Bahasa IndonesiaEnglish

Arya Wiraraja adalah seorang tokoh besar yang mempunyai pemikiran jauh ke depan dan taktik perang yang mumpuni sehingga dapat dikatakan sebagai seorang negarawan tidak tertandingi pada masanya.

Tokoh ini dilahirkan pada 1232 Masehi dengan nama Banyak Wide yang kemudian berkarir di Singosari, Sumenep, Tuban dan kemudian meninggal Lumajang pada sekutar tahun 1311-1316 Masehi. Peranan besar dimainkannya ketika mulai menolak doktri "Cakrawala Mandala" raja Kertanegara dengan mengirimkan pasukan Singosari ke Melayu Dharmasraya di Sumatra.

Karena pertentangan ini Banyak Wide kemudian dikirim ke Sumenep, Madura untuk menjadi Adipati Sumenep dengan gelar Arya Wiraraja pada tahun 1269. Di Kadipaten Sumenep, Arya Wiraraja kemudian membuktikan dirinya dengan membangun kekuatan perdagangan sehingga pelabuhannya menjadi bandar internasional sehingga sering berhubungan dengan berbagai bangsa terutama yangvterpenting saat itu adalah kerajaan Mongol Tar Tar.

Karena kekuatan ekonominya, Adipati Sumenep ini kemudian dapat membangun pasukan yang cukup kuat. Sosok Arya Wiraraja ini sangat populer di Sumenep dan Bali, namun jarang dikenal di Lumajang. bari pada tahun 2011 ketika ada pelestarian Situs Biting yang merupakan ibunkota Arya Wiraraja, nama ini mulai dikenal luas oleh masyarakat.

Kepopuleran Arya Wiraraja ini juga kemudian meyebabkan "Pro dan Kontra Latar Belakang Keagamaannya". Seperti diketahui secara umum dikatakan penganut Hiindu Syiwa, namun beberapa waktu belakangan ada yang memandang Arya Wiraraja sebagai seorang Muslim dan Lamajang Tigang Juru sebagai kerajaan Islam pertama di Jawa mendahului Demak Bintoro. Terkait "Pro dan Kontra Keagamaan Arya Wiraraja", sejarawan Malang Dwi Cahyono mengatakan bahwa merujuk pada keadaan sosiologi saat itu, maka kemungkinann agama Arya Wiraraja adalah Hindu Syiwa, Bhudda Mahayana dan Resi, sedangkan Islam belum dikenal.

Berkenaan dengan anggapan Arya Wiraraja adalah penganut Islam berdasarkan bukti makamnya di Situs Biting, Dwi Cahyono mengatakan bahwa yang mungkin Islam adalah "Menak Koncar" karena secara sosiologi nama-nama Menak mengacu pada masa Islam di awal perkembangan. Oleh karena itu hendaknya dipisahkan antara nama Arya Wiraraja yang hidup pada tahun 1232-1316 dengan Menak Konacar yang hidup pada sekitar tahun 1500-an karena merupakan sosok dan orang yang berbeda.

Sumber & Foto: (MAS MANSOER CHANNEL)

SEJARAWAN: MANSOER HIDAYAT

link: https://www.youtube.com/watch?v=dWZnfptFRU0

[RID/fiq]

KH Maimoen Zubair adalah putra pertama dari pasangan Kiai Zubair Dahlan dan Nyai Mahmudah. Lahir pada hari Kamis Legi bulan Sya'ban tahun 1347 H bertepatan tanggal 28 Oktober 1928 di Desa Karang Mangu Kecamatan Sarang, Jawa Tengah.   

Nyai Mahmudah, putri dari Kiai Ahmad bin Syu’aib, ulama kharismatik yang teguh memegang pendirian. Sedangkan Kiai Zubair merupakan murid kinasih Syeikh Sa’id Al-Yamani serta Syeikh Hasan Al-Yamani Al- Makky. Secara genealogi keilmuan, Mbah Zubair merupakan ulama yang cukup disegani. 

Kematangan ilmu KH Maimoen Zubair tidak ada satupun yang meragukan. Sebab, sejak balita ia sudah dibesarkan dengan ilmu-ilmu agama. Sebelum menginjak remaja, beliau diasuh langsung oleh ayahnya untuk menghafal dan memahami ilmu Sharaf, Nahwu, Fiqih, Manthiq, Balaghah, dan bermacam Ilmu Syara’ lainnya.   

Kecerdasan dan daya ingat Mbah Moen sangat luar biasa yang membawanya menuju pribadi yang dewasa. Bahkan sampai usia ke 91 tahun daya ingatnya masih segar.    Pada usia sekitar 17 tahun, Mbah Moen sudah hafal di luar kepala nadzam Al-Jurumiyyah, Imrithi, Alfiyah Ibnu Malik, Matan Jauharotut Tauhid, Sullamul Munauroq, serta Rohabiyyah fil Faroidl.  Seiring pula dengan kepiawaiannya membalah kitab-kitab fiqih madzhab Asy-Syafi’i, semisal Fathul Qarib, Fathul Mu’in, Fathul Wahhab, dan beberapa kitab jenis lainnya.

Pada tahun kemerdekaan, Mbah Moen memulai pengembaraannya guna ngangsu kaweruh ke Pondok Lirboyo Kediri, di bawah bimbingan KH Abdul Karim atau terkenal dengan sebutan Mbah Manaf.    Selain kepada Mbah Manaf, Kiai Maimoen juga menimba ilmu agama dari KH Mahrus Ali dan KH Marzuqi. Di Lirboyo, Mbah Moen nyantri selama kurang lebih lima tahun. Waktu yang melelahkan bagi orang kebanyakan, tapi tentu masih belum cukup untuk menenggak habis ilmu pengetahuan.

Tanpa kenal batas, Mbah Moen tetap menceburkan dirinya dalam samudra ilmu-ilmu agama. Sampai pada akhirnya, saat menginjak usia 21 tahun, beliau menuruti panggilan jiwanya untuk mengembara ke Makkah Al-Mukarromah.    Perjalanan ini diiringi oleh kakeknya sendiri, yakni KH Ahmad bin Syu’aib. Tidak hanya satu, semua mata air ilmu agama dihampirinya. Beliau menerima ilmu dari sekian banyak orang ternama di bidangnya, antara lain: - Sayyid Alawi bin Abbas Al Maliki.

- Syekh Al-Imam Hasan Al-Masysyath - Sayyid Amin Al-Quthbi - Syekh Yasin bin Isa Al- Fadani - Syekh Abdul Qodir Almandily   Setelah dua tahun lebih dirinya menetap di Makkah Al- Mukarromah, kemudian kembali ke tanah air dan masih melanjutkan semangatnya untuk ngangsu kaweruh yang tak pernah surut. Walau sudah dari Arab, Mbah Moen masih meluangkan waktu untuk memperkaya pengetahuannya dengan belajar kepada Ulama-ulama besar tanah Jawa yang ada kala itu.  

Mbah Moen menikah pada usia 25 tahun, setelah menikah sosok yang dikenal sangat sederhana itu menjadi Kepala Pasar Sarang selama 10 tahun.  Mbah Moen  adalah insan yang lahir dari gesekan permata dan intan.    Dari ayahnya, Kiai Maimoen meneladani ketegasan dan keteguhan, sementara dari kakeknya meneladani rasa kasih sayang dan kedermawanan. Kasih sayang terkadang merontokkan ketegasan, rendah hati seringkali berseberangan dengan ketegasan. 

Namun dalam pribadi Mbah Moen, semua itu selaras dan seimbang. Kerasnya kehidupan pesisir Kecamatan Sarang, Rembang tidak membuat sikap Mbah Moen ikut mengeras. Justru Mbah Moen menunjukkan sikap sebaliknya.   

Kepada yang lebih muda Mbah Moen menunjukkan sikap yang sopan. Beliau adalah gambaran sempurna dari pribadi yang santun dan matang. Semua itu bukanlah kebetulan, sebab sejak dini beliau yang hidup dalam tradisi pesantren diasuh langsung oleh ayah dan kakeknya sendiri.  Kiai Maimoen muda membuktikan bahwa ilmu tidak harus menyulap pemiliknya menjadi tinggi hati ataupun ekslusif dibanding yang lainnya. 

Pada tahun 1965 Mbah Moen mengabdikan diri untuk berkhidmat pada ilmu-ilmu agama.   Hal itu diiringi dengan berdirinya Pesantren yang berada di sisi kediamannya. Pesantren yang sekarang dikenal dengan nama Al-Anwar. Satu dari sekian pesantren yang ada di Sarang.

Keharuman nama dan kebesaran beliau sudah tidak bisa dibatasi lagi dengan peta geografis.    Banyak sudah ulama-ulama dan santri yang berhasil karena  ikut nyantri dalam pesantren yang kerap dikunjungi para pejabat di negeri ini.  

Mbah Moen dianugerahi 10 putra dari tiga kali pernikahannya. Almarhum menikah tiga kali karena istri pertama dan keduannya meninggal dunia.    Istri pertama bernama Ibu Nyai Hj Fahima Baidhowi, yang merupakan putri dari KH Baidhowil Lasem Rembang.

Dari pernikahannya, keduannya dikaruniai dua putra dan satu putri, masing-masing:   1. KH Abdullah Ubab (Gus Ubab) 2. KH Muhammad Najih (Gus Najih) 3. Ibu Nyai Hajah Shobihah (Neng Shobihah)   Dari istri kedua, yakni Ibu Nyai Hj Mastiah, Mbah Moen dikaruniai 6 putra dan satu putri, masing-masing:   1. KH Majid Kamil (Gus Kamil) 2. KH Abdul Goffur (Gus Ghofur)  3. KH Abdul Rouf (Gus Rouf)  4. KH Muhammad Wafi ( Gus Wafi ) 5. Ibu Nyai Hj Rodhiah (Neng Yah) 6. KH Taj Yasin (Gus Yasin) 7. KH Muhammad Idror (Gus Idror).

 Setelah istri pertama dan kedua wafat lebih dulu, Mbah Moen kembali menikah dengan istri ketiganya yaitu Ibu Nyai Hj Heni Maryam putri dari salah satu ulama dari Kabupaten Kudus. Dari pernikahan ini tidak dikaruniayai keturunan.  

Dalam hal agama, 10 penerus KH Maimoen Zubair sangat mumpuni. Bersama dengan mereka Mbah Moen mengembangkan pondok pesantren  Al Anwar 1, 2,3 dan 4. Pondok Pesantren 1 di asuh KH Maimoen Zubair sendiri sampai dengan sekarang. Pesantren ini berlokasi di Desa Karang Mangu, Kecamatan Sarang.   Sedangkan Pondok Pesantren Al Anwar 2, 3, dan 4 lokasinya berada di Dukuh Gondangrejo Desa Kalipang Kecamatang Sarang.

Lokasinya berjarak sekitar 5 KM dari Ponpes Al Anwar 1 (Induk).   Yang membedakan pesantren ke empatnya adalah : Al-Anwar 1 murni pendidikan salaf, diasuh oleh KH Maimoen Zubair.  Al-Anwar 2 ada pendidikan salaf dan formal, ada MI, MTs, yang dikelola KH Abdullah Ubab. Berdiri sekitar tahun 2003. Al-Anwar 3 khusus untuk Sekolah Tinggi STAI yang diasuh oleh KH Abdul Ghofur sebagai rektornya. Al-Anwar 4 itu untuk SMK Al-Anwar yang diasuh oleh KH Taj Yasin, Wakil Gubernur Jawa Tengah berdiri pada tahun 2016.

Di Pesantren Al-Anwar juga terdapat pendidikan Ma'had Aly. Semacam program pendidikan khusus salaf yang disetarakan S1. Program tersebut berjalan sejak tahun 2005 sampai dengan sekarang.   Saat ini ada sekitar 10 ribu santriwan-santriwati yang masih mondok di empat Pondok Pesantren. Sepeninggal Mbah Moen para santri diasuh oleh putra-putra Mbah Moen, sedangkan santri putri diasuh oleh Ibu Nyai Hj Heni Maryam, dan dibantu menantu-menantunya.  

Kedelapan putra Mbah Moen semuanya diminta menetap di Sarang Rembang, untuk meneruskan mengelola pondok yang terus mengalami kemajuan. Kecuali kedua putrinya. Ibu Nyai Hj Shobihah (Neng Shobihah) di Cirebon menikah dengan KH Musthofa Aqil Siroj adik dari Ketua Umum Tanfidziyah PBNU KH Said Aqil Siroj, sedangkan Neng Diyah menjadi istri dari KH Zairul Anam (Gus Anam) Banyumas, Jawa Tengah.   

Perjalanan hidup Mbah Moen ini disarikan dari cerita KH Zainul Umam (Gus Umam). Gus Umam termasuk orang dekat keluarga KH Maimoen Zubair. Dia juga pernah mondok selama 9 tahun di Ponpes Al-Anwar dan menjadi santri Mbah Moen sejak tahun 1997 – 2006.    Gus Umam adalah orang yang sering mendampingi Mbah Moen ketika bepergian.

Terakhir ia mendampingi Mbah Moen ke Bandara Soekarno Hatta saat pergi ke tanah suci untuk berhaji sebelum wafat.  TAGS: rembang mbah moen perjalanan hidup

Sumber & Foto: www.nu.or.id

[RID/fiq]

Kurun tahun 1950-an, di area Kelurahan Kebonsari, Kecamatan Sukun, Kota Malang – yang terkenal disebut area Kacuk – tersebutlah sosok kharismatik KH. Muhammad Syifa’. Penduduk sekitar mengakui kepakaran ilmu keislaman dan wibawanya, belajar mengaji kepada beliau.  

Kiai Muhammad Syifa’ adalah adik kandung Kiai Abdul Mu’thi dari daerah Kasin, Kota Malang. Disebutkan bahwa selain berguru ke ulama di sekitar Malang Raya, ia pernah belajar di Pondok Panji Buduran Sidoarjo, dan memiliki perkawanan akrab dengan salah satunya Kiai Mohammad Said dari desa Ketapang, Kepanjen, Kabupaten Malang. Bahkan keduanya saling berwasiat, agar siapapun dari keduanya yang wafat duluan, hendaknya merawat dan menjaga keluarga yang ditinggal terlebih dahulu.

Pada awalnya jamaah Mbah Syifa’ ini mengaji berangkat dari rumah dan lama-kelamaan ada yang mulai bermukim, karena makin banyak diikuti masyarakat. Pengajian mulanya tersebut diadakan di mushala kecil di lingkungan rumahnya.   Mbah Syifa’ pada usia yang cukup tua, yaitu 40 tahun, menikah dengan Nyai Rohmah Noor yang merupakan adik dari KH. Umar Maksum, kawan lain Mbah Syifa’ di Pondok Panji Buduran Sidoarjo. Pada 22 Desember 1954, beliau wafat meninggalkan dua anak: Kholifatuz Zahro, dan seorang anak yang masih dalam kandungan Nyai Rohmah – kelak dinamai Muhammad Kamal Fauzi.   Nyai Rohmah Noor dan keluarga melanjutkan Majelis binaan Mbah Syifa’ ini. Santri-santri tetap berdatangan, dan pada tahun 1967 Nyai Rohmah berkeinginan mendirikan pondok pesantren untuk menampung santri-santri yang datang dari daerah jauh.

Pondok tersebut diberi nama Nurul Ulum. Pada masa awal, santri mengaji dan kadang tinggal di mushala. Lalu dibangun lokal sederhana, yang dindingnya masih terbuat dari gedhek (bambu). Sistem pengajaran awalnya juga bermula dari sorogan dan bandongan, dan tahun 1977-an mulai digunakan sistem klasikal berupa Madrasah Diniyah.   Nyai Rohmah Noor sangat berjerih payah membangun pesantren, dan rela hidup sederhana untuk pengembangan pondok. Menurut keterangan Gus Fauzi, salah satu anak beliau, dalam berbagai kesempatan manaqib, Jika ada pakaian atau perhiasan yang layak jual, maka akan dijual untuk dibelikan pasir dan material bangunan lainnya yang diperlukan.   Istiqamah dalam shalat jamaah, qiyamul lail, serta keteguhan memegang ajaran agama selalu ditekankan ke keluarga serta santri untuk diamalkan. Oleh santri-santri yang masih dididik langsung oleh beliau, sosok Nyai Rohmah sangat tegas dan disegani sebagai salah satu tokoh agama perempuan di Malang. Ia memperlakukan anaknya dan santri-santri sama belaka soal pendidikan agama.

“Anak kandung karo anak santri ora ono bedane, anggone aku ndungakno lan nasehati mernahno. Bedane mung mbatali kanggo santri lanang.” (Anak kandung dan santri tidak ada bedanya, dalam hal upayaku mendoakan dan menasehati juga mendidik. Bedanya bagiku hanya membatalkan wudlu untuk santri putra).   Seiring waktu, fisik bangunan lembaga pesantren berkembang pesat. Bangunan pondok yang dulunya hanya berbentuk bambu sudah berubah menjadi bangunan bertembok. Area diperluas ke sekitar yang notabene sebelumnya adalah kebun yang banyak tumbuh buah salak.

Pendidikan juga dikembangkan ke arah lembaga formal, yaitu mendirikan Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah di lingkungan pesantren. Pondok yang mulanya dibangun di atas tanah pribadi, selanjutnya pada kurun awal 1990-an berstatus wakaf agar dimanfaatkan seluas mungkin demi kepentingan umat.

Nyai Rohmah Noor wafat hari Rabu 21 September 1994/15 Robiul Akhir 1415 H. Pasca mangkatnya beliau, pendidikan dan pengembangan pesantren dilanjutkan oleh anak dan menantu – salah satu menantu adalah KH. Ahmad Suyuthi Dahlan atau Gus Mad, yang dikenal di Malang sebagai “kiainya para preman” lewat pembinaan Majelis Gubuk Bambu - juga kini, para cucunya.   Demikianlah perjuangan salah satu ulama perempuan di kota Malang. Kini Pondok Kacuk – demikian orang Malang kebanyakan mengenal pesantren Nurul Ulum – adalah salah satu pusat pendidikan agama yang dianut masyarakat khususnya di daerah Malang Raya.

Sumber & Foto: www.nu.or.id

Penulis: (Muhammad Iqbal Syauqi)

[RID/fiq]

Tokoh wali ini lebih dikenal dengan nama Abah Anom. Dalam bahasa Sunda, Abah Anom berarti "Kiai Muda". Nama aslinya ialah KH Ahmad Sohibul Wafa Tajul Arifin. Ia lahir pada 1 Januari 1915 di Kampung Suryalaya, Tasikmalaya, Jawa Barat.

Ia adalah putra dari Syekh Abdullah Mubarok bin Nur Muhammad (Abah Sepuh), pendiri Pesantren Suryalaya, dan ibu yang bernama Hajjah Juhriyah. Abah Anom mengawali pendidikan dari ayahnya sendiri, Abah Sepuh yang mengajarinya dasar-dasar ilmu agama.

Pendidikan formalnya ditempuh saat ia berusia delapan tahun dengan bersekolah di Sekolah Dasar di Ciamis. Lalu, ia melanjutkan pendidikannya dengan masuk sekolah tingkat menengah di Ciawi, Tasikmalaya.

Sejak tahun 1930, ia nyantri ke beberapa pesantren di Jawa Barat, karena orang tuanya berkeinginan agar Abah Anom kelak dapat menggantikan posisi ayahnya sebagai pengasuh Pesantren Suryalaya. Semula Abah Anom nyantri di sebuah pesantren di Cicariang, Cianjur. Kemudian, pindah ke Pesantren Jambudwipa Cianjur selama lebih dari dua tahun.

Ia lalu pindah ke Pesantren Gentur Cianjur yang saat itu diasuh oleh Ajengan Syatibi. Dua tahun kemudian, tepatnya sejak tahun 1935 sampai 1937, ia melanjutkan pendidikan di Pesantren Cireungas, Cimelati, Sukabumi yang saat itu diasuh oleh Ajengan Aceng Mumu, seorang ahli hikmah dan ilmu silat.

Di pesantren terakhir inilah, ia mulai mematangkan keilmuannya, tidak hanya di bidang keilmuan Islam, tetapi juga dalam ilmu bela diri dan lain-lain. Berbekal keilmuannya, Abah Anom memberanikan diri menikahi gadis bernama Euis Siti Ruyanah pada usia 23 tahun.

Tak lama kemudian, tepatnya pada tahun 1938, ia berangkat ke tanah suci Makkah untuk menunaikan ibadah haji sekaligus menuntut ilmu. Kala bermukim di Makkah selama kurang lebih tujuh bulan, ia sangat rajin mengikuti pertemuan bandungan di Masjidil Haram yang disampaikan guru-guru yang berasal dari Makkah dan Mesir.

Ia juga aktif mengunjungi Ribat Naqsabandi di Jabal Gubaisy, untuk muzakarah (ngaji) kitab tasawuf karya Syekh Abdul Qadir al-Jailani, yakni kitab _Sirr al-Asrar dan Ghaniyyat at-Talibin, kepada Syekh Romli, seorang ulama dari Garut. Sepulang dari Makkah, Abah Anom ikut serta memimpin Pesantren Suryalaya mendampingi ayahnya. Namun, karena tahun 1939 sampai 1945 merupakan masa-masa menjelang kemerdekaan, ia lebih aktif sebagai pejuang yang turut menjaga keamanan dan ketertiban NKRI.

Ketika terjadi gerakan Darul Islam (DI/TII) di Jawa Barat, ia memutuskan segera bergabung dengan TNI untuk melawan gerakan tersebut. Dengan demikian, pada masa akhir sampai awal kemerdekaan, ia sangat berkontribusi dalam menjaga kedaulatan NKRI, baik dari penjajahan bangsa asing maupun dari gerakan makar saudara sebangsa sendiri.

Abah Anom memimpin Pesantren Suryalaya secara penuh ketika ayahnya, Abah Sepuh wafat pada tahun 1956. Ketika itu, DI/TII terus bergerak aktif melakukan perlawanan menentang pemerintahan Indonesia di bawah Presiden Sukarno. Tidak kurang dari tiga puluh delapan kali Pesantren Suryalaya mendapat teror dari DI/TII, terhitung sejak tahun 1950 sampai 1960. Untuk menghadapi teror dan serangan DI/TII, Abah Anom selaku pemimpin Pesantren Suryalaya selalu menginstruksikan kepada para santri dan pengikutnya untuk memberikan perlawanan secara gigih.

Atas kontribusinya tersebut, ia memperoleh penghargaan dari pemerintah RI. Abah Anom adalah seorang kiai yang dikenal memiliki karamah berupa kesaktian. Konon, ada banyak kisah yang tersebar mengenai karamah Abah Anom, seperti yang dituliskan di buku-buku latar belakang dan perkembangan Pesantren Suryalaya.

Di antaranya, kisah seorang kapten sakti yang ingin menjajal ilmu kesaktian Abah Anom berikut. Alkisah, pada suatu hari, seorang kapten yang sakti dan beberapa anak buahnya datang berkunjung ke Pesantren Suryalaya. Kapten itu membawa sebuah batu kali sebesar kepalan tangan di kantongnya. Batu itu lantas dikeluarkan dan diletakkan di tangannya. Dengan sekali pukul, sang kapten berhasil membelah batu tersebut menjadi dua.

Setelah unjuk kebolehan, kapten itu dengan sombong menyerahkan batu kalinya pada Abah Anom agar si tuan rumah mempertontonkan kemampuannya. Abah Anom hanya tersenyum seraya menerima batu kali dari tangan si kapten. Batu kali itu segera diremasnya. Secara ajaib, batu kali berubah bentuk menjadi tepung yang halus. Si kapten terbelalak, seolah tidak percaya dengan kesaktian yang dipertontonkan oleh Abah Anom.

Bila si kapten hanya mampu membelah batu kali menjadi dua, Abah Anon justru membuatnya menjadi seperti tepung. Beberapa saat kemudian, Abah Anom meminta segelas air yang di dalamnya terdapat seekor ikan kepada salah seorang santrinya.

Gelas air berisi ikan itu kemudian diberikan kepada si kapten. Dengan sikap yang masih sombong, si kapten segera bergaya seperti orang yang memancing. Dengan gayanya itu, ia berhasil membuat ikan di dalam gelas seakan benar-benar terpancing. Si kapten pun kembali menyombongkan kemampuannya di hadapan Abah Anom.

Giliran Abah Anom yang unjuk kebolehan. Ia kemudian memberikan isyarat jari telunjuk, tiba-tiba ikan dalam gelas itu berpindah ke hadapannya. Ikan itu seolah terkait dengan pancingan telunjuknya. Tidak sampai di situ, Abah Anom kembali memperlihatkan kesaktiannya yang lain.

Ia memberikan isyarat tangan yang seolah-olah memegang ketapel. Ia lalu mengarahkan tangannya ke langit untuk membidik sesuatu. Dengan sekali bidik, seekor burung tiba-tiba jatuh di hadapannya. Melihat kesaktian Abah Anom tersebut, si kapten hanya bisa takjub.Ia seolah tidak percaya dengan peristiwa yang baru saja terjadi.

Si kapten yang sakti nan sombong itu kemudian bersujud di hadapan Abah Anom, seraya meletakkan lututnya pada lutut Abah Anom. Ia mengaku kalah dan segera meminta maaf akan kesombongannya. Selain itu, ia juga minta ditalqinkan untuk menganut dan mengamalkan tarekat yang dipimpin oleh Abah Anom.

Sejak itulah, ia menjadi pengikut ajaran Abah Anom. Abah Anom wafat pada 5 September 2011. Ia dikenal sebagai wali yang istimewa. Keistimewaannya tentu tidak sekadar karena karamahnya, tetapi lebih-lebih karena ia adalah seorang ulama yang ahli ibadah, dzikir, dan ilmu. Dengan kapasitasnya ini pantas bila ia begitu disegani oleh kalangan ulama di tanah air.

Penulis adalah santri Kutub & Editor di Yogyakarta

Sumber& Foto: https://www.nu.or.id/post/read/109100/abah-anom--wali-sakti-dari-tanah-sunda

[RID/fiq]

 

 

Rindu dengan gaya pemikiran Gus Dur memahami jalannya politik bernegara, politik menjaga setiap jengkal wilayah Indonesia, serta gaya pemikiran santai bernegara bersama rakyatnya. Tidak ada perbedaan besar dari statusnya sebagai Presiden RI untuk bergaul bersama masyarakat luas.

Presiden Indonesia Ke-4, Abdurrahman Wahid, 20 Oktober 1999 - 23 Juli 2001, Ulama dan Negarawan.
Bercanda ala Gus Dur merupakan kecerdasan tingkat tinggi, penuh pemikiran terbaru serta senyuman, tak jarang menimbulkan gelak tawa, bahkan bisa menjadi suatu ide kreatif bagi masyarakat yang mencerna dengan baik canda-canda Gus Dur tersebut. Para pesohor antar dunia mengetahui sosok Gus Dur, dengan ciri spesialnya serta gagasan-gagasan kreatifnya untuk negeri.

Apa yang terjadi ketika Gus Dur melihat sebuah fenomena politik yang terjadi saat ini ?

Pada kesempatan lalu, saya melihat wawancara Gus Dur di acara televisi swasta, disana terlihat Gus Dur mempertanyakan kembali bagi seluruh rakyat Indonesia untuk melihat suatu kebenaran dengan berani bertindak, bukan menjadi rakyat bangsa yang takut akan ketidakbenaran. Jaman kepemimpinan Gus Dur dari 1999-2001, merupakan masa-masa dimana seluruh bangsa menempatkan dirinya sebagai integritas seluruh rakyat Indonesia beragam serta satu tujuan.

Dengan kecerdasan seorang Presiden, beliau Gus Dur melihat kondisi bangsa dengan baik, memberikan sentuhan keseimbangan, keselarasan serta keserasian bagi seluruh warga negaranya. Karena Gus Dur merupakan sosok besar yang mengajak semua persoalan kembali kepada UUD 1945, bahwa hal tersebut merupakan proses berpikir universal, sebagai penjaga Pancasila selama 7 abad lalu. Masih terasa dengan kebebasan yang diberikan oleh jaman Presiden Gus Dur, setelah usai kepemimpinan Presiden Soeharto selama 32 tahun lamanya.

Keadaan sosial 1999 dengan tahun 2018 tentunya sangat jauh berbeda, tapi tetap saja bumi berputar pada porosnya, serta planet-planet masih pada orbitnya. Mungkin kebebasan pendapat banyak menimbulkan perubahan serta pergeseran norma-norma etika dalam pelaksanaan serta penyampaiannya. Dahulu dengan masa transisi dan trasformasi demokrasi, terlihat kebebasan pada tahapan meraba kebebasan.

Sekarang dengan masa reformasinya, menikmati kebebasan seluas-luasnya tetapi mengeluarkan kebebasan cenderung memberikan hal-hal negatif. Jadi ada kesan bahwa kebebasan dengan segala bentuk euphoria, kita bisa melakukan segalanya tanpa terikat pada hukum, rambu-rambu, serta peraturan kepatuhan.

Dengan alasan kebebasan berpendapat dan kritik ?.

Lalu bagaimana apabila kebebasan itu menjadi anarkis ?.

Pada jaman Gus Dur, sebagai Presiden Republik Indoensia yang sah serta berdaulat, terdapat hukum, aparat hukum, dewan-dewan kebijakan, pembuat peraturan serta unit-unit kepatuhan yang dihasilkan dari masa-masa kepemimpinan sebelumnya.
Apakah itu bersifat adil atau tidak terhadap anda, mungkin anda bisa menjawabnya secara pribadi ?.
Apakah dijaman era pemerintahan sebelum Gus Dur, anda dapat menikmati kebebasan tersebut ?.

Penegasan yang diberikan oleh pemerintahan Gus Dur adalah tetap memberikan kebebasan tersebut tetapi tidak bisa memberikan legitimasi atau pembenaran untuk bertindak semau-maunya, semuanya ada asas kemanusian serta merujuk kepada peraturan yang berlaku.

Menurut Logemann, kebebasan dalam keterikatan,. “Tidak ada kebebasan yang sebebas-bebasnya dan absolute, yang membuat orang bertindak semau – maunya serta mencapai tujuan sesuka hatinya.  Dalam kebebasan untuk bertindak itu, ada keterikatan antara lain dengan norma-norma sosial dan hukum”.

Lalu bagaimana solusi terbaik Gus Dur melewati tahun-tahun pemerintahannya dengan ekspresi kebebasan tersebut ?
Dengan gaya pemikiran seorang negarawan, lalu mendengarkan aspirasi dari seluruh rakyat Indonesia dan tentunya mendengarkan pendapat-pendapat ulama-lama serta para sesepuh tokoh agama. Dalam ketegasannya sebagai orang no satu di Republik Indonesia, Gus Dur mempunyai solusi cerdas untuk melakukan tindak kenegarawannya, ia selalu bertindak dengan kuat dan berpedoman kepada ketentuan konstitusi UUD’45.

Masih banyak lagi cerita-cerita serta kenangan Presiden Abdurahman Wahid memimpin NKRI, dengan penuh kewibawaan, kecerdasaan, toleransi beragama, kesederhanaan, keselarasan dan keserasian.
Apabila anda mempunya kenangan bersama presiden Gus Dur, anda dapat memberikan komentar di kolom yang telah disediakan.

Terimakasih telah membaca dan semoga menyenangkan.
Melawan lupa, sejarah akan berbicara seutuh-utuhnya, diperlukan warga masyarakat yang berani berbicara tentang kebenaran bagi bangsanya sendiri. [fiq/rid]

© PT. Aliansi Rakyat Multimedia Indonesia 2021
magnifiercrossmenuchevron-down