Bahasa IndonesiaEnglish

WEBSITE RAKYAT.ID MASIH DALAM PENGEMBANGAN

Antonio Vivaldi, lelaki berambut merah terang menyala dan Ezra Pound, keduanya meninggalkan jejak yang dalam tak terhapuskan. dunia akan kurang indah dan kurang nyaman dihuni tanpa musik Vivaldi dan puisi Pound.
tetapi Vivaldi tak terdengar selama dua abad.
Pound membawanya kembali. suara2 yang telah dilupakan dunia menjadi pembuka dan penutup program radio penyair itu yang disiarkan dari Itali, tempat ia menyiarkan propaganda fasis dalam bahasa Inggris.
dengan programnya itu Mussolini mendapatkan sedikit, jika ada, simpatisan. tetapi Vivaldi, musisi Venesia itu, mendapatkan pemuja dari seluruh dunia.
ketika kekuatan fasis runtuh, Pound dipenjara. militer Amerika Serikat, negaranya, menguncinya dalam kurungan kawat berduri, di tempat terbuka, sehingga orang bisa melempar koin kepadanya atau meludahinya. setelah itu mereka mengirimnya ke rumah sakit jiwa.
Pengarang Buku: Eduardo Galeano
Sumber Buku : Mirrors
Penterjemah : wardah hafidz
Sumber Foto : britannica.com
[RID/fiq]
ketika ia masih seorang anak kecil telanjang kaki menendang2 bola yang terbuat dari perca kain di jalan tak bernama, ia menggosok lutut dan pergelangan kakinya dengan minyak kadal. demikian dikatakannya, dan dari sanalah keajaiban kakinya berasal.
José Leandro Andrade tidak banyak bicara. ia tidak merayakan gol2 yang diciptakannya, tidak juga cintanya. ia menari melewati hadangan musuh dengan bola melekat di kakinya, dan bergerak dengan gaya anggun yang sama dengan ketika ia menari tango dengan seorang perempuan melekat di badannya.
pada Olimpiade 1942, ia memukau Paris. penonton tergila2, media massa menjulukinya “Si Hitam Ajaib.” kemasyhuran mengundang perempuan. surat berdatangan bak hujan, tak satu pun bisa dibacanya. semua ditulis di atas kertas berparfum, dikirim oleh perempuan2 yang memamerkan kaki dan hembusan asap rokok dari pipa cangklong emas.
saat kembali ke Uruguay, ia membawa sebuah kimono sutra, sarung tangan abu2, dan sebuah jam tangan yang menghiasi pergelangan tangannya.
semua itu dengan cepat berlalu.
pada masa itu, sepakbola dimainkan dengan imbalan minuman anggur, makanan dan kegembiraan.
ia menjual koran di jalanan.
ia menjual medalinya.
ia bintang kulit hitam pertama di sepakbola dunia.
Pengarang Buku: Eduardo Galeano
Sumber Buku: Mirrors
Penterjemah : wardah hafidz
Sumber Foto: footballparadise.com
[RID/fiq]
ia satu, ia banyak, ia semuanya, ia bukan yang manapun.
Fernando Pessoa, birokrat muram, taat waktu, lajang penulis surat cinta yang tak pernah dikirim, memiliki rumah gila dalam dirinya.
tentang penghuninya, kita tahu nama2 mereka, tanggal dan jam masing2 mereka lahir, rasi bintang, berat dan tinggi badan mereka.
juga pekerjaan mereka, karena semua mereka penyair.
Alberto Caeiro, tak beragama, pengejek metafisika dan akrobat intelektual yang mereduksi hidup menjadi hanya konsep, menulis tentang sendawa.
Ricardo Reis, monarkis, Hellenist, anak budaya klasik, lahir berkali2 sehingga punya bermacam rasi bintang, menulis tentang konstruksi.
Álvaro de Campos, insinyur dari Glasgow, garda depan, yang belajar tentang energi dan takut kehilangan semangat hidup, menulis tentang sensasi.
Bernardo Soares, jagoan paradoks, penyair prosa, sarjana, bekerja keras sebagai asisten pustakawan, menulis tentang kontradiksi.
dan Antonio Mora, psikiater dan penderita gangguan jiwa, dirawat di Cascais, menulis tentang meditasi dan kegilaan.
Pessoa juga menulis. ketika yang lain sedang tidur.
Pengarang Buku : Eduardo Galeano
Sumber Buku : Mirrors
Penterjemah : wardah hafidz
Sumber Foto : lithub.com
[RID/fiq]
di usia sembilan tahun, ia bekerja membersihkan rumah2 di St. Louis di tepian sungai Mississippi.
di usia sepuluh, ia menjadi penari pengamen di jalanan.
di usia tigabelas, ia menikah.
di usia limabelas, ia menikah lagi. ia tidak menyimpan ingatan buruk tentang suami pertamanya. dari suami keduanya, ia mempertahankan nama belakangnya, karena suka dengan bunyinya.
di usia tujuhbelas, Josephine Baker menarikan dansa charleston di Broadway.
di usia delapanbelas, ia menyeberang Atlantik dan menaklukkan Paris. “Venus Hitam” itu menari telanjang, tanpa pakaian kecuali ikat pinggang dari buah pisang.
Perpaduan yang langka antara kemampuan melawak dan kemampuan membuat laki2 bertekuk lutut menjadikannya bintang pertunjukan paling dikagumi dan berbayaran tertinggi di seluruh Eropa.
di usia duapuluh empat, ia perempuan paling banyak difoto di planet bumi. Pablo Picasso, berlutut, melukisnya. agar bisa seperti dia, gadis2 berkulit putih pucat mengoleskan krim kenari agar kulitnya menjadi lebih gelap.
di usia tigapuluh, ia mengalami masalah di beberapa hotel karena ia bepergian membawa seekor simpanse, ular, kambing, dua burung beo, beberapa ikan, tiga kucing, tujuh anjing, seekor cheetah bernama Chiquita yang lehernya berkalung berlian, dan seekor babi kecil bernama Albert, yang dimandikannya dengan Je Reviens, parfum buatan Worth.
di usia empatpuluh, ia menerima anugerah Legiun Kehormatan atas jasanya dalam perlawanan Prancis selama pendudukan Nazi.
di usia empatpuluh satu ia bersama suami keempatnya,  mengangkat duapuluh anak berwarna kulit dan latar belakang beragam, yang dinamakannya “suku pelangi saya.”
di usia empatpuluh lima, ia kembali ke Amerika Serikat. di pertunjukkannya, ia mengharuskan setiap orang, putih dan hitam, duduk bersebelahan. kalau tidak, ia tidak akan melakukan pertunjukan.
di usia limapuluh tujuh, ia berdiri di panggung bersama Martin Luther King dan berpidato mengecam diskriminasi rasial di depan massa Pawai Akbar Washington.
di usia enampuluh delapan, setelah pulih dari kebangkrutan parah, di Teater Babino di Paris ia merayakan setengah abad berpentas di dunia ini.
lalu ia mangkat.
Pengarang Buku : Eduardo Galeano
Sumber Buku : Mirrors
Penterjemah : wardah hafidz
Sumber Foto : muckrock.com
esai sebelumnya : https://www.rakyat.id/esai/r-o-s-a-r-i-o/
Selamat membaca.
[RID/fiq]
Columbia Records menolak merekam lagu ini, dan pengarangnya harus menggunakan nama samaran.
tetapi ketika Billy Holiday menyanyikannya, Strange Fruit*, dinding sensor dan ketakutan runtuh. ia menyanyikannya dengan mata terpejam, dan lagu itu menjadi himne religius yang dinyanyikan oleh suara anggun yang terlahir untuk menyanyikannya. sejak itu, setiap kulit hitam yang digantung berubah menjadi lebih dari sekedar buah aneh yang tergantung berayun di pohon, membusuk di bawah sinar matahari.
Billie,
yang di usia empatbelas nyanyiannya membuat hening rumah bordil di Harlem yang bising, tempat ia menukar musik dengan makanan,
yang menyelipkan pisau lipat di stockingnya,
yang tak bisa melindungi diri dari hajaran kekasih2 dan suami2nya,
yang terkurung oleh narkoba dan penjara,
yang tubuhnya penuh bekas tusukan jarum dan luka,
yang selalu bernyanyi seperti belum pernah ada sebelumnya.
Pengarang Buku : Eduardo Galeano
Sumber Buku : Mirrors
Penterjemah : wardah hafidz
Sumber Video : Gerard Tondu
Judul : Billie Holiday Strange Fruit 1939
Sumber Video digunakan u/ kelengkapan data Billie Holiday. Tanpa mengurangi menghormati rasa hormat, kami menuliskan sumber & link terkait. Untuk pengetahuan. Terimakasih.
Foto : Lily
[RID/fiq]
Villarejo de Salvanés, musim panas: Rosario Sánchez Mora menuju garis depan.
ia sedang mengikuti pelajaran menjahit ketika beberapa milisi masuk mencari relawan. ia melempar jahitannya ke lantai dan melompat naik ke truk, umurnya baru tujuhbelas, membawa tas anyaman barunya dan tujuh kilo senapan seakan mengggendong bayi.
di medan pertempuran ia penyulut dinamit. di sebuah pertempuran, ia menghidupkan sumbu sebuah bom rumahan terbuat dari kaleng susu penuh berisi paku. bom meledak sebelum dilempar. ia kehilangan tangan tetapi tidak nyawanya, berkat pertolongan seorang kawan serdadu yang membebat tangannya dengan tali sandal.
setelah itu, Rosario masih ingin tetap bertahan di parit perlindungan, tapi tidak diperbolehkan. milisi Repulbik harus menjadi tentara, dan di tentara tidak ada tempat untuk perempuan. setelah berdebat panjang ia diijinkan menjadi pengantar surat ke parit perlindungan dengan pangkat sersan.
di akhir perang, tetangga di desa kelahirannya melaporkannya kepada pemerintah, dan ia pun dihukum mati.
sebelum fajar setiap hari, ia menunggu regu tembak datang.
waktu berjalan.
mereka tidak menembaknya.
beberapa tahun kemudian, setelah dibebaskan dari penjara, ia menjual rokok selundupan di Madrid, di sekitar
patung dewi Kibele.*
Pengarang : Eduardo Galeano
Sumber Buku : Mirrors
Penerjemah : wardah hafidz
Foto : alchetron.com
Baca sebelumnya : https://www.rakyat.id/esai/aspasia/
Baca sebelumnya : https://www.rakyat.id/esai/cleopatra/
Kibele (kɪbəliː/ atau [ˈsɪb.əl.i]; bahasa Frigia: Matar Kubileya/Kubeleya "Bunda Kubeleyan", kemungkinan "Bunda Gunung"; bahasa Yunani: Κυβέλη Kybele, Κυβήβη Kybebe, Κύβελις Kybelis), adalah Ibu Bumi dalam kepercayaan Frigia. Seperti juga Gaia dari Yunani dan Rea dari Minoa, Kibele merupakan perwujudan bumi yang subur. Kibele juga adalah dewi gua dan gunung, dinding dan benteng, alam, hewan liar (khsusunya singa dan lebah). Kibele dari Frigia sering kali diidentikkan dengan dewi Hebat dari bangsa Het-Huria, meskipun dewi ini mungkin merupakan asal mula dewi Anatolia, Kubaba. (Sumber : wikipedia)
[RID/fiq]
Perbatasan, musim dingin 1939: Republik Spanyol runtuh berantakan.
dari Barcelona, di tengah ledakan bom,  penyair Antonio Machado berhasil lari ke Prancis.
ia lebih tua dari usia sebenarnya.
ia batuk, berjalan dengan tongkat.
ia menatap laut.
di sepotong kertas ia menulis:
“matahari masa kecilku”
itulah tulisan terakhirnya.
Pengarang : Eduardo Galeano
Sumber buku: Mirrors
Penterjemah: wardah hafidz
Foto : [RID/fiq]


Dayang-dayangnya memandikannya dengan susu keledai dicampur madu.


Setelah mambalurinya dengan sari bunga melati, lily, dan kamperfuli, mereka membaringkan tubuhnya di atas bantal sutra berisi bulu angsa. 


Di bulu matanya yang tertutup ditaruh selapis tipis aloevera.

Di wajah dan lehernya, campuran empedu sapi, telur burung onta, dan lilin lebah. 


Ketika ia terbangun dari tidur siangnya, bulan telah tinggi di langit. 


Dayang2 memenuhi tangannya dengan sari mawar dan membalur-wangi kakinya dengan eliksir almond dan bunga jeruk. cuping hidungnya menghirup harum jeruk nipis dan kayu manis, sementara kurma dari padang pasir mempermanis rambutnya, yang berkilau oleh minyak kenari.


Saat mengenakan makeup pun dimulai. bubuk kumbang memerahkan pipi dan bibirnya. antimon menggaris alisnya.

Lapis lazuli dan malakit melukiskan selubung bayang biru kehijaun di seputar matanya.


Di istananya di Alexandria, Cleopatra memulai malam terakhirnya.


Firaun terakhir, yang tidak secantik anggapan orang, ratu yang lebih mumpuni dibanding anggapan orang,yang menguasai beberapa bahasa dan paham ekonomi dan berbagai keahlian laki2 sehingga mencengangkan Roma,yang berperang melawan Roma,yang berbagi tempat tidur dan kuasa dengan Julius Caesar dan Mark Anthony,sekarang, mengenakan pakaian paling tidak lazim dan pelan-pelan duduk di singgasananya, sementara tentara Roma merangsek menyerang.

Julius Caesar sudah mati, Mark Anthony sudah mati.

Pertahanan Mesir runtuh.

Cleopatra memerintahkan keranjang jerami dibuka.

Suara berderik menggema.

Ular itu merayap.


Dan ratu sungai Nil itu membuka tuniknya, memberikan kepada ular buah dadanya yang telanjang berkilau berlapis bubuk emas.

Sumber Buku: Mirrors

Pengarang: Eduardo Galeano

Penerjemah: wardah hafidz
Foto: heritagedaily

[RID/fiq]

Manusia yang secara alami bukan milik diri sendiri tapi milik orang lain adalah budak;

Dan meski ia manusia, ia harta milik, dan harta milik itu alat.

Budak itu alat bernyawa, yang sama dengan alat tidak bernyawa.

 
Dengan demikian, secara alami ada kelas yang memerintah dan kelas yang diperintah.

Orang merdeka memerintah budak, lelaki memerintah perempuan, orang dewasa memerintah anak-anak.


Seni perang mencakup perburuan; Seni yang harus kita kuasai untuk menghadapi binatang buas dan manusia yang menolak takdirnya sebagai yang dikuasai.

Dalam hal ini, adil jika mereka diperangi.


Pelayanan fisik sesuai kebutuhan hidup dipenuhi oleh keduanya, oleh budak dan oleh binatang piaraan.

Karenanya, secara alami tubuh orang merdeka dan budak berbeda. 

Sumber Buku: Mirrors

Pengarang: Eduardo Galeano

Penerjemah: wardah hafidz

Foto: medium.com

[RID/fiq]


Ia gembala di Thrace, serdadu di Roma, gladiator di Capua.


Ia budak yang melarikan diri dengan bersenjatakan pisau dapur.

Di kaki bukit Vesuvius ia membentuk pasukan budak pelarian yang dalam pengembaraan menjadi semakin kuat, dan akhirnya menjadi pasukan tentara. 


Di satu pagi, tujuhpuluh dua tahun sebelum masehi, Roma gemetar. warga Roma melihat orang2 Spartacus menatap mereka. saat fajar, tombak meremang di puncak2 perbukitan. dari sana, para budak mengincar kuil2 dan istana para ratu, penguasa dan pengatur dunia: begitu dekat, terjamah oleh mata mereka, tempat yang telah mengoyak nama dan memori mereka, dan mengubah mereka menjadi benda untuk dicambuk, diperjualbelikan, atau dihadiahkan.


Tidak pernah terjadi serangan. tidak pernah ditahu apakah Spartacus dan pasukannya telah sebegitu dekat, atau mereka sesungguhnya hanya momok yang diciptakan oleh rasa takut. karena ketika itu, di medan2 pertempuran para budak telah banyak mempermalukan pasukan penguasa. 


Perang gerilya membuat imperium tegang selama dua tahun. 
kemudian para pemberontak, dikepung di pegunungan Lucania, akhirnya dilibas oleh serdadu yang direkrut Roma di bawah pimpinan seorang perwira muda bernama Julius Caesar.


Ketika Spartacus tahu bahwa ia kalah, ia merapatkan tubuh ke kudanya, kepala rapat dengan kepala, keningnya menekan gombak pendampingnya di setiap pertempuran itu. ia tusukkan belati panjangnya dan disayatnya jantung kuda itu.


Hukuman penyaliban berlangsung di seluruh Via Appia dari mulai Capua sampai Roma.


Sumber Buku: Mirrors

Pengarang: Eduardo Galeano

Penerjemah: wardah hafidz

Sumber Foto: wikipedia

[RID/fiq]

© PT. Aliansi Rakyat Multimedia Indonesia 2021
crossmenuchevron-down