Bahasa IndonesiaEnglish

WEBSITE RAKYAT.ID MASIH DALAM PENGEMBANGAN


Galen, pahlawan dokter di mana2, mulai dengan mengobati luka2 gladiator dan akhirnya menjadi dokter Kaisar Marcus Aurelius.


Ia lebih percaya pengalaman, tidak percaya spekulasi:“saya lebih memilih jalan panjang yang sulit daripada jalan pintas yang mudah.”


Setelah bertahun2 menangani orang sakit, ia menyimpulkan bahwa kebiasaan adalah hasil latihan, sedang sehat dan sakit terkait cara hidup.

Ia menasihati pasiennya yang sakit untuk mengubah kebiasaannya. 


Ia menemukan atau menguraikan ratusan penderitaan dan pengobatannya, dan dari melakukan tes dengan berbagai cara penyembuhan ia menyimpulkan:“tertawa adalah obat terbaik.”

Sumber Buku: Mirror

Pengarang: Eduardo Galeano

Penerjemah: wardah hafidz

Foto: Galen.org

[RID/fiq]


Dayang-dayangnya memandikannya dengan susu keledai dicampur madu.


Setelah mambalurinya dengan sari bunga melati, lily, dan kamperfuli, mereka membaringkan tubuhnya di atas bantal sutra berisi bulu angsa. 


Di bulu matanya yang tertutup ditaruh selapis tipis aloevera.

Di wajah dan lehernya, campuran empedu sapi, telur burung onta, dan lilin lebah. 


Ketika ia terbangun dari tidur siangnya, bulan telah tinggi di langit. 


Dayang2 memenuhi tangannya dengan sari mawar dan membalur-wangi kakinya dengan eliksir almond dan bunga jeruk. cuping hidungnya menghirup harum jeruk nipis dan kayu manis, sementara kurma dari padang pasir mempermanis rambutnya, yang berkilau oleh minyak kenari.


Saat mengenakan makeup pun dimulai. bubuk kumbang memerahkan pipi dan bibirnya. antimon menggaris alisnya.

Lapis lazuli dan malakit melukiskan selubung bayang biru kehijaun di seputar matanya.


Di istananya di Alexandria, Cleopatra memulai malam terakhirnya.


Firaun terakhir, yang tidak secantik anggapan orang, ratu yang lebih mumpuni dibanding anggapan orang,yang menguasai beberapa bahasa dan paham ekonomi dan berbagai keahlian laki2 sehingga mencengangkan Roma,yang berperang melawan Roma,yang berbagi tempat tidur dan kuasa dengan Julius Caesar dan Mark Anthony,sekarang, mengenakan pakaian paling tidak lazim dan pelan-pelan duduk di singgasananya, sementara tentara Roma merangsek menyerang.

Julius Caesar sudah mati, Mark Anthony sudah mati.

Pertahanan Mesir runtuh.

Cleopatra memerintahkan keranjang jerami dibuka.

Suara berderik menggema.

Ular itu merayap.


Dan ratu sungai Nil itu membuka tuniknya, memberikan kepada ular buah dadanya yang telanjang berkilau berlapis bubuk emas.

Sumber Buku: Mirrors

Pengarang: Eduardo Galeano

Penerjemah: wardah hafidz
Foto: heritagedaily

[RID/fiq]


Ia gembala di Thrace, serdadu di Roma, gladiator di Capua.


Ia budak yang melarikan diri dengan bersenjatakan pisau dapur.

Di kaki bukit Vesuvius ia membentuk pasukan budak pelarian yang dalam pengembaraan menjadi semakin kuat, dan akhirnya menjadi pasukan tentara. 


Di satu pagi, tujuhpuluh dua tahun sebelum masehi, Roma gemetar. warga Roma melihat orang2 Spartacus menatap mereka. saat fajar, tombak meremang di puncak2 perbukitan. dari sana, para budak mengincar kuil2 dan istana para ratu, penguasa dan pengatur dunia: begitu dekat, terjamah oleh mata mereka, tempat yang telah mengoyak nama dan memori mereka, dan mengubah mereka menjadi benda untuk dicambuk, diperjualbelikan, atau dihadiahkan.


Tidak pernah terjadi serangan. tidak pernah ditahu apakah Spartacus dan pasukannya telah sebegitu dekat, atau mereka sesungguhnya hanya momok yang diciptakan oleh rasa takut. karena ketika itu, di medan2 pertempuran para budak telah banyak mempermalukan pasukan penguasa. 


Perang gerilya membuat imperium tegang selama dua tahun. 
kemudian para pemberontak, dikepung di pegunungan Lucania, akhirnya dilibas oleh serdadu yang direkrut Roma di bawah pimpinan seorang perwira muda bernama Julius Caesar.


Ketika Spartacus tahu bahwa ia kalah, ia merapatkan tubuh ke kudanya, kepala rapat dengan kepala, keningnya menekan gombak pendampingnya di setiap pertempuran itu. ia tusukkan belati panjangnya dan disayatnya jantung kuda itu.


Hukuman penyaliban berlangsung di seluruh Via Appia dari mulai Capua sampai Roma.


Sumber Buku: Mirrors

Pengarang: Eduardo Galeano

Penerjemah: wardah hafidz

Sumber Foto: wikipedia

[RID/fiq]


Pada masa Pericles, Aspasia adalah perempuan paling terkenal di seluruh Athena.


Atau bisa juga dibilang sebaliknya: pada masa Aspasia, Pericles adalah lelaki paling terkenal di Athena.


Musuh-musuh Aspasia membencinya karena ia perempuan dan orang asing. mereka juga menimpakan kepadanya tuduhan tentang masa lalunya yang tak patut diceritakan dan bahwa sekolah retorika yang dikelolanya adalah sarang anak2 gadis gampangan.


Mereka menuduhnya mencemooh para dewa, penghinaan yang harus dibayar dengan nyawa. di depan pengadilan seribu limaratus laki2, Pericles maju sebagai pembela. Aspasia dibebaskan, walaupun dalam tiga jam pidato pembelaannya Pericles lupa mengatakan bahwa alih-alih mencemooh para dewa, Aspasia sesungguhnya percaya bahwa para dewa yang mencemooh kita dan merusak kegembiraan manusiawi yang pendek.


Ketika itu Pericles telah membuang istrinya dari tempat tidur dan rumahnya, dan tinggal bersama Aspasia. ia mendapatkan satu anak lelaki darinya, dan untuk mempertahankan hak anak tersebut ia melanggar hukum yang dibuatnya sendiri.


Socrates menghentikan pengajarannya untuk mendengarkan Aspasia, dan Anaxagoras mengutip pandangan2nya.


Plutarch tertanya-tanya: “kekuatan licik apa yang dipunyai perempuan itu sehingga ia bisa menjadi inspirasi para filsuf dan punya pengaruh besar atas tokoh2 politik terkenal?.


Sumber Buku: Mirrors

Pengarang: Eduardo Galeano

Penterjemah: wardah hafidz

Foto: aneka cerita

[RID/fiq]

[ 87 ]
SENI MELUKIS DIRIMU
Di atas tempat tidur di dekat Teluk Korintus, seorang perempuan menatap dalam bayang cahaya api raut wajah kekasihnya yang sedang tidur.


Di dinding, bayangan itu berkeredip.


Sang kekasih, yang berbaring di sampingnya, akan pergi. saat fajar ia akan berangkat menuju perang, menuju kematian. dan bayangnya, kawan perjalanannya, akan pergi bersamanya dan bersamanya ia akan mati.


Saat itu hari masih gelap. perempuan itu mengambil sepotong arang dari bara api dan di dinding ia menggambar bayangan kekasihnya.


Gambar itu tak akan pergi.


Gambar itu tak akan memeluknya, ia tahu. tetapi ia tak akan pergi.


Sumber Buku: Mirrors

Pengarang: Eduardo Galeano

Penerjemah: wardah hafidz

[RID/fiq]

Demosthenes melecehkannya: “anak ini menginginkan altar. ya, sebegitulah yang akan kita berikan kepadanya.”


Anak itu adalah Alexander Agung. ia mengklaim keturunan Heracles and Achilles. ia menyebut dirinya “dewa tak terkalahkan.” ketika itu ia telah terluka delapan kali dan masih sedang lanjut menaklukkan dunia. 


Ia mulai dengan menobatkan dirinya raja Makedonia, setelah membunuh semua sanak keluarganya. begitu besar keinginannya menjadi maharaja, ia menghabiskan tahun2 dalam hidupnya yang pendek berperang tanpa henti.


Kuda hitamnya lebih cepat dari angin. ia selalu menyerang lebih dulu, dengan pedang terhunus di tangan, jambul bulu putih di kepala, seolah setiap pertempuran adalah urusan pribadi:
“saya tidak akan mencuri kemenangan,” ujarnya.


Alangkah selalu ia mengingat ajaran Aristoteles, gurunya:“umat manusia terbagi menjadi yang terlahir berkuasa dan yang terlahir dikuasai.” 
dengan tangan besi, ia memadamkan pemberontakan dan menyalib atau merajam mereka yang melawan, tetapi ia juga penakluk yang tidak lazim yang bahkan senang mempelajari adat istiadat taklukannya.

Maharaja itu menyerbu daratan dan lautan dari Balkan sampai India lewat Persia dan Mesir dan wilayah di antara keduanya, dan di manapun berada ia selalu menebar perkawinan.

Idenya yang cerdas menikahkan serdadu2 Yunani dengan perempuan2 setempat menjadi berita tidak menyenangkan bagi Athena, yang sangat keras menolak, tetapi langkah itu mengokohkan wibawa Alexander dan kekuasaannya di seantero peta baru dunia yang diciptakannya.


Hephaestion selalu bersamanya dalam peperangan dan pengembaraannya. ia adalah tangan kanan di medan perang dan kekasih di malam2 kemenangannya. dengan ribuan kuda tak terkalahkan, tombak panjang, anak panah berapi, dan Hephaestian di sisinya, Alexander mendirikan tujuh kota, tujuh Alexandria, dan ia seakan tak terbendung.


Ketika Hephaestion meninggal, Alexander sendirian meminum anggur yang biasa ia minum berdua. saat fajar, sepenuhnya mabuk, ia memerintahkan pembuatan api unggun sangat besar, nyalanya membakar langit, dan ia melarang musik di seluruh wilyah imperiumnya.


Tidak lama kemudian, ia meninggal di usia tigapuluh tiga tahun, sebelum berhasil menyelesaikan penaklukan atas seluruh kerajaan di dunia. 

Sumber Buku: Mirrors

Pengarang: Eduardo Galeano

Penerjemah: wardah hafidz

[RID/fiq]

[ 79 ]
Demosthenes melecehkannya: “anak ini menginginkan altar. ya, sebegitulah yang akan kita berikan kepadanya.”
anak itu adalah Alexander Agung. ia mengklaim keturunan Heracles and Achilles. ia menyebut dirinya “dewa tak terkalahkan.” ketika itu ia telah terluka delapan kali dan masih sedang lanjut menaklukkan dunia. 


Ia mulai dengan menobatkan dirinya raja Makedonia, setelah membunuh semua sanak keluarganya. begitu besar keinginannya menjadi maharaja, ia menghabiskan tahun2 dalam hidupnya yang pendek berperang tanpa henti.


Kuda hitamnya lebih cepat dari angin. ia selalu menyerang lebih dulu, dengan pedang terhunus di tangan, jambul bulu putih di kepala, seolah setiap pertempuran adalah urusan pribadi:


“Saya tidak akan mencuri kemenangan,” ujarnya.
alangkah selalu ia mengingat ajaran Aristoteles, gurunya:“umat manusia terbagi menjadi yang terlahir berkuasa dan yang terlahir dikuasai.” 


Dengan tangan besi, ia memadamkan pemberontakan dan menyalib atau merajam mereka yang melawan, tetapi ia juga penakluk yang tidak lazim yang bahkan senang mempelajari adat istiadat taklukannya. maharaja itu menyerbu daratan dan lautan dari Balkan sampai India lewat Persia dan Mesir dan wilayah di antara keduanya, dan di manapun berada ia selalu menebar perkawinan. idenya yang cerdas menikahkan serdadu2 Yunani dengan perempuan2 setempat menjadi berita tidak menyenangkan bagi Athena, yang sangat keras menolak, tetapi langkah itu mengokohkan wibawa Alexander dan kekuasaannya di seantero peta baru dunia yang diciptakannya.


Hephaestion selalu bersamanya dalam peperangan dan pengembaraannya. ia adalah tangan kanan di medan perang dan kekasih di malam2 kemenangannya. dengan ribuan kuda tak terkalahkan, tombak panjang, anak panah berapi, dan Hephaestian di sisinya, Alexander mendirikan tujuh kota, tujuh Alexandria, dan ia seakan tak terbendung.


Ketika Hephaestion meninggal, Alexander sendirian meminum anggur yang biasa ia minum berdua. saat fajar, sepenuhnya mabuk, ia memerintahkan pembuatan api unggun sangat besar, nyalanya membakar langit, dan ia melarang musik di seluruh wilyah imperiumnya.


Tidak lama kemudian, ia meninggal di usia tigapuluh tiga tahun, sebelum berhasil menyelesaikan penaklukan atas seluruh kerajaan di dunia. 

Sumber Buku: Mirrors

Pengarang: Eduardo Galeano

Penerjemah: wardah hafidz

Raja Sulaiman bernyanyi kepada yang paling perempuan dari para perempuannya. ia bernyanyi kepada tubuhnya dan kepada pintu masuk ke dalam tubuhnya dan kepada gairah peraduan berdua.


Kidung segala Kidung sama sekali tidak seperti kitab2 Injil Yerusalem lainnya. kenapa begitu?.


Menurut para rabbi, ia adalah alegori cinta Tuhan kepada Israel. menurut para pastur ia adalah sembah bakti gembira atas perkawinan Kristus dengan Gereja. tetapi pada hal tak satu baitpun darinya menyebut Tuhan, apalagi Kristus atau Gereja, yang baru ada lama setelah Kidung dinyanyikan.


Yang lebih mungkin nampaknya, kebersamaan raja Yahudi dan perempuan kulit hitam itu adalah sebuah perayaan gairah nafsu dan keragaman warna kulit kita.


“Ciummu di bibirku lebih menggairahkan dari anggur," nyanyi sang perempuan. 


Dan dalam versi yang sampai sekarang kita kenal, ia juga bernyanyi:"saya hitam, tetapi indah." 


Dan ia memberi penjelasan, kulitnya hitam karena ia bekerja di alam terbuka, di kebun anggur.


Namun versi lain menekankan bahwa "tetapi" itu sisipan. sesungguhnya ia bernyanyi:"saya hitam, dan indah."


Sumber Buku: Mirrors

Penulis: Eduardo Galeano

Penerjemah: wardah hafidz

[RID/fiq]


Ketika Iraq bernama Assyria, raja menyelenggarakan perjamuan istana di kota Nimrod, dengan dua puluh menu utama dan empat puluh menu pelengkap, disertai guyuran bir dan anggur yang melimpah.

Menurut catatan peristiwa dari 3,000 tahun lalu, tamunya berjumlah 69,574, semuanya laki-laki, tak seorangpun perempuan, termasuk dewa-dewa yang ikut makan dan minum.


Dari istana-istana yang lebih tua datang resep-resep pertama yang ditulis oleh para empu dapur.

juru masak sama  berkuasa dan berpengaruhnya seperti para imam, dan resep-resep mereka bertahan melewati krisis waktu dan perang. Resep mereka rinci ("adonan di panci harus mengembang sampai empat jari") atau justru tidak jelas ("awasi garam dengan teliti"), tetapi semua mengakhiri resepnya dengan: "siap disantap."


Tiga ribu lima ratus tahun lalu, Aluzinnu si badut istana, meninggalkan resep-resepnya untuk kita. di antaranya, resep yang menjanjikan santap malam yang lezat berikut:untuk hari terakhir sebelum bulan di akhir tahun, tak ada makanan yang lebih lezat dari babat perut keledai yang diisi dengan tahinya lalat."


Sumber Buku: Mirrors

Pengarang Buku: Eduardo Galeano

Penerjemah: wardah hafidz

[fiq/RID]

Pada tahun 1781 Túpac Amaru dikapak menjadi empat di tengah Plaza de Armas di Cuzco.


Dua abad kemudian, seorang turis bertanya kepada seorang anak penyemir sepatu tepat di tempat tersebut, apakah ia pernah bertemu Túpac Amaru.

Si kecil tukang semir, tanpa mengangkat muka, mengatakan ya, ia tahu Túpac Amaru. sambil melanjutkan pekerjaannya, ia menggumam pelan, praktis berahasia,

"Dialah sang angin."


Sumber Buku: Children of the Days

Pengarang: Eduardo Galeano

Penerjemah: wardah hafidz

[fiq/RID]

© PT. Aliansi Rakyat Multimedia Indonesia 2021
crossmenuchevron-down