dalam penyusunan buku ini saya menggunakan berbagai metode,
diantaranya saya namakan "Menyambung Batang", menimbang
kelaziman di berbagai wilayah, setelah zaman prasasti antara tahun 900
Masehi hingga 1200 Masehi, penduduk memiliki kecenderungan
melakukan pencatatan yang terbatas diantara clan-clan baik besar
maupun kecil, para penulis tradisional menuangkan pengetahuan mereka
dalam lembaran-lembaran daun lontar, yang sangat jarang menyertakan
tahun pada tulisan. Dengan mempelajari secara seksama, bentuk tulisan,
tata bahasa, serta isi yang tertuang dalam karya tulisan itu, dapatlah kita
menentukan apa maksud tulisan dan pada era kepemerintahan siapa
tulisan itu dibuat. Tulisan-tulisan klasik ini dikenal dengan nama Babad,
Bancangah, Ilikita atau Paplesiran.

 

Zaman babad berlangsung di Bali
antara tahun 1600 hingga pertengahan tahun 1700 Masehi. Mulai tahun
1950 setelah masa kemerdekaan barulah dilaksanakan kembali
pencatatan-pencatatan masih secara sangat sederhana oleh para pejabat
untuk kepentingan data penduduk, data wilayah dan pembagian
administrasi pemerintah Republik Indonesia. Dalam kurun waktu 1760
hingga hingga tahun 1950 terjadi kekosongan pencatatan di Bali, hal ini
terjadi akibat perang antar Nagari, wabah penyakit, kelaparan
Pemerintahan Kolonial dan Jepang serta bencana alam. Menyajikan
buku dengan catatan lengkap dari zaman Purba, Zaman Prasasti, Zaman
Babad, Zaman Kolonial Belanda-Jepang hingga zaman kekinian, patut
dilengkapi dengan catatan yang lengkap di masing-masing zaman
tersebut.

 

Setelah zaman Babad dan sebelum zaman Kemerdekaan RI saya
mencoba menyambung catatan tersebut dengan unduhan data-data dari
para peneliti asing yang tertuang dalam Bank Data yang menjadi koleksi
beberapa musium di luar negeri dan koleksi para kolektor data yang
tersimpan dengan sangat rapi pada tulisan-tulisan kuno berbahasa Jawa
Kuno, Inggris maupun Belanda. Menyambung catatan antara zaman ke
zaman ini yang saya namakan metode Menyambung Batang.

Semua
data dari masing-masing zaman dihubungkan dengan berbagai
peninggalan yang ada di tempat penelitian, juga warisan turun temurun
berupa bhisama dan aturan yang mengikat sebuah clan atau sebuah desa.
Sudah pasti pada proses ini memerlukan waktu yang lama, ketelitian
mengkaji dan penyajian dan khusus, sehingga mampu dibaca dan
dipelajari oleh seluruh lapisan masyarakat. Pada akhirnya setelah
terpapar semua data itu menjadi draft, saya memberikan keleluasaan
kepada para sahabat, masyarakat, para praktisi dan para penekun ilmu

sejarah dan Babad untuk menguji metode Sambung Batang ini, sehingga
buku hasil metode ini bisa menjadi salah satu alternatif untuk
membangun untaian kejadian setiap zaman secara lengkap dan medetail
dalam sebuah karya tulis semi akademis.

Kami ucapkan Terimakasih yang tidak terhingga kepada seluruh
keluarga besar ANGMAS, garis Keturunan dari Kyayi Anglurah
Mambal Sakti yang sudah memberikan bantuan sangat besar berupa
data-data terkait penyusunan buku ini.
Semoga pikiran yang jernih mengalir dari semua penjuru arah angin,
sehingga kita bisa memaknai setiap langkah dalam proses hidup di
Bhuwana Agung maupun Bhuwana Alit sebagai sebuah keharusan yang
sudah direncanakan oleh Sang Pencipta. Yang kekal adalah perubahan
dan kebenaran utama hanya nilai-nilai spirit dan ritual yang mampu
memaknai setiap perubahan sebagai sebuah kebenaran utama.

(lanjut part II)

Judul : PURANA WANGSA ANGLURAH MAMBAL SAKTI

Sumber : Lempihan tembaga & Lontar (Yayasan Dharma Kawisastra)

Penterjemah & Sejarawan : IDA BAGUS BAJRA. YDK. BALI. 04.2020

[RID/fiq]

Film series terkait, kebudayaan , perdagangan, kekuasaan, ilmu Kungfu, keagamaan, demokrasi, strategi perang, alat perang, persaudaraan , kerajaan, serta pertukaran keilmuan dari berbagai kisah. Bukan hanya petualangan, tapi semuanya lengkap ada di film Marco polo.

Banyak aspek cerita terjadi dalam kisah Marco Polo. Banyak sandi kerajaan serta diplomasi dari berbagai kerajaan ikut berperan serta dalam memeriahkan keseruan jalan cerita film ini. Untuk latar cerita serta peristiwa, tidak usah diragukan lagi keistimewaannya.

Dengan melihat film ini, kita bisa melihat hal-hal yang tak terduga, pemandangan alamnya sangat bagus sekali. Untuk penonton yang suka hewan binatang kuda dapat mengetahui jenis kuda terbaik di film ini.

Pertukaran keilmuan dunia Barat, , Timur Tengah & Asia terlihat sangat mengesankan, mereka semuanya berkumpul.

Pada jaman dahulu sudah ada pertemuan-pertemuan antar suku, wilayah dan pengambilan suara atau pendapat untuk mempromosikan keberhasilan.

Tembok gagah perkasa akhirnya hancur oleh ilmu pengetahuan. alat perang.

Mereka lakukan peristiwa dialog-dialog yang sangat mengejutkan.

Penulis : John Fusco

Produksi : The Weinstein Company

Netflix

Sumber Foto : TMDb - Internet Movie Poster Award

Poster Design : LA

[RID/fiq]

 

Situs Mbah Selo Gending sebagai sebagai sebuah tempat pemujaan pada Sang Hyang Mahameru mempunyai struktur yang berundak dari rendah sampai tingkat tertingginya.

Di pelataran tempat pemujaan ini terdapat bentuk seperti anak tangga menuju ke atas. Setelah diatas baru terdapat batu menhir atau batu tegak yaitu Mbah Tejo Kusumo, Mbah Pukulun, Mbah Wadung Prabu dan Mbah Selo Gending.

Struktur Punden Berundak ini cukup luas, kira-kira 10 hektar lebih .

Sampai sekarang masih dihormati oleh penduduk baik yang beragama Hindu maupun Islam.

#MasMansoer

#Sejarah

#SukuTengger

link terkait;

https://www.youtube.com/watch?v=8t7VA_LXY5I

SEJARAWAN : MANSUR HIDAYAT

Sumber & Foto : mas mansoer channel

[RID/fiq]

 

Kabupaten Lumajang merupakan suatu wilayah yang mempunyai peninggalan bersejarah atau Cagar Budaya era Klasik atau kerajaan Hindu Budha lebih dari setengah dari 21 Kecamatan yang ada di wilayah tersebut. Jikalau di hitung dengan Cagar Budaya era Kolonial, mungkin hampir seluruh wilayahnya terdapat jejak – jejak Cagar Budaya.

Untuk era pra sejarah sampai klasik, penemuannya telah diawali sejak jaman Kolonial yaitu ketika J. Hageman,  seorang misionaris  Belanda melakukan perjalanan ke ujung timur Jawa dan pada tahun 1861 sampai di Kawasan Situs Biting.

Ia  kemudian melaporkan penemuan tersebut  dan oleh Dinas Arkeologi Hindia Belanda(Oudheidkundige Dienst) pada tahun 1920- 1923 dilakukan adanya penggalian awal maupun pemotretan yang dipimpin oleh seorang arkeolog kenamaan saat itu yaitu Van Stein Callenfels yang dibantu oleh administratur A. Muhlenfeld. 

Hasilnya dilaporkan bahwa di kawasan situs Menak Koncar yang ada di Desa Kutornon terdapat penemuan besar berupa tembok batu bata yang mesti diteliti lebih mendalam. Kemudian Dinas Arkeologi Hindia Belanda pada sekitar tahun 1941-an melakukan pemugaran-pemugaran awal terhadap situs Candi Agung di Desa Randuagung.

Pada masa kemerdekaan, survey terhadap peninggalan bersejarah di Lumajang terus berlanjut meski ahli purbaka yang ada masih terbatas. Dalam laporan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan tahun 1954 dilaporkan ada penemuan batu bertulis di daerah Pasrujambe, Kabupaten Lumajang. Namun karena minimnya ahli epigrafi saat itu maka laporan tersebut hanya berisikan informasi lapangan terkait adanya 16 batu bertulis.

Penelitian yang intens dari para ahli purbakala (arkeolog) dilakukan pada tahun 1980-an oleh Balai Arkeologi (Balar) Yogyakarta untuk menggali informasi terhadap tembok batu bata kuno di Desa Kutorenon Kecamatan Sukodono atau yang dikenal dengan sebutan Kawasan Situs Biting dewasa ini.

Penelitian terhadap Situs Biting sendiri dilakukan sampai 12 tahap sejak tahun 1982 – 1991. Pada tahun 1990-an penelitian terhadap peninggalan bersejarah di Kabupaten Lumajang dilakukan kembali oleh Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas) dan kemudian juga diulangi lagi oleh inventarisasi oleh Badan Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jawa Timur pada tahun 1995.

Namun sayangnya keperdulian para peniliti ini belum bersinergi dengan kesadaran masyarakat maupun kemauan politik dari pemerintah. Pada rentang waktu tahun 1960-an sampai sekarang ini banyak peninggalan bersejarah yang ada di Kabupaten Lumajang yang menjadi korban pencurian dam penjarahan untuk diperjual-belikan dan kemudian perusakan oleh orang – orang dengan tendensi keagamaan tertentu.

Penjarahan yang berujung perusakan Candi Agung di Kecamatan Randuagung, perusakan Lingga Yoni di Candipuro karena dianggap menyembah batu dan perhancuran Arca Nandi yang merupakan hewan suci kendaraan Betara Syiwa di Kunir pada tahun 2000-an maupun pencurian Lingga Yoni 2 bulan lalu di Yosowilangun.

Disamping perusakan yang sifatnya insidentil oleh peseorangan atau sekelompok masyarakat, ada juga perusakan yang sifatnyasistematisdanmasif.

Pada tahun 1995 ijin prinsip proyek pembangunan perumahan di Dusun Biting dikeluarkan. Pada tahun 1996 pembangunan perumahan yang merusak area situs dimulai dengan adanya pembangunan jalan yang banyak mengangkat struktur batu bata di kawasan yang pernah di teliti secara intensif oleh Balai Arkeologi (Balar) Yogyakarta.

Banyak protes dilakukan terhadap pembangunan perumahan oleh pengembang tersebut, namun semuanya tidak digubris sehingga perusakan areal situs ini berjalan secara masif di kawasan sekitar 15-an hektar tersebut.

Pada akhir tahun 2010 kemudian muncul sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) bernama Masyarakat Peduli Majapahit Timur (MPPM Timur) yang bertujuan untuk menyelamatkan Kawasan Situs Biting supaya terhindar dari kerusakan yang lebih parah.

Lembaga Swadaya Masyarakat ini kemudian di dukung oleh sekelompok mahasiswa yang menamakan diri Komunitas Masyarakat Peduli Lumajang (KMPL) dan berbagai elemen masyarakat maupun pemuda dan pelajar di Lumajang, dukungan para pelestari di seluruh Indonesia termasuk Paguyuban Arya Wang Bang Pinatih (AWBP) yang merupakan keturunan Arya Wiraraja dari pulau Dewata  dan tidak ketinggalan para netizen dari seluruh penjuru tanah air.

Perjuangan penyelamatan Kawasan Situs Biting ini berjalan naik turun selama bertahun – tahun sampai kemudian memuncak pada tahun 2013.

Setelah perjuangan yang cukup intens untuk menyelamatkan Kawasan Situs Biting sejak tahun 2011 dan kemudian terjadi gencatan senjata pada sekitar tahun 2012-an karena pihak pengembang mengendorkan pembangunan perumahan.

Tahun 2013 cerita tentang pelestarian peninggalan bersejarah atau Cagar Budaya di Kabupaten Lumajang sedang mengalami ujian dan cobaan yang dahsyat. Pada awal Januari 2013 tiba – tiba pihak pengembang melakukan pembangunan perumahan kembali dengan melakukan “pembuldozeran” yang menyebabkan banyak artefak terangkat ke permukaan dan hancurnya dinding benteng sebelah barat.

Namun kekuatan dari pelestari setelah berlangsung 2 tahun sudah mulai compang – camping dikarenakan ada yang mulai berkarir di berbagai bidang dan juga perbedaan pendapat dalam menghadapi serangan baru tersebut. Pada awal tahun 2013, praktis para pelestari masih diam dan belum bersikap sehingga baru pada Juni kami melakukan protes terbuka.

Perusakan Kawasan Situs Biting oleh pengembang belum mendapatkan pemberitaan sehingga teman – teman pelestaripun  menunggu momen yang tepat. Baru pada tanggal 14 Juni 2013 bertepatan dengan peringatan “Hari Purbakala” para pelestari Cagar Budaya keluar kandang, turun ke jalan di pusat kota Lumajang untuk membagi bunga pertanda kecintaan kami terhadap Situs Biting yang perlu diselamatkan.

Dengan kekuatan seadanya karena perbedaan pandangan dalam menyikapi perusakan situs ini memang jalan yang ditempuh agak berat. Bahkan ada beberapa pelestari yang sudah menyatakan keluar dari lembaga pelestarian yang di bangun bersama – sama.

Pada minggu pertama bulan Oktober 2013 ada penemuan baru berupa Candi di Desa Kedungmoro Kecamatan Kunir. Pihak pemerintah Kabupaten secara intens mengawal penemuan tersebut yang kemudian diikuti oleh hampir semua media yang  ramai memberitakan.

Bersamaan dengan pemberitaan yang luar biasa ini animo masyarakat untuk melihat penemuan Candi ini juga besar sekali. Ratusan dan bahkan ribuan orang setiap hari datang mengunjungi situs.

Masyarakat setempat dan juga para pemudanya menyambut kedatangan masyarakat ini dengan senang hati dan melayani dengan baik. Masyarakat kemudian menamakan situs ini Candi Betari Durgo sesuai nama Desa kuno di wilayah ini sebelum terpecah yaitu “Durgowok”. 

Disamping itu ada relief seorang perempuan yang ada di goresan batu bata Candi dan juga berbagai penemuan bersifat Syiwa yang ada di wilayah ini. Bagi masyarakat, Betara Syiwa atau Betara Guru yang merupakan pimpinan para Dewa seperti yang ada di pewayangan beristrikan Betari Durgo.

Para pelestari Cagar Budaya yang sedang menyelamatkan Kawasan Situs Biting pun bangga menyaksikan fenomena ini namun masih belum bisa mengambil tindakan secara intensif karena masih disibukkan oleh perusakan Kawasan Situs Biting yang semakin menghebat.

Perusakan Kawasan Situs Biting terus belangsung, dinding benteng terus digerus dan para pelestari Cagar Budaya sedih melihat perusakan ini. Pada tanggal 7 Oktober 2013 para pelestari Cagar Budaya dari LSM maupun mahasiswa melakukan aksi ke kantor Pemerintah Kabupaten Lumajang untuk menyuarakan penghentian perusakan kawasan bekas ibu kota Arya Wiraraja yang dikenal sebagai Situs Biting tersebut.

Karena belum ada respon yang baik saat itu, aksipun dilakukan kembali pada 22 Oktober 2013 ke kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Lumajang yang kemudian disikapi dengan baik sehingga keluar Surat Bupati Lumajang pada tanggal 24 Oktober 2013 terkait penghentian sementara pembangunan perumahan oleh pihak pengembang.

Disamping secara intern mulai ada perpecahan, dari pihak pemerintah saat itu juga sedang giatnya menggelindingkan wacana “pembangunan Museum Daerah”. 

Pada sekitar bulan Agustus 2013 diadakan pertemuan terkait pendirian Museum Daerah. Teman – teman dari LSM MPPM Timur yang sedang intens menyelamatkan Kawasan Situs Bitingpun menolak ajakan untuk ber-partisipasi dalam pendirian Museum Daerah tersebut sebelum perusakan Kawasan Situs Biting dihentikan dan menyatakan “Wolk Out” dalam pertemuan ini karena tidak ada kesamaan pandangan.

Setelah penghentian pembangunan perumahan oleh pengembang karena ada larangan dari Bupati Lumajang, maka teman-teman pelestari mempunyai nafas sejenak untuk memikirkan pelestarian di Situs Candi Betari Durgo.

Pada akhir Desember tahun 2013 teman – teman pelestari sempat mengadakan berbagai acara berupa pagelaran kesenian Jaran Kencak dan Tari Ujung di situs tersebut. Event kedua di Situs Candi Betari Durgo ini kemudian dilaksanakan pada bulan Desember 2014 dengan mengadakan acara Kemah Budaya dan menghadirkan kesenian Jaran Kencak.

Dalam perkembangan selanjutnyateman – teman

pelestari

terusmembina hubungan baik dengan masyarakat di sekitar Situs, namun alangkah sedihnya ketika mendengar gugusan Candi yang luar biasa ini terlantar.

Semoga ke depan ada perhatian dari pemerintah karena situs ini begitu penting untuk menguak sejarah Lumajang yang terlupakan.

Sejarawan: Mansoer Hidayat

Penulis: Mansoer Hidayat

Sumber & Foto: www.masmansoer.com

link: https://masmansoer.com/2021/07/dilema-pelestarian-mana-yang-didahulukan-situs-biting-candi-betari-durgo-atau-museum/

[RID/fiq]

Kerajaan Blambangan adalah sebuah kerajaan yang usianya sangat panjang diperkirakan mulai abad ke-15 sampai abad ke-18.

Kerajaan Blambangan ini dianggap sebagai kerajaan Hindu terakhir yang tetap bertahan terhadap gempuran VOC Belanda sampai tahun 1771. Dalam sejarahnya kerajaan Blambangan mempunyai ibu kota berpindah-pindah mulai dari lereng timur Mahameru sekitar Teposono (Desa Pagoan dan Purwosono Kabupaten Lumajang) pada abad 15 awal, pindah ke Semboro Kabupaten Jember pada pertengahan abad ke 15, pindah ke Panarukan Kabupaten Situbondo pada abad ke 16 dan pindah ke Banyuwangi sekitar abad ke 17.

Dari 24 Prasati Pasru Jambe berangka tahun 1459 Masehi ada sebuah tulisan menyebutkan "Rabut Macan Pethak" atau "Yang Mulia Macan Putih" yang diidentifikasikan Penguasa Blambangan yang mengunjungi Gunung suci Mahameru dan para leluhurnya di bumi Lamajang.

Dari tulisan ini dapat ditafsirkan bahwa para penguasa Blambangan senantiasa menjaga hubungan spiritual dengan Gunung suci Mahameru dan kakek moyangnya di Lamajang meskipun kraton dan ibu kotanya telah berpindah.

Menurut Babad Sembar, pendiri kerajaan Blambangan adalah "Lembu Miruda" yang ber- kraton di lereng timur Tengger Mahameru yang dapat di tafsirkan wilayah Lamajang atau Jember di masa sekarang.

Sumber & Foto: Mas Mansoer Channel

link: https://www.youtube.com/watch?v=F8vNRI3WJA0

Sejarawan: Mansoer Hidayat

[RID/fiq]

Inna lilahi wa inna ilahi Raji´un.

(sesungguhnya kami itu milik Allah dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Allah SWT)." (QS. Al-Baqarah [2]: 155-156)

Telah Berpulang Ke Rahmatullah K.H. DR. LUTFI FATHULLAH, MA

Hasil buah karya fenomenal KH. Ahmad  Lutfi Fatullah adalah PID (Perpustakaan Islam Digital) berisi 8000 jilid (3600) judul kitab.

Kitab - Kitab sudah disusun berdasarkan subjek keIslaman :

Hadist, Al-quran, Fiqh, Sejarah, Bahasa, Tasawuf, Ushul fiqh , Akhlak, Dakwah, Tarbiyah, Ensiklopedia dan Aqidah.

Semoga ilmu - ilmu terbaik menjadi amal soleh almarhum.

Sudah bisa dibaca & download gratis.

Silahkan dibuka link: https://perpustakaanislamdigital.com/

Beliau mendapatkan amanah & fathonah sebagai (Ketua Baznas Bazis DKI).

Wafat : Hari Ahad

Tanggal : 11 Juli 2021

Bertepatan waktu pada pukul :18.22 WIB


Semoga semua dosa dan khilafnya Allah ampuni. Allah tempatkan beliau di tempat yang terindah dari surga.

Untuk keluarga yang telah ditinggalkan selalu diberikan ketabahan serta kesabaran yang luas oleh Allah SWT.

Seluruh santriwati mengucapkan "Selamat jalan Guru & Pembina"

Kami keluarga besar Yayasan Pulau Harapan Cendekia mengucapkan turut berduka cita, terimakasih atas waktu dan kesempatannya telah berbagi ilmu terbaik serta nasehat. Selamat jalan Guru


Mohon dimaafkan jika selama ini beliau ada salah. Mohon keikhlasannya untuk mendoakan beliau.

Sumber & Foto: Yayasan Pulau Harapan Cendekia

[RID/fiq]

Menurut Kitab Tantu Pangelaran, Gunung Mahameru adalah perwujudan dari gunung Mandara atau Himalaya di India yang dianggap suci. Oleh karena itu di sekitar Mahameru banyak ditemukan bangunan suci, pertapaan maupun pusat pendidikan para Brahmana.

Disamping itu banyak kunjungan dan ziarah suci dilakukan ke Mahameru baik masyarakat umum, kaum agamawan maupun para raja. Salah satu raja yang mengunjungi Mahameru adalah Kameswara yang merupakan cucu raja Jayabaya dari Kediri yang sangat terkenal dalam sastra Jawa.

Kunjungan monumental yang dilakukan dengan mengajak ribuan pengiring ini kemudian di tuangkan dalam goresan prasasti abadi di pinggir Ranu Kumbolo yang isinya "Link Dewa Mpu Kameswara Tirtayatra" yang berasal dari tahun 1182 Masehi.

Sepuluh tahun paska Prasasti Ranu Kumbolo ini, para brahmana di sekitar Desa Kertosari juga menuliskan prasasti yang isinya Candra Sengkala "Kaya Bhumi Shasiku" yang berarti tahun 1131 Saka atau 1191 Masehi. Oleh karena itu perjalanan raja Kameswara ini dapat dipakai sebagai penanda puncak perjalanan suci ke gunung Mahameru sejak berpuluh-puluh abad yang lampau.

Sumber & Foto: Mas Mansoer Channel

Sejarawan: Mansoer Hidayat

Narasumber: Mangku Karyono

link: https://www.youtube.com/watch?v=XwT4mfbBag4

[RID/fiq]

Desa Burno Kecamatan Senduro merupakan sebuah Desa kuno dikarenakan mempunyai jejak-jejak peninggalan bersejarah yang cukup banyak. Menurut catatan penelitian, di Desa ini ditemukan adanya arca Dewa Brahma sampai pada "Pedanyangan" atau tempat yang dikeramatkan oleh masyarakat bernama "Mbah Saikem" dan dianggap penghuni pertama berkelamin perempuan yang letaknya ada diatas bukit. Sang hari itu Kecamatan Senduro diguyur hujan deras dan sedikit badai sehingga banyak pohon bertumbangan.

Tim Mas Mansoer Channel yang melakukan penelusuran lapangan untuk mencapai situs atau pedanyangan ini ternyata harus menemui kenyataan jalanan licin dan berlumpur sampai kemudian banyak pohon bambu bertumbangan menutupi jalanannya.

Tim penelusuran dalam kesempatan ini tidak bisa meneruskan perjalanan dan kembali pulang. Namun perjalanan turun-pun tidak kalah berbahaya-nya dengan perjalanan di saat naik. Ketika melompati kubangan lumpur, kecelakaan kecil-pun terjadi.

"tidak boleh menyerah untuk merawat jejak-jejak leluhur yang bersejarah" _mansurhidayat_

Sumber & Foto: Mas Mansoer Channel

Sejarawan: MANSUR HIDAYAT

LINK: https://www.youtube.com/watch?v=8MTmzgH8aXA

[RID/fiq]

Pada saat Parisada Hindu Darma Indonesia (PHDI) Kabupaten Lumajang dilantik pada 2 Pebruari 1986 dengan ketuanya I Made Wiratha SH yang saat itu adalah Kepala Kejaksaan Negeri Lumajang, saat itu warga Hindu Lumajang belum mempunyai tempat persembahyangan yang memadai.

Persembahyangan dilakukan di Pura Desa masing-masing dan belum ada koordinaai antar warga Hindu satu sama lain. Di Kepengurusan I Made Wirata SH inilah ide pendirian Pura dilahirkan.

Awalnya hanya 20 X 60 meter namun atas berkat Sang Hyang Widi, perjalanan memandu umat Hindu untuk mendirikan Pura yang diluar harapan mereka.

Pura Mandara Giri Semeru Agung telah berdiri di lahan 1,5 hektar dan menjadi tempat persembahyangan utama Nusantara yang ada dilereng Mahameru sebagai gunung suci.

Resi Sarjo Atmo Suryoatmojo adalah salah seorang pemuka Hindu Senduro yang getol memperjuangkan berdirinya Pura besar ini.

Sumber & Foto: Mansoer Channel

Sejarawan: MANSOER HIDAYAT

LINK: https://www.youtube.com/watch?v=GU-TkH6MHBA

[RID/fiq]

 

Sempat melongo ketika mengetahui semua cerita tentang Taman Sari Water Castle Yogyakarta. Tempat tinggal para selir Sultan Hamengku Buwono I. Taman Sari sendiri sebenarnya punya banyak bangunan, baik yang berdiri diatas tanah maupun yang ada dibawah tanah. Tetapi hanya beberapa bangunan saja yang masih terlihat kokoh berdiri. Diantaranya tempat pemandian selir dan putri Sultan. Sedang beberapa bangunan ada yang tinggal puing-puing saja. Taman ini secara efektif digunakan pada tahun 1765-1812.

Kompleks pemandian ini dikelilingi oleh tembok yang tinggi dan mempunyai dua buah gerbang disisi barat dan sisi timur. Di kompleks ini terdapat tiga buah kolam yang dihiasi dengan mata air yang berbentuk jamur. Disekeliling kolam terdapat pot bunga raksasa. Selain kolam, disisi utara dan selatan terdapat bangunan.

Diantara kedua kolam terdapat satu bangunan dengan menara dibagian tengahnya. Disini terdapat tempat berganti pakaian Sultan dan sisi seberangnya ruangan adalah tempat istirahat Sultan.

Untuk naik ke menara terdapat anak tangga. Dari menara, Sultan bisa melihat para selir yang sedang mandi. Yang tubuh telanjangnya paling mengesankan Sultan, akan dipanggil ke menara.

Bagian disisi seberang menara adalah tempat istirahat dan berganti pakaian bagi para selirnya. Pada masanya, selain Sultan, hanya para perempuan yang diijinkan masuk ke kompleks ini. Karena di kompleks ini semua perempuan (permaisuri, selir, dan para putri sultan) yang masuk kedalam taman ini harus melepas pakaian (telanjang), sehingga selain perempuan, dilarang keras oleh Sultan masuk ke taman ini.

Bangunan yang masih berdiri kokoh selain kompleks pemandian adalah Pulo Kenongo. Meskipun ada bagian disana sini yang tinggal puing, bangunan utama masih berdiri kokoh. Tetapi sekarang kita tidak diperbolehkan naik sampai kelantai atas. Aksesnya ditutup. Mungkin untuk menjaga agar bangunan bisa bertahan dan tidak runtuh. Konon, Pulo Kenongo adalah tempat tinggal para selir Sultan.

Sebenarnya sayang sekali melihat kondisi Taman Sari sekarang. Di kompleks Taman Sari sudah penuh dengan pemukiman penduduk yang boleh dibilang kurang rapi dan terkesan kumuh. Sayang sekali kalau tempat yang penuh dengan nilai sejarah ini bangunannya semakin sempit dan akhirnya hilang tinggal nama. Perlu perhatian dari pemerintah daerah setempat.

Untuk lebih lengkapnya silahkan klik https://en.wikipedia.org/wiki/Taman_Sari_(Yogyakarta)

Terimakasih Telah Membaca.

Penulis & Sumber Foto : [Anisfa/rid]

 

© PT. Aliansi Rakyat Multimedia Indonesia 2021
crossmenuchevron-down